Mengenal (lebih dalam) Y-Anchor

Istilah Y-Achor sering kita dengar ketika seorang pembuat lintasan dalam sebuah penelusuran goa (riggingman) bermaksud membagi beban yang akan diterima oleh titik tambatan tali. Alasan lain seorang riggingman menentukan penggunaan Y-anchor adalah untuk menentukan titik jatuh tali agar timnya lebih mudah mengakses jalur ascending/descending, juga demi alasan keamanan seperti menjauhkan tali dari titik jatuhnya air jika sewaktu-waktu terjadi banjir. Pada alasan terakhir penulis pernah mengalami sendiri kontribusi Y-Anchor ketika terjebak banjir dalam sebuah penelusuran goa tahun 2000 silam di Sukabumi, Jawa Barat.

Y-Anchor-6

Y-Anchor digunakan untuk mempermudah akses menuju dasar goa (foto dok. ASC)

Pada perkembangan akhir-akhir ini, banyak kalangan mengira bahwa penggunaan Y-Anchor serta merta membagi beban yang akan diterima titik tambatan menjadi sama besar. Hal ini bisa saja benar namun bisa juga salah, karena ketika riggingman salah menempatkan sudut pembagian bisa jadi tujuan pembagian beban tersebut tidak akan tercapai. Atau justru malah berpotensi mencelakakan karena beban yang diterima masing-masing titik tambatan menjadi jauh lebih besar dari beban aslinya.

Untuk membagi beban, seorang riggingman biasanya akan menggunakan simpul yang memungkinkan tali memiliki tiga arah tarikan, dua arah tarikan pembagi dan satu arah tarikan beban utama. Jenis simpulnya beragam, namun secara umum ada fixed knot yaitu simpul yang tidak berubah ketika mendapat beban atau adjustable knot yaitu simpul yang bisa menyesuaikan diri ketika mendapat beban. Pada simpul terakhir biasa dikenal dengan istilah Self Equalizing Anchor (SEA).

Continue reading

Advertisements

Vandalis Itu Berkedok Penelusur Goa

Sebelumnya saya tidak menyadari bahwa foto karya Akhmad Zona Adiardi yang saya upload ke akun facebook beberapa waktu lalu merekam suatu hal yang penting untuk diperhatikan oleh penggiat speleologi. Saya baru sadar ada keganjilan dalam foto tersebut ketika ada seorang rekan memberikan komentar, bahwa tidak hanya aksi “narsis berjamaah” yang terekam, namun sebentuk gambar pola yang jelas adalah buatan manusia.

Gambar hasil karya vandalis di lokasi wisata minat khusus Goa Cokro terekam di sisi sebelah kanan (foto : Akhmad Zona Adiardi)

Dalam situasi biasa, gambar pola bukanlah suatu hal yang penting…namun coba kita perhatikan, di mana gambar pola tersebut berada. Gambar itu terlukis pada sebuah dinding goa yang sulit dijamah orang awam tanpa bantuan pemandu terlatih dan perlengkapan yang memadai. Gambar pola itu menutupi sejenis ornamen goa yang berasal dari keluarga flowstone, yang tentu saja terbentuk tidak dalam waktu yang singkat.

Continue reading