Melepas Hatusaka, Menyakitkan Namun Bijaksana

Menyaksikan tayangan “Mencari Goa Terdalam Di Pulau Seram” yang disiarkan Metro Tv (Sabtu, 10/09/2011) menjadi hiburan tersendiri bagi saya yang sekarang tinggal jauh dari goa. Ada kebanggaan melihat rekan-rekan acintyacunyata speleological club masih bergairah mencari lubang-lubang yang belum/jarang dijamah kelompok lain. Maklumlah, saat ini (jika boleh sedikit berbangga) klub ASC merupakan salah satu dari sedikit kelompok yang masih konsisten mengejar goa-goa perawan, merambah pulau demi pulau di Nusantara, menambah perbendaharaan data base goa di Indonesia.

Dalam tayangan berdurasi 30 menit (plus iklan komersial) itu, kita disuguhi bagaimana sulitnya mengakses goa di Pulau Seram. Gambaran ini sebenarnya bisa terjadi di mana saja, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT atau di belahan bumi mana pun goa selalu tersembunyi jauh dari peradaban manusia. Sayangnya, penelusuran goa Hatusaka (yang diperkirakan menjadi goa vertikal terdalam di Indonesia saat ini) berakhir ketika air bah tiba-tiba datang karena hujan yang mengguyur di permukaan. Sayangnya lagi, kita terlalu banyak disuguhi gambar-gambar dengan lensa standart, sehingga kita tidak bisa dengan utuh mengatahui bagaimana proses explorasi tersebut terhenti.

Saya yakin, menghentikan penelusuran Goa Hatusaka itu sangat menyakitkan bagi tim. Perjuangan menempuh ratusan kilometer dari Yogyakarta untuk menjadi tim Indonesia pertama yang menjejakkan kaki di dasar Goa Hatusaka pasti merupakan impian semua penjelajah goa sejati. Kenyataannya alam memang tidak dapat dilawan. Menghentikan segala aktivitas di goa dan menarik seluruh tim keluar ketika banjir datang adalah suatu hal yang bijaksana. Sekali lagi salut untuk rekan-rekan Ekspedisi Seram.

11 tahun silam, saya pernah merasakan dahsyatnya banjir di dalam goa. Seperti berada dalam hanggar pesawat saat mesin jet dihidupkan. Segalanya berjalan serba cepat dan penuh kepanikan. Air bah datang berwarna kecoklatan membawa batu dan kayu-kayu. Saya masih ingat bagaimana aceto, rangkaian pemantik nyala api yang tertanam kuat di helm petzl seorang teman jebol dihajar batu sebesar kepala orang dewasa. Ya…saat itu saya dan tiga orang rekan terpaksa bergantung bersamaan pada sebuah tali 11 milimeter, berusaha menyelamatkan diri agar tidak terseret arus air.

Kejadian ini berlangsung di goa vertikal yang “hanya” berkedalaman 18 meteran. Saya tidak mampu membayangkan jika hal itu terjadi di Hatusaka, konon goa dengan kedalaman 400 meter di bawah tanah. ¬†Penelusuran goa membutuhkan keberanian, bukan cuma untuk menjelajahi lorong gelap yang mengerikan, namun juga harus berani untuk menarik diri beserta seluruh tim untuk menghindari malapetaka yang lebih buruk. ¬†Sekali lagi selamat dan sukses untuk seluruh ekspedisi Speleologi Seram.¬†Kapan-kapan katong kesana lae…!!!

Salam Speleo!

Advertisements