Kabut Karst Karangcombong

Teks & Foto : A.B. Rodhial Falah

Karst Karangcombong tersembunyi dalam kabut di antara gugusan perbukitan vulkanik

Kereta jurusan Rangkasbitung yang saya tunggu akhirnya datang juga. Pagi itu tepat pukul 07.30 saya berangkat memenuhi undangan teman-teman penelusur goa Banten untuk berbagi pengetahuan tentang fotografi goa. KRL jurusan Rangkasbitung yang baru dioperasikan bulan Maret lalu melaju kencang, sesekali berhenti di stasiun-stasiun, menaikkan dan menurunkan penumpang. Sepanjang jalan saya terkagum-kagum melihat banyaknya pembangunan perumahan baru di areal-areal dekat stasiun kereta. Jakarta rupanya masih menjadi magnet bagi kaum urban, selama ada transportasi penghubung menuju Jakarta, perumahan-perumahan baru laris manis seperti kacang rebus. Continue reading

Advertisements

Mencintai Lingkungan Goa Melalui Media Fotografi

Goa Senen di Gunungkidul telah dibuka warga setempat untuk wisata minat khusus. Untuk memasuki goa ini diperlukan ketrampilan teknik meniti tali dan piranti keselamatan

Lingkungan goa yang berkembang di kawasan karst (bentang alam yang tersusun oleh proses pelarutan batugamping) telah sejak lama menarik perhatian manusia modern. Catatan paling awal yang dapat dilacak ulang mengenai penelitian goa adalah ketika John Beaumont (1650-1731) melakukan serangkaian penelitian goa-goa di Somerset-Inggris dalam kurun waktu 1676-1683. Beaumont melakukan pengukuran-pengukuran dan mendeskripsikan segala hal yang ia temui di dalam goa, kemudian membuat laporan dan menyerahkannya ke Royal Society, sebuah lembaga penelitian di negeri Inggris. ‚ÄčAktivitas Beaumont ini kemudian menginspirasi banyak orang seperti Johann Weikard von Valsavor (1641-1693) peneliti hidrologi goa pertama dari Slovenia, Joseph Anton Nagel (1717-1794) seorang ahli matematika dari Universitas Vienna yang pertama kali melakukan penghitungan umur goa, serta Alfred Eduard Martel (1859-1938) yang kemudian menjadi sosok fenonemal atas ketekunannya menjelajah dan membuat laporan-laporan tentang goa di Perancis dan Inggris. Martel sedikitnya telah menulis 19 buah buku dan puluhan artikel tentang goa yang diterbitkan berbagai majalah dan jurnal di masanya. Continue reading

Fotografi Goa dengan “Smartphone”

Berbincang sembari menikmati makan malam bersama rekan-rekan memang mengasyikkan. Seperti malam itu ketika saya duduk bersama para penelusur goa Acintyacunyata Speleological Club di sebuah warung makan ayam bakar di salah satu sudut Kota Yogyakarta. Para penelusur goa yang rata-rata berusia muda ini mencurahkan isi hatinya terkait ketertarikannya dengan fotografi goa namun terkendala dengan alat yang dimiliki. Saya antusias menyimak curhatan mereka sembari pikiran saya melayang pada beberapa tahun silam ketika saya juga memiliki masalah yang kurang lebih sama dengan mereka.

amazonas

Salah satu hasil ekperimen dengan kamera analog Yashica FX-3 (ISO 100, f-8, Bulb, focal length pada 24mm)


Continue reading

Melukis(lah) Dengan Cahaya

Fotografi telah berkembang sedemikian rupa, hanya satu yang tidak berubah dari dahulu, yakni konsep dasar bahwa fotografi adalah sebuah aktivitas melukis dengan cahaya. Perkembangan teknologi digital semakin mempermudah pekerjaan fotografi, meski demikian manusia sebagai pengambil keputusan di belakang kamera, masih menjadi bagian terpenting dalam setiap rangkaian proses penciptaan karya fotografi.

Pemotretan dengan menggunakan continous light video system

Pemotretan dengan menggunakan continous light video system

Continue reading

Dunia Di Bawah Sana (sebuah arsip lama)

Angker dan keramat……begitulah kesan kebanyakan orang terhadap gua, memang tidak salah apabila masyarakat beranggapan demikian, selain sebagai salah satu bentuk local wisdom akibat masih lekatnya nilai-nilai budaya dan kepercayaan nenek moyang, anggapan tersebut setidaknya turut menjaga gua dari tangan-tangan jahil manusia yang tidak bertanggungjawab.

Penelusur goa tengah mengarungi sungai di bawah tanah dengan menggunakan perahu karet

Continue reading