Fotografi Goa dengan “Smartphone”

Berbincang sembari menikmati makan malam bersama rekan-rekan memang mengasyikkan. Seperti malam itu ketika saya duduk bersama para penelusur goa Acintyacunyata Speleological Club di sebuah warung makan ayam bakar di salah satu sudut Kota Yogyakarta. Para penelusur goa yang rata-rata berusia muda ini mencurahkan isi hatinya terkait ketertarikannya dengan fotografi goa namun terkendala dengan alat yang dimiliki. Saya antusias menyimak curhatan mereka sembari pikiran saya melayang pada beberapa tahun silam ketika saya juga memiliki masalah yang kurang lebih sama dengan mereka.

amazonas

Salah satu hasil ekperimen dengan kamera analog Yashica FX-3 (ISO 100, f-8, Bulb, focal length pada 24mm)

16 tahun silam, saya dan beberapa orang rekan yang tertarik fotografi goa berkali-kali nyaris frustasi ketika rol demi rol negatif film selalu gagal merekam situasi goa dengan baik (maklum, era itu teknologi kamera digital masih sangat jauh dari jangkauan fisik dan finansial kami sebagai anak kos). Pun tidak banyak orang yang bisa kami ajak berdiskusi bagaimana menghadapi kendala-kendala pemotretan kala itu. Teknologi informasi masih sangat terbatas, sulit mendapatkan literatur tentang fotografi goa sehingga kami hanya mengandalkan metode “trial dan error“.

Mentor yang kala itu lebih dulu menekuni fotografi goa susah kami temui karena lebih banyak tinggal di luar kota, satu-satunya nasehat yang kami dapatkan kala itu dari beliau adalah “mencatat data teknis” setiap frame ketika shutter release kami tekan. Catatan itu kami gunakan sebagai acuan dalam pemotretan berikutnya. Namun situasi di dalam goa tidaklah sama. Bahkan dalam satu lokasi yang sama dengan teknik yang sama, hasil yang kita dapatkan bisa jadi berbeda ketika kita memotret di waktu yang berbeda. Banyak sekali parameter yang mempengaruhi seperti tingkat kelembaban, dominasi warna pada lorong goa, tim pendukung pemotretan dan sebagainya. Catatan data teknis itu pun tidak berfungsi secara maksimal

Saat ini, kendala-kendala teknis fotografi goa sudah jauh berkurang dengan pesatnya kemajuan teknologi. Bahkan dengan kamera yang tersemat pada ponsel pintar pun kita bisa merekam situasi di dalam goa dengan baik. Tidak harus dengan kamera DSLR. Dahulu, kami menggunakan kamera SLR dan kamera Compact karena hanya jenis-jenis kamera tersebut yang memiliki pengaturan pencahayaan secara manual. Sekarang, kamera ponsel bahkan memiliki beberapa fitur yang bisa kita “curi” untuk memotret di goa. Pada ponsel tertentu yang memiliki kamera resolusi tinggi hasil foto bahkan bisa kita cetak cukup besar sehingga layak untuk dipamerkan.

Pada suatu kesempatan saya pernah “menguji” ponsel dari salah satu pabrikan terkenal asal Korea. Kamera yang tersemat di dalamnya memiliki pengaturan manual baik ISO, kecepatan rana (shutter speed) dan diafragma (aperture). Tentu saja dengan opsi yang sangat terbatas. Untuk aperture misalnya, hanya memiliki dua pilihan untuk setiap shutter speed yang kita pilih. Sensor yang tertanam lumayan besar untuk ukuran ponsel yaitu 1/2.3 inch (6.17 x 4.5mm). Dalam pemotretan saya menggunakan senter LED (Light Emitting Diode) dengan kekuatan pancar 3800 lumens dipadu dengan electronik flash (lampu kilat) dengan Guide Number 48 (pada ISO 100 dan jarak 1 meter). Saya menggunakan tripod dan bracket untuk ponsel guna menjaga kamera stabil dalam pemotretan.

Hasilnya bisa dilihat seperti berikut :

Beberapa hal yang saya catat waktu itu adalah :

  1. Fotografer sebaiknya senantiasa menjaga kebersihan tangannya, ponsel dengan teknologi layar sentuh akan mengalami masalah ketika layar ponsel kotor oleh lumpur terutama dalam hal pencarian titik fokus dan pengukuran cahaya.
  2. Pembacaan White Balance sering mengalami kesalahan, hasilnya warna pada hasil foto cenderung lebih pucat dari warna aslinya, diperlukan sedikit koreksi warna paska pemotretan.
  3. Pada beberapa kondisi hasil pemotretan cenderung over exposure (kelebihan cahaya), sebaiknya fotografer menyiapkan diffuser untuk sumber cahaya yang digunakan untuk mengurangi kekuatan dan lebih melembutkan cahaya (mengingat terbatasnya opsi pengaturan exposure pada kamera ponsel)
  4. Kemas perangkat pemotretan anda dengan baik, kondisi goa sangat tidak bersahabat bagi ponsel pintar anda, meskipun anda menggunakan ponsel tahan air sebaiknya tetap lindungi piranti anda dari tajamnya bebatuan goa.
  5. Bekerjalah dalam tim, fotografi goa akan memperoleh hasil maksimal jika fotografer didukung oleh tim yang solid
  6. Jangan lupa berdoa!

Pada suapan potongan ayam bakar terakhir, saya menyarankan rekan-rekan untuk bereksperimen dengan peralatan yang mereka miliki. Saya melihat perangkat ponsel yang mereka sudah lebih dari cukup untuk melakukan pemotretan di goa. Selebihnya adalah terus berlatih dan berlatih….menciptakan karya setahap demi setahap. Siapa tahu karya kita yang sederhana suatu hari akan berguna. Karena suatu hal yang dilakukan dengan terus menerus dan dengan dilandasi  niat baik pasti tidak akan terbuang sia-sia, termasuk karya fotografi goa.

Teks dan Foto : A.B. Rodhial Falah (tim support pemotretan : Mirza Ahmad, Ryan Nurahdiana, Akhmad Zona Adiardi, Cahyo Rahmadi, Alex Atmadikara, Fredi Chandra, Hasbi Ash Siddiq). Foto-foto dan artikel serupa pernah dimuat di Exposure Magazine edisi 87 Oktober 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s