Malam di Tenda Perjuangan

Tenda Perjuangan2 Tenda itu tepat berada di tepi jalan jalur truk-truk yang hilir mudik nyaris 15 menit sekali. Malam hari yang gelap menyembunyikan debu-debu yang pasti beterbangan setelahnya atau saat itu alam sedang berbaik hati karena masih mengirimkan hujan yang membasahi tanah. Warga menyebut tenda itu sebagai Tenda Perjuangan. Berdiri dan dihuni selama hampir setahun, seumur dengan penegasan gerakan penolakan warga Kecamatan Gunem terhadap rencana pendirian pabrik semen di wilayah mereka.

Tenda Rembang

Tenda Perjuangan3

Di dalam tenda, ibu-ibu saling mengenang kisah-kisah perjuangan mereka. Tentang rasa takut yang begitu mencekam ketika pertama kali berhadapan dengan aparat keamanan bayaran perusahaan semen saat mereka memblokade jalan menolak pemancangan tiang pertama tapak pabrik. Tentang betapa lemahnya fisik mereka ketika bentrok fisik dengan para polisi berbadan kekar yang dengan mudah menumbangkan aksi mereka atau melempar mereka ke tepian jalan. Tentang bagaimana kaki-kaki telanjang mereka sobek dan terluka digilas sepatu-sepatu lars tentara yang pasti dibeli oleh uang rakyat seperti mereka. Ada juga cerita bagaimana polisi yang sering mengacung-ngacungkan senapan laras panjang dan berkata “kita tembak saja mereka”.

Tenda Perjuangan5

Dalam temaram lampu minyak tidak terlihat penyesalan atau wajah-wajah yang menyerah, bayangan masa depan anak cucu menjadi cambuk semangat yang sepertinya tak pernah padam. Malam itu, ketika saya duduk bersama mereka, bahkan Ibu-ibu ini masih sempat berbagi keprihatinan terhadap nasib Mary Jane, terpidana mati kasus narkoba asal Myanmar yang juga perempuan seperti mereka. Malam itu, tak sekali pun saya mendengar keluh kesah atau harapan bernada mengemis kepada para pemimpin pemerintahan yang telah “menindas” mereka selama ini.

Tenda Perjuangan4

tenda perjuangan6

Satu hal yang terdengar jelas dari obrolan Ibu-Ibu di tenda perjuangan malam itu, tanah, air dan hidup layak jauh dari ancaman rusaknya lingkungan adalah hak yang layak diperjuangkan. Bukan alasan untuk mengemis atau membungkuk-bungkukkan harga diri di depan pemilik modal dan pemilik kuasa. Sungguh sikap yang akan melahirkan rasa hormat bagi siapapun yang mendengarnya, karena rasa hormat tidak akan bisa diraih dengan banyaknya uang, pencitraan atau dengan menodongkan senjata.

Gunung Watuputih, 14 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s