Mengenal (lebih dalam) Y-Anchor

Istilah Y-Achor sering kita dengar ketika seorang pembuat lintasan dalam sebuah penelusuran goa (riggingman) bermaksud membagi beban yang akan diterima oleh titik tambatan tali. Alasan lain seorang riggingman menentukan penggunaan Y-anchor adalah untuk menentukan titik jatuh tali agar timnya lebih mudah mengakses jalur ascending/descending, juga demi alasan keamanan seperti menjauhkan tali dari titik jatuhnya air jika sewaktu-waktu terjadi banjir. Pada alasan terakhir penulis pernah mengalami sendiri kontribusi Y-Anchor ketika terjebak banjir dalam sebuah penelusuran goa tahun 2000 silam di Sukabumi, Jawa Barat.

Y-Anchor-6

Y-Anchor digunakan untuk mempermudah akses menuju dasar goa (foto dok. ASC)

Pada perkembangan akhir-akhir ini, banyak kalangan mengira bahwa penggunaan Y-Anchor serta merta membagi beban yang akan diterima titik tambatan menjadi sama besar. Hal ini bisa saja benar namun bisa juga salah, karena ketika riggingman salah menempatkan sudut pembagian bisa jadi tujuan pembagian beban tersebut tidak akan tercapai. Atau justru malah berpotensi mencelakakan karena beban yang diterima masing-masing titik tambatan menjadi jauh lebih besar dari beban aslinya.

Untuk membagi beban, seorang riggingman biasanya akan menggunakan simpul yang memungkinkan tali memiliki tiga arah tarikan, dua arah tarikan pembagi dan satu arah tarikan beban utama. Jenis simpulnya beragam, namun secara umum ada fixed knot yaitu simpul yang tidak berubah ketika mendapat beban atau adjustable knot yaitu simpul yang bisa menyesuaikan diri ketika mendapat beban. Pada simpul terakhir biasa dikenal dengan istilah Self Equalizing Anchor (SEA).

Baiklah mari kita lakukan analisa terhadap beberapa sudut tertentu untuk mengetahui prinsip kerja Y-Anchor sebenarnya.

Analisa gaya yang bekerja pada Y-Anchor

Gaya yang bekerja pada Y-Anchor adalah saling meniadakan sehingga terjadi kesetimbangan. Pada posisi setimbang maka resultan gaya adalah nol.

Y-Anchor-1

Setelah kita memahami prinsip dasar kerja Y-anchor mari kita coba hitung beberapa sudutnya :

Y-Anchor-2

Y-Anchor-3

Y-Anchor-4

Y-Anchor-5

Dari beberapa perhitungan di atas dapat kita simpulkan bahwa :

  • Beban pada Y-Anchor akan terbagi rata pada masing-masing titik tambatan jika besar sudut α1 = sudut α2

  • Besar sudut maksimum yang direkomendasikan untuk pembuatan Y-Anchor adalah 120°, karena pada sudut sebesar ini masing-masing titik tambatan akan menerima beban yang sama dengan beban sebenarnya.

  • Y-Anchor dengan sudut lebih besar dari 120° tidak direkomendasikan, karena beban akan yang diterima oleh masing-masing titik tambat akan lebih besar dari beban sebenarnya.

 Referensi :

  • Warild, A, 1990 “Vertical Second Edition”, The Speleology Research, Sydney

  • Falah, 2005 “Rigging”, Materi Diklat Speleologi, Acintyacunyata Speleologycal Club, Yogyakarta

Versi PDF dapat didownload di sini Y-Anchor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s