Melukis(lah) Dengan Cahaya

Fotografi telah berkembang sedemikian rupa, hanya satu yang tidak berubah dari dahulu, yakni konsep dasar bahwa fotografi adalah sebuah aktivitas melukis dengan cahaya. Perkembangan teknologi digital semakin mempermudah pekerjaan fotografi, meski demikian manusia sebagai pengambil keputusan di belakang kamera, masih menjadi bagian terpenting dalam setiap rangkaian proses penciptaan karya fotografi.

Pemotretan dengan menggunakan continous light video system

Pemotretan dengan menggunakan continous light video system

Di ruang gelap tanpa cahaya, seni melukis dengan cahaya menjadi semakin hidup denyutnya. Setiap fotografer yang sedang terlibat dengan proses pemotretan di kondisi yang demikian, merasakan detak-detak tersebut. Denyut tantangan menjadi semakin berlipat ketika ruang gelap bukan saja memiliki zona hitam yang kelam, namun menyuguhkan kesulitan lain bagi fotografer dan segenap peralatannya, kelembaban ekstrem…ancaman air dan lumpur, kandungan mineral kalsit yang menyelimuti ornamen goa, serta beberapa faktor yang selalu membuat perhitungan-perhitungan anda meleset. Fotografi yang demikian menantang ini ada di dunia penelusuran goa.

Di permukaan, segala sumber cahaya melimpah disediakan oleh matahari. Lampu-lampu penerang ruangan dan jalanan nyaris selalu ada di setiap tempat. Di dekat entrance goa, kita masih bisa memanfaatkan available light dari pendaran atau terobosan cahaya matahari. Di kedalaman goa, sumber cahaya harus disediakan sendiri oleh fotografer. Entah itu flash elektronik, cahaya karbit, nyala lilin, cahaya senter atau flashbulb. Semua sumber cahaya tersebut bisa kita manfaatkan secara terpisah atau kita manfaatkan semua.

Tentu saja setiap sumber cahaya memiliki karakter yang berbeda-beda. Flash elektronik seperti yang biasa digunakan fotografer pada umumnya, memiliki karakter yang keras dan durasi penyinaran yang sangat pendek. Hasilnya bisa kita bayangkan, obyek akan menjadi freeze dan kontras gambar akan menjadi tinggi. Flash elektronik memiliki temperatur warna lebih kurang 6000 derajat Kelvin. Pada setting White Balance (WB) daylight, kita akan mendapatkan efek kebiruan.

Mengkombinasikan cahaya dari lampu karbit sebagai mainlight dan elektronik flash untuk mendapatkan efek backlight

Penerangan berbahan bakar karbit dewasa ini semakin jarang digunakan. Selain tidak efisien dan relatif lebih mahal, penerangan jenis ini dituding oleh sebagian kalangan tidak konservatif. Beberapa kalangan meyakini, penerangan jenis ini berpotensi menaikkan temperatur ruang, menimbulkan polutan sisa pembakaran dan membuat hidung anda tak ubahnya seperti knalpot kendaraan bermotor. Untuk keperluan fotografi, saya pribadi menyukai jenis pencahayaan ini. Warna yang dihasilkan memberi kesan hangat dan mampu menyinari lorong goa lebih merata dibandingkan flash elekronik. Penerangan karbit memiliki temperatur warna berkisar 2400 derajat Kelvin, sehingga jika tidak hati-hati gambar anda akan didominasi warna kuning – merah.

Menggunakan flash elektronik tunggal sebagai cahaya utama

Cahaya lilin nyaris memberikan efek yang sama dengan efek penerangan karbit. Temperatur warna lebih rendah yang dimiliki lilin – sekitar 1400 derajat kelvin – akan memberikan efek merah hingga keemasan. Dalam kondisi tertentu, lilin tidak mampu menyala dengan baik di dalam goa, terutama ketika kita hendak memotret di lorong dengan kondisi oksigen yang minim. Nyala api yang cenderung tidak stabil juga akan menyulitkan anda memperoleh exposure yang tepat. Cahaya lilin jarang digunakan dalam pemotretan goa.

Available lighting dari mulut goa dipadukan dengan flash elektronik

Flashbulb merupakan sumber cahaya terbaik untuk fotografi goa. Selain memiliki kekuatan pancar yang tinggi (10.000 – 140.000 lumens), flashbulb memiliki durasi pancar yang lama dengan karakter cahaya mendekati cahaya matahari (temperatur warna 3500 – 5400 derajat Kelvin). Kelebihan ini memudahkan fotografer untuk menerapkan teknik-teknik fotografi seperti membuat efek motion pada aliran air. Fotografer juga lebih leluasa merekam lorong-lorong yang lebar. Kendalanya adalah selain mahal, flashbulb tidak lagi bisa didapatkan di Indonesia. Sumber cahaya yang bisa mendekati flashbulb adalah cahaya senter dengan kekuatan pancar/lumens yang tinggi. (Teks & Foto : A.B. Rodhial Falah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s