Lubang Itu Bernama Luweng Ombo

Kami berjalan berputar-putar menembus gelapnya malam. GPS handheld yang menjadi pemandu kami satu-satunya seolah tak berdaya membimbing kami menemukan titik tujuan, sebuah lubang yang menjadi pintu masuk ke lorong bawah tanah. Jalan setapak yang kami ikuti selalu tiba-tiba lenyap ditelan rimbunnya semak dan terjalnya lembah. Waktu menunjukkan pukul 18.45 WIB ketika akhirnya kami putuskan untuk beristirahat sejenak, sekedar menyeka keringat dan membasahi kerongkongan yang sudah mulai mengering.

Malam hari selalu merupakan waktu  yang buruk untuk memulai perjalanan dan melakukan orientasi medan di daerah perbukitan kapur, terutama ketika hendak menjelajahi goa baru yang belum pernah didatangi sebelumnya. Keterbatasan jarak pandang menjadi kendala yang cukup membuat tim mengerutkan kening meski telah membekali diri dengan peralatan navigasi lengkap. Namun, malam hari merupakan waktu yang cukup kompromis bagi penelusur goa dengan para penghuni goa semisal kelelawar, setidaknya kelelawar penghuni goa sedang pergi keluar mencari makan hingga menjelang pagi.

Hari itu kami terlambat memulai perjalanan, mulai dari menunggu lengkapnya personil tim hingga kesulitan mencari basecamp karena kesalahan informasi yang kami terima sejak awal. Setelah berkali-kali bertanya pada penduduk setempat, akhirnya rumah Pak Saguh yang menjadi tujuan basecamp kami temukan. Setelah berbicang sejenak dengan pemilik rumah, kami segera berbenah menyiapkan diri  untuk perjalanan sebenarnya. Hari menjelang magrib ketika kaki kami melangkah keluar basecamp.

“Sebaiknya tim kita bagi dua, dua orang menjaga perbekalan dan dua lagi bertugas mencari lokasi mulut goa”, kata saya pada ketiga rekan yang terlihat lelah karena masing-masing dari kami harus memanggul beban nyaris 20 kilogram dan berjalan naik turun bukit menembus lebatnya semak. Usul saya disetujui, Irfan dan Galang segera berangkat melanjutkan pencarian mulut goa tanpa beban, sementara saya dan Amar bertugas menjaga perbekalan. Selang 40 menit kemudian tim Irfan memberikan kabar melalui Walkie Talkie mulut Luweng Ombo telah ketemu, saya dan Amar bergegas mengangkut semua perbekalan menuju lokasi dengan dipandu tanda senter dari Irfan.

Mulut Luweng Ombo terletak di lereng sebuah bukit kapur. Jika tidak berputar-putar sebenarnya hanya membutuhkan 30 menit berjalan kaki dari kampung terdekat. Berupa lubang tegak dengan diameter 10 meteran yang terbentuk karena proses runtuhan. Untuk mengetahui berapa kedalaman luweng ini, kami melemparkan batu kedalamnya dan menghitung berapa detik batu yang kami lempar tadi membentur dasar goa. Dengan perhitungan sederhana kami memperkirakan Luweng Ombo memiliki kedalaman sekitar 20 meteran untuk pitch pertama. Kami berharap di bawahnya masih ada pitch-pitch berikutnya. Sungguh beruntung jika kami bisa menemukan sebuah sistem sungai bawah tanah. semoga….

Amar dibantu Galang sebagai asisten rigging segera memasang tambatan tali. Karakter batuan yang lepas-lepas membuat proses rigging memakan waktu yang cukup lama. “Rope Free…!!!” teriak Amar ketika ia sudah terbebas dari tali dan berlindung di sebuah ceruk di dasar sebuah teras. Batuan di goa ini mudah sekali rontok. terbukti ketika Galang turun berikutnya, serangkaian batu berjatuhan, suaranya berdentum menimbulkan gema yang cukup menciutkan nyali. Sementara saya dan Irfan sudah mulai sibuk mengambil data pengukuran untuk membuat peta goa. Waktu menunjukkan pukul 22.15 WIB ketika giliran saya tiba untuk descending menuruni goa.

Teras yang tempat berpijak kami ternyata merupakan bagian landai dari lantai goa yang miring lebih dari 45 derajat. Pengalaman saya mengatakan bahwa goa ini tidak akan memiliki lorong panjang. Tidak ada lagi gema atau fluktuasi udara yang saya rasakan setelah beberapa saat berada di teras. Namun kami perlu sekali lagi memasang tali untuk membuktikan apakah dugaan saya benar tentang goa ini. Maka satu persatu kami pun menuruni lereng terjal di depan kami, sambil masih terus berharap menemukan lorong berikutnya. Sesampai di ujung lantai pertama goa, ternyata kami masih harus menuruni sumuran vertikal lagi, namun hanya sedalam 5 meter. Dan benar, ternyata dasar sumuran ini adalah akhir dari perjalanan kami hari ini.

Waktu menunjukkan pukul 24.05 WIB, artinya kemungkinan besar kami akan menginap di dalam goa. Selain rasa mengantuk yang sudah menyerang, tubuh kami sudah terlalu lelah untuk kembali ke permukaan. Sambil menunggu kopi tersaji, saya menyempatkan diri memotret sepasang tulang yang tergolek diujung lorong. Seluruhnya telah terbalut mineral kalsit, namun masih bisa kami pastikan itu adalah sepasang tulang kaki manusia. Entah punya siapa, bisa jadi pencari walet yang terperosok atau orang lain. Di dasar goa, kami menjumpai batang bambu panjang yang dipasangi bilah-bilah sebagai pijakan kaki. Hmm…rupanya kami bukan orang pertama yang mengunjungi goa ini. Tentu saja hanya pencari walet yang memiliki nyali sebesar itu, menuruni lubang vertikal sedalam 30 meteran dengan tangga bambu tunggal yang disambung-sambung.

Di dasar goa, vegetasi cukup lebat. mengingatkan kami pada Goa Jomblang atau Luweng Ombo di Pacitan, namun Luweng Ombo yang kami turuni kali ini berukuran jauh lebih kecil dan tidak terhubung dengan lorong lain sebagaimana Goa Jomblang dan Luweng Ombo Pacitan. Menjelang dinihari kami merebahkan badan dan tertidur pulas, menunggu esok pagi untuk kembali ke permukaan.

(Teks dan Foto : A.B. Rodhial Falah, Tim Penelusur Goa : Irfanianto, Galang Hanindito, Amar – Investigasi Speleologi – Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta, Desember 2011)

5 responses to “Lubang Itu Bernama Luweng Ombo

  1. mantab mas Abe… Pengalaman yg menjadi guru…
    “Pengalaman saya mengatakan bahwa goa ini tidak akan memiliki lorong panjang. Tidak ada lagi gema atau fluktuasi udara yang saya rasakan setelah beberapa saat berada di teras.”

    -salam speleo-

  2. terimakasih Mas Sandhi…itu hanya intuisi, artinya bisa salah bisa benar. Untuk mengetahui benar tidaknya, kita tetap harus menambat tali dan menelusuri hingga ujung lorong.

    salam

  3. Pingback: 10 Destinasi Susur Gua di Jawa yang Layak untuk Dicoba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s