Wisata Mandiri Goa Pindul

Jika anda penelusur goa tulen, mungkin agak memicingkan mata ketika mendengar istilah “cave tubing“. Ya istilah ini memang populer baru-baru ini, mengacu pada sebuah kegiatan wisata menelusuri sungai bawah tanah dengan menggunakan ban dalam bekas. Barangkali istilah cave tubing dipopulerkan oleh sebuah biro perjalanan wisata dari Kota Belize, sebuah negara kecil di pesisir timur Amerika Tengah yang berbatasan dengan Meksiko (dulu bernama Honduras Britania), yang menawarkan paket wisata menjelajahi sungai bawah tanah (goa) dengan menggunakan rangkaian ban dalam bekas.

Ban bekas menjadi alat utama dalam kegiatan cave tubing seperti yang digunakan di Goa Pindul, Karangmojo, Gunungkidul.

Entah siapa yang membawanya, cave tubing kemudian mulai terdengar bergeliat di Gunungkidul yang memiliki banyak sungai bawah tanah awal 2007 lalu. Saya baru mencoba aktivitas ini awal 2011, ketika suatu hari mengunjungi Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul. Namanya Goa Pindul, satu bagian dari sebuah sistem sungai bawah tanah yang menembus beberapa bukit kapur di kawasan Karst Gunungkidul. Hebatnya, wisata ini murni dihidupkan oleh warga setempat, dikemas dalam sebuah paket perjalanan yang menyenangkan lengkap dengan suguhan-suguhan khas pedesaan.

Mengawali penelusuran dengan posisi duduk di atas ban bekas awalnya cukup merepotkan, karena saya harus membawa sendiri perlengkapan fotografi. Arus sungai yang relatif tenang mengharuskan saya mengayuh dengan kedua kaki, sementara tangan kanan memegang kamera dan tangan kiri memegang lampu kilat. Penyangga kaki tiga saya letakkan begitu saja dipangkuan. Saya iri melihat anggota rombongan lain yang dengan tenang bisa melaju dengan baik, sementara saya harus berjuang keras agar laju “bahtera nuh” saya tetap berada di jalur. Namun akhirnya saya bisa tersenyum, setelah menemukan teknik terbaik mengendarai bahtera bulat tersebut.

Dari sisi keindahan, Goa Pindul sebenarnya biasa saja, bahkan jika boleh menilai goa ini miskin ornamen. Tidak banyak yang bisa dilihat, selain beberapa stalaktit yang menggantung di atap goa, sebuah Pilar besar di tengah-tengah perjalanan dan bekas-bekas batas banjir ketika musim hujan datang. Namun atmosfir yang terbangun ketika menjelajah goa dengan cara seperti ini sungguh berbeda, saya diam-diam merasakan nikmatnya wisata unik ini. Teringat masa kecil dulu ketika menghanyutkan diri dengan menggunakan ban bekas di  Bengawan Solo , sungai yang membelah tempat kelahiran saya bersama kawan-kawan.

Ornamen stalaktit menggantung di atap goa, menjadi salah satu obyek menarik selama menelusuri sungai bawah tanah di Goa Pindul.

Lokasi di bawah cave window merupakan salah satu tempat favorit untuk beristrahat dan mengambil beberapa foto, namun potensi runtuhan batu menjadi ancaman yang bisa setiap saat terjadi.

Jarak tempuh cave tubing di Goa Pindul kurang lebih 300 meter, namun percayalah…mengayuh ban seperti teknik yang saya gunakan, rasa pegal di kaki dijamin baru hilang dua hari kemudian. Perjalanan menelusur sungai bawah tanah Goa Pindul berakhir di sebuah pintu keluar yang langsung berhadapan dengan Dam. Beberapa meter sebelum mulut keluar anda bisa melihat atap goa yang bolong (Cave Window) yang terbentuk karena runtuhnya atap goa. Hmm…tak terasa hampir satu jam saya habiskan di Goa Pindul. Sebelum pulang, semangkok bakso panas, teh rosella hangat dan beberapa makanan tradisional disuguhkan oleh warga setempat, mengembalikan kesegaran tubuh sebelum kembali ke Yogyakarta.

Jika anda berminat mencoba cave tubing di Goa Pindul, sebaiknya anda membawa perlengkapan tambahan seperti baju ganti, helm untuk mengamankan kepala anda,  lampu penerangan pribadi dan yang paling penting adalah hindari musim penghujan. Warga setempat telah terorganisasi dengan baik untuk memandu anda berwisata menelusuri sungai bawah tanah Goa Pindul. (Teks & Foto : A.B. Rodhial Falah)

3 responses to “Wisata Mandiri Goa Pindul

  1. Terimakasih telah berkunjung ke goa pindul Mas, goa pindul ini dulunya bekas untuk pelihara walet Mas, baru kemudian penduduk sekitar di bantu pemerintah mendayagunakan sebagai tempat wisata alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s