Telaga Ngingrong, Nasibmu Kini

Tiga dekade silam, sekelompok penjelajah goa dari British Cave Researh Assosiation (BCRA) menjadi manusia pertama yang menerangi lorong Goa Ngingrong. Tim yang dipimpin oleh Sir McDonald ini dipandu oleh Sudiyono (alm), seorang staff Proyek Penyediaan Air Baku (PPAB) Daerah Istimewa Yogyakarta. Kala itu, Departemen Pekerjaan Umum RI bekerjasama dengan Kerajaan Inggris untuk memetakan sistem hidrologi di wilayah cekungan Yogyakarta, khususnya wilayah Gunungkidul yang selalu dilanda krisis air setiap musim kemarau. Penjelahan goa tersebut melahirkan dua buah buku tebal berisi laporan tentang kondisi hidrologi Gunungkidul yang seluruhnya berupa sistem sungai bawah tanah.

Salah satu telaga di Goa Ngingrong mengalami penyusutan air secara drastis pada saat musim kemarau menjelang

Perjalanan Sudiyono bersama tim BCRA selama empat tahun ini yang menginspirasi kami untuk menjelajahi kembali Goa Ngingrong, sebuah goa yang terletak perbukitan batugamping Kecamatan Semanu, Gunungkidul. Berbekal informasi yang tertulis dalam laporan, kami pun berkemas, mempersiapkan segala sesuatu dalam perjalanan nanti. Meskipun bertahun-tahun kami telah berlatih teknik tali temali dan teknik penjelahan goa vertikal, kami masih menyempatkan diri untuk berlatih selama enam jam sehari sebelum penjelahan sebenarnya dimulai. Genangan dua telaga di dalam goa telah tergambar dalam benak kami yang tak sabar ingin segera menjumpainya.

Minggu pagi (03/07/2011) kami berempat beriring menuju Kota Wonosari yang berjarak 30 kilometer dari Kota Yogyakarta. Jalanan menanjak dan berkelok agak lengang waktu itu. Setidaknya kami harus menikung sebanyak 59 kali sebelum sampai Kota Wonosari, jumlah itu saya dapatkan ketika iseng menghitungnya beberapa tahun lalu. Sesampai di Kota Wonosari, Kami menyempatkan diri berbelanja logistik di salah satu mini market yang mulai menjamur di kota itu. Kami membutuhkan waktu dua jam dari Kota Yogyakarta hingga sampai di rumah salah satu penduduk dusun yang kami jadikan basecamp transit sebelum penjelajahan dimulai.

Harto Wiyono (60), pemilik rumah dengan senyum terkembang lebar menyambut kami seperti keluarga yang lama tidak bertemu. Suasana akrab yang sejak awal ditunjukkan tuan rumah membuat kami merasa seperti di rumah sendiri. Inilah keramahan khas warga pedesaan di Gunungkidul. Keramahan yang jarang kita jumpai di kota-kota besar. Sambil menikmati kentalnya teh manis suguhan tuan rumah, kami berkemas untuk terakhir kali sebelum berangkat menuju mulut goa. Tuan rumah, masih dengan senyumnya yang tersungging di bibir mengantarkan keberangkatan kami menuju mulut goa.

Menjelang tengah hari, kami akhirnya sampai di tepian lembah besar di Desa Mulo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Lembah ini terletak di tepi jalan penghubung Kota Wonosari –Kecamatan Jepitu yang terkenal dengan Pantai Wediombo-nya. Dasar lembah merupakan alur sungai periodik yang berakhir di mulut goa. Itulah mulut Goa Ngingrong yang di era tahun 70-an dijelajahi Sudiyono bersama tim Sir McDonald dari Kerajaan Inggris. Kami berjalan hati-hati menyusur tepian tebing curam, menuju mulut goa. Kami bisa membayangkan bagaimana jika kaki kami tergelincir dan jatuh ke dasar jurang di bawah sana.

Tubuh kami bermandi peluh ketika kaki kami mulai melangkah menuju zona teduh di bawah naungan atap mulut Goa Ngingrong. Puluhan stalaktit beragam ukuran menggantung sekitar 20 meteran di atas kepala kami. Sebagian masih berwarna putih bersih, sebagian lain mulai tampak kehijauan ditumbuhi lumut. Di lantai, pecahan batugamping mulai dari ukuran kerikil sampai bongkah besar berwarna putih bersih menjadi pertanda bahwa setiap musim hujan, alur ini selalu digerus air dalam jumlah besar. Namun kami tidak khawatir, saat ini adalah musim kemarau dan sudah sebulan lebih wilayah Gunungkidul tidak diguyur hujan. Alur yang kami lalui relatif aman dari ancaman air bah.

Setelah tenaga mulai pulih, kami melanjutkan perjalanan memasuki zona gelap abadi lorong Goa Ngingrong. Indera penglihatan kami perlahan telah beradaptasi dari tempat terang benderang menuju gelap total. Dibantu nyala lampu karbit dan headlamp, kami berjalan perlahan. Suara decit puluhan kelelawar dan tetesan air dari ujung stalaktit membentuk harmoni mengiringi langkah kaki kami. Goa Ngingrong memiliki dimensi lorong yang cukup mengagumkan dibandingkan goa-goa lain di wilayah Gunungkidul. Kami memperkirakan goa ini memiliki atap setinggi 25 meter dan lorong selebar 8 meter. Cukup untuk dimasuki truk pengangkut peti kemas beroda 16.

Setelah berjalan menyusur lorong horizontal sejauh 300 meter, kami segera dihadang medan terjal dengan kemiringan nyaris 90 derajat. Dasar lorong tidak kelihatan, penglihatan kami terhalang dinding lorong yang menikung ke kiri. Dua orang anggota tim segera bertindak memasang lintasan tali kernmantel, tali khusus yang diperuntukkan untuk kegiatan susur goa dan panjat tebing. Tak berapa lama kemudian pimpinan tim, dengan memanfaatkan Single Rope Technique (teknik meniti tali tunggal) menuruni lorong vertikal di depan kami. “Rope free….!!!” teriak leader memberi tanda bahwa orang berikutnya sudah aman untuk turun. Kami, secara bergantian turun menuju lorong tingkat kedua.

Sesampai di dasar lorong kedua, kami baru bisa menaksir medan terjal yang kami lalui kurang lebih setinggi 17 meter. Kami tidak berlama-lama berkutat dengan hitungan ketinggian, karena seketika itu juga kami terpesona oleh bentangan telaga pertama yang tercantum di laporan tim McDonald. Kami tidak perlu berenang untuk menyeberangi telaga ini, karena bagian terdalamnya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Masih terlihat jejak-jejak bahwa telaga ini dulunya pernah terisi penuh. Saya jadi teringat keterangan tim yang pernah memasuki goa ini. Di musim kemarau, lima tahun lalu, untuk menyeberangi telaga pertama di Goa Ngingrong membutuhkan keahlian berenang.

Rasa penasaran mengusik hati kami. Kami khawatir telaga berikutnya mengalami nasib serupa. Tak membutuhkan waktu lama, setelah memasang instalasi tali pengaman, kami segera menuruni lorong vertikal berikutnya. Ahh…lega rasanya melihat telaga kedua masih utuh seperti yang dideskripsikan McDonald. Inilah telaga kedua yang kami jumpai di Goa Ngingrong. Bentuknya hampir membulat, dibatasi dinding goa yang menjulang tinggi di kiri dan kanan. Diameter telaga ini kurang lebih 12 meter. Kami tidak mengetahui pasti berapa kedalaman telaga ini. Pandangan kami langsung terpaku pada seekor ikan sepanjang 60 sentimeter yang berwarna putih albino.

Kami bisa memastikan ikan yang berenang lenggak-lenggok ini dari jenis Catfish dari sungutnya yang memanjang ke kanan dan kiri di atas mulutnya. Ia seperti tidak peduli akan kehadiran kami. Kami langsung memahami ternyata matanya berbeda dengan kebanyakan ikan di luar sana. Ada semacam selaput yang menutupinya, barangkali juga ia buta setelah sekian lama terjebak di dalam goa. Saya pun berusaha memotretnya, namun berulang kali shutter saya lepaskan, tak satupun gambar ikan itu terekam di kamera saya. Bukan karena mistis, namun pencahayaan yang sangat minim tidak mampu merekam ikan yang terus berenang kesana-kemari. Saya pun putus asa.

Keinginan untuk menuruni lorong berikutnya pupus ketika kami menyadari bahwa tali persediaan telah habis. Kebetulan jam di tangan kami menunjukkan waktu sudah mendekati pukul 20.00 WIB. Artinya kami harus bergegas keluar, karena toleransi waktu penelusuran hampir habis. Sebelum berangkat ke goa, kami berpesan pada tuan rumah basecamp untuk menghubungi pihak berwajib jika sampai pukul 22.00 WIB kami belum keluar goa. Itu adalah tradisi kami untuk berjaga-jaga pada kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi di setiap kegiatan penjelajahan goa.

Perlahan secara bergantian kami meniti tali ke atas dan bergerak keluar. Kami bersyukur, perjalanan kali ini berjalan lancar. Hanya tubuh kami yang terasa dingin dan sedikit penat setelah seharian beraktivitas di tempat yang lembab dan berair. Satu pertanyaan masih mengusik pikiran kami, apakah yang menyebabkan telaga pertama di Goa Ngingrong menyusut sedemikian drastis. Apakah karena perubahan bentuk lahan dipermukaan yang kian gersang tanpa tanaman pelindung? Ataukah karena sebab lain. Kami masih belum bisa menjawab pertanyaan itu hingga senyum ramah Harto Wiyono, si pemilik rumah menyambut kami.

Sambil berkemas, kami mendengarkan cerita Harto Wiyono bertahun silam, ketika Goa Ngingrong masih menjadi tumpuan terakhir warga dusun memenuhi kebutuhan air di saat musim kemarau datang. Lelaki delapan cucu itu menuturkan ketika telaga sudah mulai mengering dan persediaan air tampungan hujan mulai habis, warga dusun pergi ke dalam Goa (Ngingrong) untuk mengambil air. Harto Wiyono hanya menggeleng lemah ketika kami tanya apa kiranya penyebab air telaga Goa Ngingrong menyusut.

Duh, betapa miris kami membayangkan telaga-telaga indah itu lenyap suatu hari nanti. Kami hanya berharap, pemerintah tidak berpangku tangan mengahadapi degradasi lahan karena ulah penggundulan hutan dan penambangan batugamping yang masih terus terjadi di pelosok Gunungkidul. Dampaknya mungkin tidak terlihat langsung di permukaan, namun bisa nyata terlihat di bawah permukaan, seperti di dalam Goa Ngingrong (Teks dan foto oleh Rodhial Falah)

3 responses to “Telaga Ngingrong, Nasibmu Kini

  1. Luar biasa…suatu penghargaan bagi kami keluarga Sudijono (Alm) perjuangan almarhum Bapak kami bisa dilanjutkan oleh kawan2 pecinta caving suatu kehormatan juga bila nanti saya bisa diajak juga untuk menjelajah Goa bawah tanah untuk napak tilas Alm. Sudijono yg tercatat sudah masuk kurang lebih 340 goa yang ada di kawasan Gunungkidul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s