Speleogenesa Umum Goa-Goa Di Tuban

Salah satu ornamen jenis flowstone yang dijumpai di Goa Lowo Tuban, Jawa Timur

Secara umum, gua-gua di area karst Tuban terbentuk pada masa phreatik. Pembentukannya berlangsung ketika masih berada di bawah waterlevel. Interpretasi ini diperoleh dari pengamatan secara visual, di mana hampir keseluruhan lorong gua yang ditelusuri selama penelitian merupakan gua dengan lorong yang bercabang-cabang dan saling terhubung satu dengan yang lain. Bentuk-bentuk percabangannya sangat tidak teratur. Tidak seperti pola-pola percabangan yang dibentuk oleh aliran permukaan. Selain itu, permukaan dinding gua relatif halus. Scallops, cekungan- cekungan kecil hasil pelarutan yang terbentuk pada batugamping, penciri khas pelarutan oleh aliran permukaan tidak ditemui.

Asal usul pembentukan gua-gua di karst Tuban dapat direkonstruksi dengan menggunakan pendekatan teori phreatik dangkal oleh White (1988) dan konsep konduktivitas hidraulik oleh Fetter (1980). Hal ini dimungkinkan karena lokasi penelitian cukup memenuhi syarat, yakni batugamping dengan kemiringan bidang perlapisan relatif datar serta morfologi permukaan yang juga relatif datar. Zona-zona depresi (dolina) dan alur-alur permukaan tidak dijumpai di area penelitian.

Pembentukan gua di daerah penelitian dikontrol oleh 2 hal, yaitu bidang perlapisan dan retakan-retakan (kekar) pada batugamping. Lorong-lorong yang terbentuk masih berupa chanel-chanel berukuran mikro yang berada di bawah waterlevel. Chanel- channel ini terletak pada zona jenuh air, dimana air yang selalu bergerak dinamis dalam media impermeable menuju titik-titik keluaran/sumber-sumber air secara terus menerus.

Kondisi permukaan yang masih tertutup soil tebal dan rimbun oleh pepohonan menyebabkan air yang berada dibawah waterlevel selalu terkontaminasi oleh larutan asam karbonat. Larutan asam ini berasal dari reaksi air dengan karbondioksida di atmosfir serta pembusukan tanaman diatasnya. Larutan asam akan memecah mineral kalsit yang keras menjadi ion-ion yang soluble. Namun, proses ini berjalan sangat lambat, karena asam karbonat merupakan asam lemah walaupun pada tingkat konsentrasi tertinggi.

Tenaga endogen yang bekerja selama proses pelarutan berlangsung, seperti pelipatan batuan, peristiwa naik dan turunnya muka bumi memacu pergerakan air dalam mikrochannel lebih cepat, sehingga daya larut yang dimiliki naik seiring naiknya nilai percepatan gerak air.

Menurut Moore & Sullivan, ketika salah satu mikrochannel mencapai diameter 5 mm, ia akan mengambil alih semua aliran mikro yang ada di sekitarnya. Diameter 5 mm ini merupakan awal terbentuknya aliran turbulen, sehingga daya larut asam terhadap mineral kalsitmeningkat jauh lebih cepat dan efektif. Mikrochannel ini selanjutnya terbentuk sebagai lorong utama gua.

Setelah lorong utama terbentuk, mikrochannel lain juga terus berkembang mengikuti pola retakan dan bidang perlapisan yang ada, dengan laju pembentukan yang jauh lebih lambat dari lorong utama. Pola retakan yang acak dan kadang bertemu satu sama lain menghasilkan bentukan lorong yang saling terhubung.

Perubahan iklim dan penggundulan permukaan membuat waterlevel semakin turun dari waktu ke waktu. Lorong-lorong gua mulai terisi oleh udara. Proses korosi mulai berlangsung. Pada beberapa bagian, zona-zona terlemah pada atap gua mulai runtuh membentuk chamber-chamber.

Gua vertikal terbentuk karena runtuhan atap gua yang mengalami perlemahan. Bentuk vertikal dalam hal ini hanya pada masalah akses masuknya, bukan bentuk asal lorong guanya. Namun, kesimpulan ini belum dapat mewakili keseluruhan gua yang ada di karst Tuban, karena hanya didasarkan pada gua-gua yang dikunjungi selama penelitian.

Sedimen gua hasil suplai larutan karbonat dari permukaan masih memiliki intensitas yang cukup besar. Hal ini terlihat dari perkembangan berbagai bentuk ornamen yang dimiliki oleh gua-gua di Tuban. Sedimen gua/ornamen berkembang mengikuti pola-pola retakan yang ada di atap maupun dinding gua.

Larutan asam dari permukaan masuk melalui retakan dan melarutkan mineral kalsit yang dilaluinya menjadi larutan karbonat. Pada ujung retakan, larutan karbonat diendapkan sebagian, sementara sebagian lain jatuh dan mengendap di bawahnya. Proses ini berulang selama ribuan tahun membentuk beragam stalaktit dan stalagmit.

Pada dinding gua, retakan horizontal membentuk gourdyn dan canopy, sementara pola retakan vertikal membentuk ornamen draperies. Perkembangan lebih lanjut dari sedimentasi ini membentuk column dan pilar-pilar.

Sedimen hasil bentukan aliran seperti raimstone hampir tidak dijumpai pada daerah penelitian. Hal ini disebabkan tidak adanya aliran sungai pada gua-gua yang diteliti selain gua Ngerong-Rengel. Gours yang terbentuk hanya pada badan stalakmit yang secara kontinu menerima suplai tetesan air dari stalaktit diatasnya serta gours yang terbentuk pada genangan-genangan air perkolasi.

Diperkirakan pernah terjadi peristiwa geologi (gempa) dalam skala besar setelah berlangsungnya pembentukan lorong dan ornamen gua. Hal ini didasari oleh temuan di beberapa gua di daerah Nglirip yang porak poranda. Stalaktit besar yang jatuh dari atap, pilar-pilar terpotong dan jatuh bertumbangan serta runtuhan beberapa bagian dinding gua dalam dimensi yang relatif besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s