Cerita Anak Gunung Kapur Grobogan

Cerita dusun Guwo rupanya tidak hanya tentang kekeringan yang terjadi setiap tahun di musim kemarau. Ini adalah cerita tentang indahnya cita-cita yang masih bungkam, harapan anak-anak yang tumbuh di lingkungan keras bercadas.

Perbukitan kapur memiliki kesan tandus ketika musim kemarau menjelang

Sebut saja Andika Puja (3), setiap pagi ibunya mendandani bocah kecil ini dengan pakaian selayaknya anak yang hendak pergi ke taman kanak-kanak atau playgroup. Namun, Puja kecil tidak pernah pergi ke tempat seharusnya ia bisa bemain atau bernyanyi sebagaimana anak seusianya di daerah lain. Darmi (28), ibu Puja yang petani membawanya ke ladang, tempat di mana ia bekerja setiap hari, sementara Puja akan berteman dengan rumput, tanah serta dedaunan.

Dalam diam, Puja kecil mulai tenggelam dalam dunianya, barangkali ia merasa nyaman ketika butir-butir tanah menghiasi jemari mungilnya, atau ketika rumput menggelitik ujung-ujung telapak kakinya. Puja yang belum fasih menyeka ingus mungkin tidak menyadari, di luar sana teman-teman kecilnya bermain riang ria, fasih menyanyikan lagu-lagu anak atau bahkan telah menghapal istilah-istilah bahasa asing.

Ketika sosok asing mendekatinya, Puja bergegas berdiri dan mencoba berlari mencari perlindungan pada sebatang pohon yang bahkan tidak mampu menyembunyikan tubuhnya yang mungil. Ia hanya menatap, tersirat rasa takut di wajahnya. Sekilas matanya menatap punggung ibunya yang tengah menyabit rumput beberapa langkah dari tempatnya berdiri, berusaha mencari perlindungan lain. Matanya yang mulai tergenang air kembali menatap sosok asing yang baru dilihatnya hari itu, namun ia tak menangis.

Puja kecil tidak sendiri, di dusun Guwo masih ada 53 bocah lain. Menghabiskan waktu, menunggu usia enam tahun di jalan-jalan kampung atau di teras-teras rumah orangtua mereka. Pada usia enam tahun kelak, jika beruntung bocah-bocah ini akan segera memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar. Usia enam tahun mereka akan segera mengenal huruf, angka, bangku-bangku yang berderet, guru yang berdiri di depan kelas, seragam putih merah serta upacara bendera yang sebelumnya tidak pernah terlintas di benak mereka.

Dusun Guwo yang terletak di salah satu puncak perbukitan kapur Pegunungan Kendeng ini memang belum memiliki institusi pendidikan buat anak-anak usia pra sekolah (sejenis TK atau playgroup). Orang tua yang mayoritas lulusan SD atau SMP belum sempat memikirkan kebutuhan pendidikan usia dini buat anak-anak mereka. Memikirkan kebutuhan hidup yang lebih vital menyita sebagian besar pola pikir para orangtua ini, terlebih jika musim kemarau menjelang.

Satu-satunya institusi pendidikan yang ada di dusun Guwo adalah SD Kemadoh Batur 03. Sekolah ini selain menampung anak-anak dusun Guwo juga menampung anak-anak dari tiga dusun lain dari kabupaten Pati yang ada di sebelahnya. SD Kemadoh Batur 03 memang terletak di perbatasan kabupaten Grobogan-Pati. Namun, keberadaan sekolah ini belum mampu menyentuh pendidikan anak usia pra sekolah. Gagasan untuk membentuk playgroup sempat menyeruak di beberapa benak tenaga pengajar yang seluruhnya berasal dari luar daerah, namun sebatas angan-angan saja.

Kami kesulitan untuk memulainya, kecuali ada yang bersedia menjembatani kami dengan warga dusun Guwo,” kata Suharno,Spd (56) kepala sekolah SD Kemadoh Batur 03 ketika ditemui di ruangannya. Suharno menambahkan, efek tidak adanya pendidikan untuk anak usia pra sekolah terlihat saat menghadapi anak-anak kelas satu. Menurut Suharno, anak-anak ini sangat lambat beradaptasi dengan kehidupan sekolah, begitu pula dengan proses belajarnya.

Warga dusun Guwo sebenarnya tidak asing dengan pendidikan anak usia dini, mereka mengetahuinya dari koran dan televisi, juga dari cerita orang-orang pusat desa. Keinginan beberapa ibu untuk menyekolahkan anak-anak mereka harus pupus karena jauhnya letak TK atau playgroup yang ada di pusat desa. Dusun Guwo memang terisolasi karena letak geografisnya yang ada di ketinggian, tidak ada sarana transportasi umum menuju tempat ini. Jalanan menuju dusun Guwo rusak parah dan jauh dari perhatian pemerintah setempat.

Seperti pagi itu, selain Puja puluhan anak-anak warga dusun Guwo usia 2 – 5 tahun terlihat memenuhi jalan-jalan dusun. Ada diantara mereka yang memaksakan diri untuk berangkat ke TK di pusat desa, dan harus menempuh perjalanan jauh naik turun bukit. Selebihnya menunggu harapan mereka tidak bungkam lagi suatu hari nanti (A.B. Rodhial Falah)

One response to “Cerita Anak Gunung Kapur Grobogan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s