Asal Usul Goa (3)

Perkembangan Lorong Gua

Tingkat pergerakan air secara horizontal pada sebuah retakan kecil pada batuan di bawah water table biasanya kurang dari 10 meter tiap tahunnya. Sedangkan pada saluran air dalam gua rata-rata ± 0,2 kilometer/jam. Awalnya air tersebut bergerak turun melalui celah-celah batuan menuju watertable, kemudian terkumpul pada kekar-kekar dan celah perlapisan dibawah watertable, dan akhirnya bergerak melalui batugamping menuju titik-titik pengeluaran pada sumber air. Ketika retakan-retakan tersebut berukuran kecil, air yang melewatinya mengendapkan kalsit yang dengan segera memenuhi/menutup celah-celah tersebut sehingga proses/tahap pelarutannya berjalan sangat lambat. Selama periode ini berlangsung, pelengkungan batuan oleh pengangkatan dan penurunan muka bumi kemungkinan membantu memompa air di sepanjang retakan tersebut. Asam yang terbentuk oleh oksidasi mineral sulfida pada batugamping, kemungkinan semakin mempercepat proses pelarutan insitu dan hal ini layak di pertimbangkan sebagai faktor yang sangat berpengaruh pada kedalaman dibawah watertable.

Pada awalnya, laju alir pada setiap kekar memiliki nilai yang sama, namun ternyata beberapa channel berkembang lebih cepat daripada yang lainnya. Hal tersebut di karenakan channel-channel tersebut menerima aliran air lebih banyak, sehingga berkembang dengan cepat. Ketika sebuah channel mencapai ukuran diameter ± 5 mm, maka selanjutnya dia akan mengambil alih hampir semua aliran air dari channel-channel di sekitarnya, yang berdiameter lebih kecil, sehingga memacu perkembangannya jauh lebih cepat.

Belum dapat di ketahui dengan pasti, mengapa diameter ± 5 mm merupakan titik kritis dari perkembangan lorong-lorong gua. Satu alasan yang memungkinkan adalah diameter ini (5 mm) merupakan diameter minimal suatu aliran dalam sebuah channel untuk menjadi turbulen. Ketika air sudah cukup jenuh, gerakan turbulen dalam channel pada batugamping menghasilkan tenaga pelarutan yang besar dan effektive, sebagaimana kita melaruikan gula dengan cara mengaduknya. Pelarutan oleh air jenuh ini berlangsung konstan sampai kontak dengan batuan yang lebih solid.

William B. White telah menulis bahwa pertemuan antara air jenuh dengan mineral kalsit, merupakan perpaduan yang luar biasa dalam meningkatkan pelarutan yang terjadi pada zona saturasi. Air yang sedikit jenuh akan melarutkan kalsit dengan sangat perlahan, dimana air yang lebih jenuh jusrtru dengan jumlah sedikit saja akan lebih cepat melarutkan kalsit tersebut. Penelitian White meyakinkan bahwa titik kritis kejenuhan air akan tercapai ketika sebuah saluran menacapai diameter 5 mm, diameter yang sama dengan awal terbentuknya turbulensi. Ketika 2 faktor ini mempengaruhi suatu channel-titik kritis kejenuhan dan titik awal turbulensi- maka channel tersebut akan segera merampas aliran pada channel-channel disekitarnya. Kemudian dengan cepat akan berkembang menjadi lorong-lorong gua, dan channels-channel tetangga lainnya tidak akan pernah mencapai diameter lebih dari 5 mm.

Asal Usul Gua di atas Zona Jenuh

Walaupun karakteristik pola jaringan dan sangat jarangnya keterdapatan scallops pada dinding gua menunjukkan bahwa kebenyakan gua terbentuk oleh gerakan perlahan air di bawah watertable, kenyataan dilapangan menunjukkan ada beberapa gua yang terbentuk tidak berdasarkan atas type ini. Namun, pengamatan lain-pada beberapa lorong gua horizontal- mengatakan bahwa watertable secara horizontal mungkin memiliki pengaruh pada asal usul gua..

Pada gua-gua dimana lapisan batugamping memiliki kedudukan horizontal, hal ini sudah merupan alasan yang kuat dalam menjelaskan tingkat kedataran lorong-lorongnya. Namun bagaimana dengan gua yang memiliki lorong horizontal sementara kedudukan lapisan batuannya memiliki kemiringan. Lebih jauh lagi, penelitian baru-baru ini, pada sistem perguaan yang sangat besar pada batugamping didekat flat-lying, dimana para ahli speleologi sebelumnya berpikir bahwa perkembangan lorong gua akan selalu mengikuti bidang perlapisan yang paling lemah, disini memperlihatkan perkembangan lorongnya justru memotong bedding (bidang perlapisan). Lorong ini di duga di kontrol oleh suatu bidang horizontal yang tidak paralel dengan bedding. Dengan melihat bukti ini, para peneliti modern sepakat bahwa kebanyakan gua batugamping telah terbentuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s