Asal Usul Goa (2)

Hingga abad ini, kebanyakan ilmuwan beranggapan bahwa gua terbentuk oleh aliran air bawah tanah, sebagaimana pembentukan lembah oleh aliran-aliran di permukaan.

Namun, anggapan ini dibantah dengan pendapat yang di kemukakan oleh Alfred Grund, ahli geologi dari Austria dan WM.Davis, ahli geologi dari Amerika. Mereka menunjukkan bahwa bentuk lorong gua tidak sesuai dengan lorong yang terbentuk oleh gerusan (downcutting) aliran air.

Lorong gua biasanya berbentuk jaringan, sehingga peta sebuah gua sering terlihat seperti peta sebuah kota dengan banyak persimpangan jalan. Dengan penampakan seperti itu, sungguh berbeda dengan apa yang di bentuk oleh aliran permukaan. Dimana pola yang terbentuk adalah penggabungan beberapa anak sungai pada arus utama sehingga menyerupai pohon yang bercabang.

Sekarang ilmuwan percaya, bahwa hampir semua gua dibentuk secara perlahan oleh gerakan air pada suatu zona dibawah water table, yang merupakan level paling bawah dimana batuan jenuh oleh air (saturated zone).

Bukti kedua yang membantah bahwa gua dibentuk oleh sungai bawah tanah adalah dinding gua yang terbentuk umumnya memiliki permukaan halus atau permukaan yang berombak lembut.

Bidang yang tergerus oleh aliran air yang cepat/deras pada batugamping tidak pernah membentuk permukaan yang halus. Hal ini dapat dijumpai pada aliran permukaan pada batugamping, maupun ketika aliran tersebut masuk pada suatu gua yang telah ada sebelumnya. Bidang tersebut akan selalu berbintik-bintik oleh kantong-kantong solusi kecil (small solution pocket) yang disebut sebagai scallops.

Scallops ini merupakan sebuah lekukan-lekukan khusus yang biasanya memiliki ukuran diameter beberapa cm sampai 1 meter. Scallops ini memiliki kemiringan yang curam pada sisi upstream dan landai pada sisi downstream. Oleh karena itu scallops kadang dapat bermanfaat dalam menentukan arah aliran masa lalu pada suatu gua, walaupun biasanya scallops hanyalah merupakan bagian yang kecil dari suatu sistem gua, bahakan terkadang tidak di jumpai sama sekali.

Ketika scallops di jumpai, maka scallops itu pasti terbentuk oleh arus yang menembus kemudian setelah gua tersebut terbentuk, keberadaannya pasti dekat dengan lantai. Sangat jarangnya scallops di jumpai pada kebanyakan gua semakin menguatkan pendapat bahwa gua tidak terbentuk oleh aktivitas sungai bawah tanah, tetapi oleh gerakan perlahan air pada zona dibawah water table.

Distribusi Lorong Gua

Di mana ada lapisan batugamping yang interbedded dengan batuan yang tidak terlarutkan (insoluble rock), maka lorong gua hanya akan ada didalam batugamping tersebut. Jika lapisan batugamping tersebut tipis, hal tersebut memungkinkan untuk memperkirakan arah lorong gua yang sebelumnya tidak di temukan sehingga dapat di temukan. Disamping distribusi yang disebabkan oleh sifat larut batugamping, ada 2 faktor lain yang mengontrol distribusi lorong gua, yaitu rekahan/retakan vertikal dan retakan horizontal yang terdapat pada batugamping, serta water table, yang menentukan tingkat kedataran pada pembentukan lorong horizontal dan banyaknya lorong gua yang akan terbentuk.

Rekahan/retakan pada batugamping dapat dibedakan menjadi 3 jenis,

  • Partings (perlapisan), paralel dengan bidang perlapisan.

  • Faults ( sesar), patahan pada bedding yang telah mengalami pergeseran.

  • Joint (kekar), patahan pada bedding yang belum/tidak mengalami pergeseran.

Partings, biasanya di ikuti oleh lapisan tipis (sisipan) silt atau clay yang terendapkan bersama dengan batugamping.

Sesar (faults) disebabkan oleh tenaga endogen/tektonik yang melipat batugamping sehingga mengalami pematahan.

Kekar (joints) terjadi baik pada batuan yang terlipat maupun tidak terlipat. Kekar –kekar tersebut di duga disebabkan oleh pengangkatan dan penurunan lempeng-lempeng bumi, yang menyebabkan batuan menjadi lemah dan melengkung. Pengangkatan maupun penurunan ini sama halnya dengan pasang surut air laut yang di sebabkan oleh gaya gravitasi matahari dan bulan. Pengangkatan dan penurunan bumi tersebut rata-rata hanya berkisar 30 cm dan menghasilkan retakan-retakan yang sama seperti ketika sepotong besi di bengkokan kedepan dan belakang secara berulang-ulang. Kekar-kekar tersebut boleh jadi membutuhkan waktu ribuan tahun dalam pembentukannya, karena pengangkatan dan penurunan yang melengkungkan hanya terjadi 2 kali sehari, dan pergeseran pada masing-masing kekar tersebut sangatlah kecil.

Dari ketiga macam rekahan tersebut, sesar merupakan hal yang paling sedikit memiliki peran dalam speleologi. Karena hampir di setiap daerah perguaan sesar-sesar tersebut sangat jarang di temui. Bentuk-bentuk lorong gua terutama dikontrol oleh kekar dan perlapisan yang terjadi sedikitnya setiap meter pada lapisan batugamping. Ketika lapisan batugamping memiliki posisi horizontal, peta dari gua tersebut seringkali menunjukkan lorong-lorong yang mengikuti 2 rangkaian kekar yang saling memotong satu sama lain ± 90º. Dan ketika lapisan batugamping tersebut di miringkan sehingga memiliki kemiringan sedemikian rupa, maka lorong utama gua umumnya akan berkembang sesuai arah jurusnya, arah garis perkembangannya akan memotong bidang horizontal dari lapisan batugamping tersebut, dan lorong-lorong cabang akan berkembang sepanjang kekar-kekar dengan sudut ± 90º terhadap lorong utama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s