Mencintai Lingkungan Goa Melalui Media Fotografi

Goa Senen di Gunungkidul telah dibuka warga setempat untuk wisata minat khusus. Untuk memasuki goa ini diperlukan ketrampilan teknik meniti tali dan piranti keselamatan

Lingkungan goa yang berkembang di kawasan karst (bentang alam yang tersusun oleh proses pelarutan batugamping) telah sejak lama menarik perhatian manusia modern. Catatan paling awal yang dapat dilacak ulang mengenai penelitian goa adalah ketika John Beaumont (1650-1731) melakukan serangkaian penelitian goa-goa di Somerset-Inggris dalam kurun waktu 1676-1683. Beaumont melakukan pengukuran-pengukuran dan mendeskripsikan segala hal yang ia temui di dalam goa, kemudian membuat laporan dan menyerahkannya ke Royal Society, sebuah lembaga penelitian di negeri Inggris. ​Aktivitas Beaumont ini kemudian menginspirasi banyak orang seperti Johann Weikard von Valsavor (1641-1693) peneliti hidrologi goa pertama dari Slovenia, Joseph Anton Nagel (1717-1794) seorang ahli matematika dari Universitas Vienna yang pertama kali melakukan penghitungan umur goa, serta Alfred Eduard Martel (1859-1938) yang kemudian menjadi sosok fenonemal atas ketekunannya menjelajah dan membuat laporan-laporan tentang goa di Perancis dan Inggris. Martel sedikitnya telah menulis 19 buah buku dan puluhan artikel tentang goa yang diterbitkan berbagai majalah dan jurnal di masanya.
​Sebelum tahun 1865, ilustrasi tentang goa secara visual masih berupa sketsa dan gambar yang dilukis oleh seniman maupun peneliti, seperti sketsa-sketsa goa yang dibuat oleh Johann Weikard von Valsavor dan Joseph Anton Nagel untuk melengkapi laporan-laporan penelitian goa di Slovenia. Pembuatan sketsa atau lukisan goa kala itu tidaklah mudah, untuk menerangi satu lorong goa saja membutuhkan ratusan lilin atau puluhan obor yang agar pelukis dapat menggambar suasana goa mendekati aslinya. Tak jarang lorong goa penuh dengan asap yang justru membuat pandangan menjadi terhalang dan pelukis kesulitan bernafas.
​Pada 27 Januari 1865 sejarah berubah. Alfred Brother (1826-1912), seorang fotografer yang tinggal di Manchester Inggris berhasil memotret sebuah ruangan di dalam goa Blue John Cavern dengan memanfaatkan cahaya pijar pita magnesium yang dibakar. Alfred Brother sebelumnya menghadiri pertemuan The Manchester Literary and Philosphical Society, di mana dalam pertemuan itu Profesor Roscoe mendemonstrasikan penggunaan pita magnesium yang diproduksi oleh Magnesium Metal Company sebagai lampu penerangan. Alfred Brothers mendapatkan kesempatan untuk ikut melakukan percobaan awal, menggunakan pita magnesium sebagai sumber pencahayaan fotografi beberapa waktu kemudian.
​Setelah era Alfred Brother, ilustrasi visual tentang goa di dunia perlahan mulai berubah, dari lukisan berganti menjadi karya foto. Beberapa pioner fotografi goa paska Alfred Brother antara lain : Adin F Style (1832-1910), Charles L. Waldack (1829-1892) dan Emil Marriot (1825-1891). Buku tentang teknik fotografi goa pertama kali ditulis oleh Eduard Alfred Martel dalam bahasa Perancis berjudul “La Photographie souterraine” setebal 70 halaman yang diterbitkan pada tahun 1903 di Paris.

​Di Indonesia, negeri tropis yang juga memiliki ribuan goa di hampir seluruh wilayahnya, pemotretan goa pertama kali telah dilakukan oleh fotografer pertama Indonesia, Kasian Cephas pada tahun 1897. Cephas kala itu memotret bagian lorong Goa Langse yang masih mendapatkan cahaya matahari di dekat Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Selanjutnya fotografi goa secara khusus berkembang secara terbatas di kelompok-kelompok penjelajah goa yang mulai bermunculan pada tahun 1980-an. Sulitnya referensi dan sulitnya teknik fotografi di era fotografi analog (seluloid) membuat fotografi goa sepi peminat.
​Fajar perkembangan fotografi goa baru terlihat ketika teknologi komunikasi (internet) semakin maju dan era fotografi digital semakin terjangkau harganya bagi masyarakat (penelusur goa). Mudahnya akses internet membuat referensi tentang fotografi goa mudah didapat, baik referensi berupa tulisan maupun referensi berbentuk imaji. Teknologi fotografi digital memudahkan dan mempersingkat waktu orang dalam mempelajari teknik fotografi (termasuk fotografi goa). Kecanggihan teknologi fotografi saat ini memungkinkan setiap orang memotret di dalam goa, bahkan “hanya” dengan menggunakan kamera yang tersemat pada telepon seluler.
​Perkembangan fotografi goa di tanah air membawa dampak positif bagi pengenalan lingkungan karst. Masyarakat awam yang belum mengenal potensi kawasan karst, bisa melihat secara langsung keindahan landscape (bentang alam) bawah tanah di kawasan karst yang sangat beragam. Masyakat juga bisa melihat potensi-potensi yang tersimpan di bawah tanah, seperti potensi air yang berlimpah di bawah tanah, padahal kawasan karst sering dianggap kering dan tandus. Melalui fotografi goa masyarakat juga bisa melihat secara langsung berbagai kekayaan keragaman hayati yang tersembunyi jauh di bawah tanah.
​Namun, fotografi goa juga bisa membawa dampak negatif jika fotografer tidak hati-hati dalam melakukan publikasi karyanya. Selain dapat mengundang orang-orang yang tidak bertanggungjawab sehingga melakukan tindakan vandalis di dalam goa, fotografi goa juga membuat orang yang tidak memiliki keahlian menelusuri goa sering lupa bahwa goa adalah lingkungan yang sangat berbahaya, sehingga berpotensi terjadi kecelakaan yang tidak diharapkan. Terlebih ada goa-goa yang tidak memiliki kemampuan dikunjungi secara massal, sehingga dapat mengganggu ekosistem yang ada di dalamnya. Untuk goa kategori ini sangat diharapkan fotografer goa tidak menyebutkan nama dan lokasi goa tersebut.
​Fotografer goa secara umum memiliki keinginan sebagaimana fotografer bidang lain, yaitu menggunakan bahasa visual untuk menyampaikan pesan, bahwa goa adalah lingkungan yang sangat unik dan spesial. Bahwa goa memiliki beragam potensi yang layak untuk dilindungi,dan dijaga kelestariannya. Bahwa goa adalah lingkungan yang sangat berbahaya dan sangat rentan akan perubahan. Bahwa segala pemanfaatan potensi goa hendaklah mengedepankan prinsip keberlanjutan dan perlindungan. Bahwa lingkungan goa hanya terbentuk sekali, segala bentuk kerusakan di lingkungan tidak akan bisa dipulihkan selamanya!
Take Nothing But Picture!

Advertisements

JMPPK : Panen Raya di Lereng Pegunungan Karst Pati, Bukti Kesuburan Lahan Pertanian

Dok. Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng

Pati, 26 Januari 2017 – Perjuangan warga Pati dari Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo tak seperti anggapan beberapa pihak, bahwa penolakan pabrik semen yang dilakukan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) hanya terhadap PT. Semen Indonesia. Kamis, 26 Januari 2016, pukul 08.00 pagi, ratusan petani akan turun ke sawah di Desa Brati,Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. 
Panen raya ini membuktikan bahwa anggapan kawasan karst itu kering, tidak subur, dan petani selalu dianggap miskin ialah kekeliruan. Para petani dengan menggunakan caping tolak pabrik semen sembari memanen, dan nembang lagu-lagu untuk kelestarian Ibu Bumi. Panen raya ini sekaligus menjadi bentuk syukur dan doa kami terhadap proses hukum KASASI terhadap gugatan warga Jasmo dkk, yang mengugat izin lingkungan pendirian pabrik semen PT. Sahabat Mulia Sakti, anak perusahaan PT. Indocement Tbk yang dikeluarkan oleh Bupati Pati pada tanggal 8 Desember 2014. Saat ini Mahkamah Agung (MA) sudah menetapkan hakim majelis yang akan memeriksa perkara gugatan, yakni Yosran SH, M. Hum sekalu hakim pertama, Is Sudaryono, SH, MH selaku hakim kedua dan H. Yulius, SH, MH selaku hakim ketiga. Kami berharap majelis hakim yang memutus perkara melihat bukti yang ada dilapangan, bahwa penambangan akan berdampak bagi banyak kalangan, terlebih petani.
Ada 180 hektar lahan untuk tapak pabrik semen merupakan lahan produtif di Desa Larangan, Mojomulyo, Karangawen dan Tambakromo. Adapun rencana penambangan batu kapur di lahan Perhutani, yang selama ini digarap masyarakat. Keluarnya izin lingkungan setelah ada siasat perubahan Perda Tata Ruang Wilayah yang berakhir tahun 2007, dimana kecamatan-kecamatan yang sebelumnya kawasan pertanian, diubah menjadi pertambangan dan industri. 
Maka dari itu, sudah jelas bahwa keputusan Bupati Pati mengeluarkan ijin lingkungan bertentangan dengan Undang-Undang penataan ruang, Peraturan Pemerintah tentang Rencata Tata Ruang dan Wilayah, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Amdal. Di persidangan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, pihak Bappeda Pati tak bisa menjelaskan penyusunan tata ruang Pati, mereka tak bisa menjelaskan soal perubahan lahan pertanian menjadi lahan pertambangan. Perubahan tidak pernah melibatkan masyarakat. Selama ini warga terdampak dari pertambangan semen tak didengarkan sikap penolakannya. Ada 65 persen lebih warga tolak pabrik semen.
Sementara itu, Jasmo selaku salah satu penggugat mengatakan, di lereng kawasan karst Kendeng Pati warga bisa berocok tanam jagung, kacang tanah, padi, terong, ubi, cabe dan apa saja jenis tumbuhan. Ketika di persidangan PTUN Semarang pihak Bappeda Pati secara tergas mengatakan, pendapat domestic Kabupaten Pati sebesar 54 persen dari pertanian dan 35 persennya dari Kecamatan Kayen dan Kecamatan Tambakromo yang akan menjadi lokasi pertambangan. Lahan pertanian di Pati terus berkurang. Jika pertambangan berlanjut, artinya pemerintah sengaja mematikan kehidupan petani. Bahwa dengan hadirnya tambang semen akan berdampak pada air bagi kebutuhan warga sehari-hari, air untuk hewan ternak dan lahan pertanian. Selain itu, dampak sosial masyarakat yang terpecah-pecah antara yang mendukung dan menolak pabrik semen. Janji perusahaan yang akan memberikan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan bagi warga sekitar hanya janji semata. Kami sudah melihat langsung warga di Tuban, mereka menderita menyakit sesak nafas, susah air, lahan pertanian rusak dan hanya 0,01 persen warga yang diterima kerja. Tentu lebih terhormat dan sejahtera menjadi petani. 
Dari data yang ada, usia produktif Kecamatan Kayen dan Tambakromo berjumlah 20. 677 jiwa. Sementara lapangan kerja yang dijanjikan perusaahn hanya sekitar 600 orang, atau 0,2 persen saja. Maka dari itu, penolakan kami terhadap pabrik semen di Pati merupakan wujud konkrit mendukung Nawacita Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Putusan PTUN Semarang secara gamblang membuktikan kebohongan data Amdal dan mencabut ijin lingkungan. Harapan kami, majelis hakim memutus dengan hati nurani,untuk menjaga kehidupan petani di Kendeng.

Menerangi Lorong Goa Kraton

Goa Kraton memiliki beberapa sumuran vertikal (pitch) yang harus dilalui penelusur goa untuk mencapai dasarnya. Kamera : iphone 5s, 1/30s, f/2.2, ISO 50

Jalanan masih cukup lengang ketika sabtu pagi (14/01/2017) kami memacu mobil di jalan tol Jagorawi menuju karst Kalapanunggal, sebuah kawasan perbukitan batugamping di kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hari itu kami akan melakukan dokumentasi fotografi di Goa Kraton. Konon goa ini sudah sering ditelusuri oleh kawan-kawan penelusur goa Jabodetabeka. Berbekal peta goa yang ada, melakukan berbagai persiapan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menjelajahi goa tersebut.

Saya sendiri kali ini tidak mau merepotkan diri dengan seabrek perangkat fotografi goa. Berbekal dua buah ponsel berkamera, tiga unit lampu kilat dan dua unit pemicu lampu kilat nirkabel, saya bertekad menghasilkan karya foto yang layak, setidaknya cukup baik untuk merepresentasikan kondisi Goa Kraton. “Minimum weight in maximum utility” entah kata-kata siapa saya tidak begitu ingat, namun begitulah yang ingin saya lakukan kali ini. Pukul 07.30 wib, kami sudah berkumpul di basecamp Linggih Alam, kelompok pecinta alam lokal yang cukup aktif berkegiatan di kawasan karst Kalapanunggal, setelah sarapan dan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan kami berjalan kaki menuju mulut Goa Kraton, anggota Linggih Alam, Boyo memandu kami.

Riggingman sedang mencoba lintasan di pitch kedua, memastikan lintasan aman dan nyaman dilintasi oleh seluruh anggota tim. Kamera : iphone 5s, 1/30s, f2.2, ISO 100

Salah seorang anggota tim tengah melintasi pitch ketiga di kedalaman -30 meter. Kamera : iphone 5s, 1/30s, f2.2, ISO 200

Lubang masuk Goa Kraton berada di lereng bukit batugamping, terbentuk karena proses pelebaran celah vertikal oleh peristiwa pelarutan. Meskipun musim hujan, kami memperkirakan goa ini cukup aman ditelusuri. Tak menunggu waktu lama, Husain dengan dibantu Asril mulai memasang tali lintasan. Kami berenam adalah anggota Acintyacunyata Speleological Club (ASC) yang kebetulan saat ini berdomisili di seputaran ibukota Jakarta. Meski jauh dari basecamp induk di Yogyakarta, ibarat kelelawar kami masih terus beraktifitas menjelajah goa-goa, tentu saja yang terdekat dengan tempat kami berdomisili.

image-1

Penelusur Goa menggunakan teknik Single Rope Technique untuk menuruni sumuran sedalam 16 meter di pitch ke-4 Goa Kraton Kamera : Samsung K-zoom, 3.5s, f/3.5, ISO 200

Lorong Goa Kraton didominasi sumuran tegak dengan kedalaman bervariasi, satu sumuran kami sebut sebagai “pitch“, setidaknya ada empat “pitch” yang harus kami lalui dengan kedalaman rata-rata 16 meter. Kedalaman total goa ini menurut peta yang kami pegang mencapai 60 meter di bawah tanah. Untuk melalui semua “pitch” ini seseorang harus menguasai teknik meniti tali tunggal (single rope technique) dengan variasi “intermediate” dan “deviasi“. Kami sendiri bersyukur telah melalui proses pelatihan yang cukup panjang di ASC, meski kondisi tubuh rata-rata sudah mulai tambun, untuk urusan teknik kami tidak pernah lupa. Maka satu persatu pun kami menuruni “pitch” demi “pitch” menuju dasar goa.

Saya mulai sibuk memotret dengan menggunakan kamera ponsel. Fredy, Petra, Asril dan Husain bergantian menjadi “model” dan asisten pencahayaan. Begitulah, fotografi goa adalah pekerjaan tim, tak peduli seberapa hebat kemampuan fotografi kita, tanpa dukungan tim yang solid, mustahil bisa menciptakan foto goa yang baik. Saya beruntung mendapatkan dukungan tim yang terlatih secara teknik di bidang penelusuran goa sekaligus memahami teknik fotografi goa.

Lorong Goa Kraton yang menyerupai bentuk tubular menunjukkan lorong berkembang pada lingkungan phreatik. Kamera : iphone 52, 1/15s, f/2.2, ISO 50

Memotret di goa menggunakan ponsel bagi saya cukup mengasyikkan. Kemampuan kita sebagai fotografer diuji dengan berbagai keterbatasan peralatan. Meskipun memiliki pengaturan pemotretan secara manual namun segalanya serba terbatas. Di sisi lain, fotografi goa dengan ponsel sangat efektif, super ringkas dan fleksibel di seluruh situasi sulit. Hari itu dengan leluasa saya bisa melakukan ekplorasi pemotretan di medan vertikal yang umumnya cukup merepotkan jika menggunakan kamera “sungguhan”.

Menikmati yoghurt dulu sebelum naik ke permukaan, selain bagus untuk pencernaan yoghurt mengandung 220 kalori yang berguna untuk menjaga asupan energi penelusur goa. Kamera: iphone 5s, 1/15s, f2.2, ISO 200

Waktu menunjukkan pukul 20.30 wib, baterai ponsel saya telah habis, saatnya saya mengakhiri pemotretan. Tim selanjutnya membantu Zona yang memotret dengan kamera “sungguhan”, kebetulan alat SRT kami hanya ada lima set, sehingga satu anggota tim harus bergantian dengan Zona agar bisa turun ke dalam goa. Asril memutuskan untuk naik ke permukaan. Tak lama kemudian Zona menjejakkan kakinya di dasar goa, menyusul kami yang sudah basah kuyup dihujani kotoran kelelawar.

image-1

Lorong Goa Kraton di kedalaman -60 meter di bawah permukaan tanah dihuni oleh ratusan kelelawar, fauna ini memiliki fungsi penting bagi keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Kamera : iphone 5s, 1/15s, f/2.2, ISO 100

Hari menjelang tengah malam ketika kami memutuskan untuk mengakhiri kegiatan di Goa Kraton. Hari itu cukup bagi kami untuk menyalurkan hasrat berkegiatan di goa vertikal hingga tuntas. Target dokumentasi situasi goa pun kami pikir sudah cukup. Maka satu per satu pun kami meniti tali menuju permukaan. Perjalanan pulang ke permukaan relatif lebih berat, selain tubuh yang cukup lelah, kondisi peralatan yang basah dan berlumpur memerlukan energi ekstra.

Seorang penelusur meniti tali berdiameter 10.5mm mendekati bibir pitch sedalam 16 meter, proses menaiki tali dikenal dengan istilah ascending. Kamera : Samsung Kzoom, 4s, f3.5, ISO 200

Menjelang dini hari, seluruh anggota tim telah mencapai permukaan. Sebelum meninggalkan goa, kami melakukan pengecekan ulang seluruh peralatan. Memastikan tidak ada peralatan dan perlengkapan yang tertinggal. Kami juga memastikan tidak meninggalkan apapun di dalam goa. “Leave nothing and take nothing but picture

Teks dan Foto : A.B. Rodhial Falah, Lighting : Fredy Chandra, Petrasa Wacana, Mohammad Asril, Husain

JMPPK : KASIHI SESAMA, JAGAI IBU BUMI

Semarang, 25 Desember 2016 – Pagi ini minggu 25 Desember 2016 dalam Car Free Day (CFD) kota semarang, di jalan pahlawan dan simpang lima Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) dan Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Semarang mengadakan aksi jalan bersama dan membawa spanduk bertuliskan “Selamat Natal 2016 dan Tahun Baru 2017, KASIHI SESAMA, JAGAI IBU BUMI”

Dalam perayaan Natal 2016 ini JMPPK dan PELITA mengajak semua orang untuk untuk mengasihi sesama tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan serta untuk menjaga ibu bumi karena bumi telah memberikan semua kebutuhan manusia, dan semua orang wajib menjaganya.

Hari ini petani pegunungan kendeng sengaja tidak melakukan aksi pendirian tenda perjuangan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah. Ini dimaksudkan untuk menghormati perayaan Hari Natal.

Sebelumnya, sejak Senin 19 Desember 2016 petani Pegunungan Kendeng telah mendirikan tenda perjuangan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah. Aksi tersebut akan terus berlanjut sampai Gubernur Jawa Tengah menutup pabrik semen yang ada di Rembang sebagaimana Putusan Mahkamah Agung Nomor 99 PK/TUN/2016 yang membatalkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660. 1/17 tahun 2012 dan memerintahkan Gubernur Jawa Tengah untuk mencabut keputusan a quo. Berdasarkan Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup “(1) Izin Lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan (2) Dalam hal izin lingkungan dicabut, izin usaha dan/atau kegiatan dibatalkan”. Maka, seluruh kegiatan usaha dan/atau kegiatan PT Semen Indonesia di Kecamatan Gunem, Rembang harus dihentikan. Namun demikian, hingga saat ini Gubernur Jawa Tengah belum kunjung mematuhi Putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap

Tidak hanya itu, paska dibacakannya Putusan MA tersebut, Gubernur Jawa Tengah telah mengeluarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660.1/30 tahun 2016 yang merupakan perubahan izin lingkungan yang telah dibatalkan oleh MA serta Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660.1/32 tahun 2016 adalah Upaya melawan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap ini telah menunjukkan bahwa disamping Gubernur Jawa Tengah tidak mematuhi hukum, tampak pula bahwa Gubernur Jawa Tengah tidak ber itikad baik menjaga Ibu Bumi.

Agaknya perlu bagi kita semua untuk mengingat apa yang dipesankan Mahatma Gandhi:

Bumi cukup menyediakan segala sesuatu untuk memuaskan kebutuhan semua orang, bukan semua ketamakan.

Fotografi Goa dengan “Smartphone”

Berbincang sembari menikmati makan malam bersama rekan-rekan memang mengasyikkan. Seperti malam itu ketika saya duduk bersama para penelusur goa Acintyacunyata Speleological Club di sebuah warung makan ayam bakar di salah satu sudut Kota Yogyakarta. Para penelusur goa yang rata-rata berusia muda ini mencurahkan isi hatinya terkait ketertarikannya dengan fotografi goa namun terkendala dengan alat yang dimiliki. Saya antusias menyimak curhatan mereka sembari pikiran saya melayang pada beberapa tahun silam ketika saya juga memiliki masalah yang kurang lebih sama dengan mereka.

amazonas

Salah satu hasil ekperimen dengan kamera analog Yashica FX-3 (ISO 100, f-8, Bulb, focal length pada 24mm)

16 tahun silam, saya dan beberapa orang rekan yang tertarik fotografi goa berkali-kali nyaris frustasi ketika rol demi rol negatif film selalu gagal merekam situasi goa dengan baik (maklum, era itu teknologi kamera digital masih sangat jauh dari jangkauan fisik dan finansial kami sebagai anak kos). Pun tidak banyak orang yang bisa kami ajak berdiskusi bagaimana menghadapi kendala-kendala pemotretan kala itu. Teknologi informasi masih sangat terbatas, sulit mendapatkan literatur tentang fotografi goa sehingga kami hanya mengandalkan metode “trial dan error“.

Mentor yang kala itu lebih dulu menekuni fotografi goa susah kami temui karena lebih banyak tinggal di luar kota, satu-satunya nasehat yang kami dapatkan kala itu dari beliau adalah “mencatat data teknis” setiap frame ketika shutter release kami tekan. Catatan itu kami gunakan sebagai acuan dalam pemotretan berikutnya. Namun situasi di dalam goa tidaklah sama. Bahkan dalam satu lokasi yang sama dengan teknik yang sama, hasil yang kita dapatkan bisa jadi berbeda ketika kita memotret di waktu yang berbeda. Banyak sekali parameter yang mempengaruhi seperti tingkat kelembaban, dominasi warna pada lorong goa, tim pendukung pemotretan dan sebagainya. Catatan data teknis itu pun tidak berfungsi secara maksimal

Saat ini, kendala-kendala teknis fotografi goa sudah jauh berkurang dengan pesatnya kemajuan teknologi. Bahkan dengan kamera yang tersemat pada ponsel pintar pun kita bisa merekam situasi di dalam goa dengan baik. Tidak harus dengan kamera DSLR. Dahulu, kami menggunakan kamera SLR dan kamera Compact karena hanya jenis-jenis kamera tersebut yang memiliki pengaturan pencahayaan secara manual. Sekarang, kamera ponsel bahkan memiliki beberapa fitur yang bisa kita “curi” untuk memotret di goa. Pada ponsel tertentu yang memiliki kamera resolusi tinggi hasil foto bahkan bisa kita cetak cukup besar sehingga layak untuk dipamerkan.

Pada suatu kesempatan saya pernah “menguji” ponsel dari salah satu pabrikan terkenal asal Korea. Kamera yang tersemat di dalamnya memiliki pengaturan manual baik ISO, kecepatan rana (shutter speed) dan diafragma (aperture). Tentu saja dengan opsi yang sangat terbatas. Untuk aperture misalnya, hanya memiliki dua pilihan untuk setiap shutter speed yang kita pilih. Sensor yang tertanam lumayan besar untuk ukuran ponsel yaitu 1/2.3 inch (6.17 x 4.5mm). Dalam pemotretan saya menggunakan senter LED (Light Emitting Diode) dengan kekuatan pancar 3800 lumens dipadu dengan electronik flash (lampu kilat) dengan Guide Number 48 (pada ISO 100 dan jarak 1 meter). Saya menggunakan tripod dan bracket untuk ponsel guna menjaga kamera stabil dalam pemotretan.

Hasilnya bisa dilihat seperti berikut :

Beberapa hal yang saya catat waktu itu adalah :

  1. Fotografer sebaiknya senantiasa menjaga kebersihan tangannya, ponsel dengan teknologi layar sentuh akan mengalami masalah ketika layar ponsel kotor oleh lumpur terutama dalam hal pencarian titik fokus dan pengukuran cahaya.
  2. Pembacaan White Balance sering mengalami kesalahan, hasilnya warna pada hasil foto cenderung lebih pucat dari warna aslinya, diperlukan sedikit koreksi warna paska pemotretan.
  3. Pada beberapa kondisi hasil pemotretan cenderung over exposure (kelebihan cahaya), sebaiknya fotografer menyiapkan diffuser untuk sumber cahaya yang digunakan untuk mengurangi kekuatan dan lebih melembutkan cahaya (mengingat terbatasnya opsi pengaturan exposure pada kamera ponsel)
  4. Kemas perangkat pemotretan anda dengan baik, kondisi goa sangat tidak bersahabat bagi ponsel pintar anda, meskipun anda menggunakan ponsel tahan air sebaiknya tetap lindungi piranti anda dari tajamnya bebatuan goa.
  5. Bekerjalah dalam tim, fotografi goa akan memperoleh hasil maksimal jika fotografer didukung oleh tim yang solid
  6. Jangan lupa berdoa!

Pada suapan potongan ayam bakar terakhir, saya menyarankan rekan-rekan untuk bereksperimen dengan peralatan yang mereka miliki. Saya melihat perangkat ponsel yang mereka sudah lebih dari cukup untuk melakukan pemotretan di goa. Selebihnya adalah terus berlatih dan berlatih….menciptakan karya setahap demi setahap. Siapa tahu karya kita yang sederhana suatu hari akan berguna. Karena suatu hal yang dilakukan dengan terus menerus dan dengan dilandasi  niat baik pasti tidak akan terbuang sia-sia, termasuk karya fotografi goa.

Teks dan Foto : A.B. Rodhial Falah (tim support pemotretan : Mirza Ahmad, Ryan Nurahdiana, Akhmad Zona Adiardi, Cahyo Rahmadi, Alex Atmadikara, Fredi Chandra, Hasbi Ash Siddiq). Foto-foto dan artikel serupa pernah dimuat di Exposure Magazine edisi 87 Oktober 2015.

Malam di Tenda Perjuangan

Tenda Perjuangan2 Tenda itu tepat berada di tepi jalan jalur truk-truk yang hilir mudik nyaris 15 menit sekali. Malam hari yang gelap menyembunyikan debu-debu yang pasti beterbangan setelahnya atau saat itu alam sedang berbaik hati karena masih mengirimkan hujan yang membasahi tanah. Warga menyebut tenda itu sebagai Tenda Perjuangan. Berdiri dan dihuni selama hampir setahun, seumur dengan penegasan gerakan penolakan warga Kecamatan Gunem terhadap rencana pendirian pabrik semen di wilayah mereka.

Continue reading

Industri Semen Ramah Lingkungan?

Tabel konsumsi semen dunia,konsumsi semen Indonesia jauh dibawah konsumsi beberapa negara hanya 229kg/kapita. Sumber : Laporan tahunan Heidelberg grup, 2014

Tabel konsumsi semen dunia,konsumsi semen Indonesia jauh dibawah konsumsi beberapa negara hanya 229kg/kapita. Sumber : Laporan tahunan Heidelberg grup, 2014

Mendekati putusan PTUN Semarang terhadap sebuah perusahaan patungan pemerintah dan pemodal asing yang bergerak di industri semen, masyarakat seperti saya dibombardir oleh propaganda bahwa industri semen ramah lingkungan. Benarkah demikian?

Saya bukan ahli apapun, hanya seorang praktisi speleologi yang berkiprah hampir 14 tahun di dunia bawah tanah. Pun demikian, pengalaman bersentuhan langsung dengan kawasan karst dan masyarakatnya selama ini membentuk pemahaman yang kuat pada diri saya, bahwa karst adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Bahwa karst memberi manfaat langsung bagi manusia yang hidup di dalam dan sekitarnya saya persaksikan langsung di lapangan. Air, tanah, tumbuh-tumbuhan dan segala bentuk kehidupan di dalamnya membentuk ikatan yang kuat secara berimbang dan tidak saling meniadakan. Harmoni itu yang seharusnya tidak dirusak oleh keserakahan manusia yang bernafsu ingin menguasai segala hal sebagai pundi-pundi hidupnya. Continue reading