Malam di Tenda Perjuangan

Tenda Perjuangan2 Tenda itu tepat berada di tepi jalan jalur truk-truk yang hilir mudik nyaris 15 menit sekali. Malam hari yang gelap menyembunyikan debu-debu yang pasti beterbangan setelahnya atau saat itu alam sedang berbaik hati karena masih mengirimkan hujan yang membasahi tanah. Warga menyebut tenda itu sebagai Tenda Perjuangan. Berdiri dan dihuni selama hampir setahun, seumur dengan penegasan gerakan penolakan warga Kecamatan Gunem terhadap rencana pendirian pabrik semen di wilayah mereka.

Continue reading

Industri Semen Ramah Lingkungan?

Tabel konsumsi semen dunia,konsumsi semen Indonesia jauh dibawah konsumsi beberapa negara hanya 229kg/kapita. Sumber : Laporan tahunan Heidelberg grup, 2014

Tabel konsumsi semen dunia,konsumsi semen Indonesia jauh dibawah konsumsi beberapa negara hanya 229kg/kapita. Sumber : Laporan tahunan Heidelberg grup, 2014

Mendekati putusan PTUN Semarang terhadap sebuah perusahaan patungan pemerintah dan pemodal asing yang bergerak di industri semen, masyarakat seperti saya dibombardir oleh propaganda bahwa industri semen ramah lingkungan. Benarkah demikian?

Saya bukan ahli apapun, hanya seorang praktisi speleologi yang berkiprah hampir 14 tahun di dunia bawah tanah. Pun demikian, pengalaman bersentuhan langsung dengan kawasan karst dan masyarakatnya selama ini membentuk pemahaman yang kuat pada diri saya, bahwa karst adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Bahwa karst memberi manfaat langsung bagi manusia yang hidup di dalam dan sekitarnya saya persaksikan langsung di lapangan. Air, tanah, tumbuh-tumbuhan dan segala bentuk kehidupan di dalamnya membentuk ikatan yang kuat secara berimbang dan tidak saling meniadakan. Harmoni itu yang seharusnya tidak dirusak oleh keserakahan manusia yang bernafsu ingin menguasai segala hal sebagai pundi-pundi hidupnya. Continue reading

Potret Kawasan Karst Indonesia

Sebaran pabrik semen di Pulau Jawa (diolah dari peta sebaran karst www.biota.org)

Sebaran pabrik semen di Pulau Jawa (diolah dari peta sebaran karst http://www.biota.org)

Indonesia adalah negeri yang diberkahi kekayaan alam melimpah baik yang ada di atas tanah maupun di bawah tanah. Kekayaan alam itu semestinya mensejahterakan rakyat dari generasi ke generasi. Salah satu kekayaan alam yang jarang disadari keberadaannya adalah Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), yaitu kawasan perbukitan kapur yang telah mengalami proses pelarutan sedemikian rupa sehingga menunjukkan ciri-ciri fisik yang unik dan khas.
Fungsi utama kawasan karst bagi kehidupan manusia adalah kemampuannya menyerap air hujan, menyimpan dan mengeluarkannya sebagai mata air (akuifer air bersih). Jutaan meter kubik air hujan setiap tahun terserap dengan baik oleh KBAK. Di dunia, 15% luas daratan adalah kawasan bentang alam karst, di mana kawasan ini mencukupi 25% kebutuhan air bersih penduduk dunia (D.C Ford et al, 1988).

Continue reading

Menyelamatkan Karst Gombong

Karst Karangbolong_panorama

Karst Karangbolong atau Karst Gombong Selatan memiliki fungsi sebagai penangkap, penyimpan dan penyuplai air bersih bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya (Foto. A.B. Rodhial falah)

 

Menyelamatkan Karst Gombong
Oleh Emil Salim

PRAJURIT tua tak pernah mati, mereka hanya memudar hilang”. Kalimat Jenderal Mac Arthur melintas di ingatan saat membaca laporan Otto Soemarwoto, Kajian Pro-Kontra Rencana Pembangunan Pabrik PT Semen Gombong (April 2003).

Sebuah perusahaan berencana membangun pabrik semen di Desa Nagaraji, Gombong Selatan, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Bahan baku semen berupa batu gamping terletak di kawasan gua karst Gombong Selatan. Kebanyakan penduduk daerah rendah pendapatannya. Pengusaha beranggapan pembangunan pabrik bermanfaat bagi daerah karena mengurangi kemiskinan dan menaikkan pendapatan asli daerah. Tetapi, pembangunan pabrik semen juga merusak gua karst Gombong, merusak habitat tempat bersarang burung walet dan kelelawar serta menghancurkan fungsinya sebagai “waduk alam” penyimpan air.

Muncul persoalan yang mempertentangkan “pembangunan semen” melawan “pelestarian gua karst Gombong”. Pengusaha telah mengantongi izin pemerintah (1996) tentang “Analisis mengenai Dampak Lingkungan” (amdal) sehingga syarat legal dipenuhi. Namun, banyak pihak menentang pembangunan pabrik semen yang dianggap bakal merusak lingkungan kawasan karst Gombong. Continue reading

Mengenal (lebih dalam) Y-Anchor

Istilah Y-Achor sering kita dengar ketika seorang pembuat lintasan dalam sebuah penelusuran goa (riggingman) bermaksud membagi beban yang akan diterima oleh titik tambatan tali. Alasan lain seorang riggingman menentukan penggunaan Y-anchor adalah untuk menentukan titik jatuh tali agar timnya lebih mudah mengakses jalur ascending/descending, juga demi alasan keamanan seperti menjauhkan tali dari titik jatuhnya air jika sewaktu-waktu terjadi banjir. Pada alasan terakhir penulis pernah mengalami sendiri kontribusi Y-Anchor ketika terjebak banjir dalam sebuah penelusuran goa tahun 2000 silam di Sukabumi, Jawa Barat.

Y-Anchor-6

Y-Anchor digunakan untuk mempermudah akses menuju dasar goa (foto dok. ASC)

Pada perkembangan akhir-akhir ini, banyak kalangan mengira bahwa penggunaan Y-Anchor serta merta membagi beban yang akan diterima titik tambatan menjadi sama besar. Hal ini bisa saja benar namun bisa juga salah, karena ketika riggingman salah menempatkan sudut pembagian bisa jadi tujuan pembagian beban tersebut tidak akan tercapai. Atau justru malah berpotensi mencelakakan karena beban yang diterima masing-masing titik tambatan menjadi jauh lebih besar dari beban aslinya.

Untuk membagi beban, seorang riggingman biasanya akan menggunakan simpul yang memungkinkan tali memiliki tiga arah tarikan, dua arah tarikan pembagi dan satu arah tarikan beban utama. Jenis simpulnya beragam, namun secara umum ada fixed knot yaitu simpul yang tidak berubah ketika mendapat beban atau adjustable knot yaitu simpul yang bisa menyesuaikan diri ketika mendapat beban. Pada simpul terakhir biasa dikenal dengan istilah Self Equalizing Anchor (SEA).

Continue reading

Dapatkah PP No 26 Tahun 2008 Melindungi Kawasan Karst?

Terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Tata Wilayah Nasional beberapa waktu lalu memberikan secercah harapan bagi para penggiat penyelamatan kawasan karst di tanah air. Meskipun banyak cerita di balik keluarnya PP tersebut yang berbalut ketidakpuasan dan seolah-olah peraturan ini hadir akibat salah ketuk palu. Ironisnya, cerita-cerita ini bergulir dari mereka yang sebenarnya berada di lingkup pengambil kebijakan pengelolaan kawasan karst.

Aktivitas penambangan batugamping marak di daerah hulu Sungai Bribin, sistem sungai bawah tanah terbesar di Kawasan Karst Gunungsewu

Ditimbang-timbang, PP No 26 tahun 2008 ini sejatinya telah menempatkan karst pada tempat yang semestinya. Kawasan karst sebagai daerah yang memiliki potensi daya dukung terhadap kehidupan manusia dan berperan penting bagi keseimbangan ekologi sudah seharusnya dimasukkan dalam kawasan lindung. Ini adalah hal penting yang tidak dimiliki peraturan sebelumnya, yaitu KEPMEN ESDM NO 1456 tahun 2000.

Continue reading

Vandalis Itu Berkedok Penelusur Goa

Sebelumnya saya tidak menyadari bahwa foto karya Akhmad Zona Adiardi yang saya upload ke akun facebook beberapa waktu lalu merekam suatu hal yang penting untuk diperhatikan oleh penggiat speleologi. Saya baru sadar ada keganjilan dalam foto tersebut ketika ada seorang rekan memberikan komentar, bahwa tidak hanya aksi “narsis berjamaah” yang terekam, namun sebentuk gambar pola yang jelas adalah buatan manusia.

Gambar hasil karya vandalis di lokasi wisata minat khusus Goa Cokro terekam di sisi sebelah kanan (foto : Akhmad Zona Adiardi)

Dalam situasi biasa, gambar pola bukanlah suatu hal yang penting…namun coba kita perhatikan, di mana gambar pola tersebut berada. Gambar itu terlukis pada sebuah dinding goa yang sulit dijamah orang awam tanpa bantuan pemandu terlatih dan perlengkapan yang memadai. Gambar pola itu menutupi sejenis ornamen goa yang berasal dari keluarga flowstone, yang tentu saja terbentuk tidak dalam waktu yang singkat.

Continue reading