Kabut Karst Karangcombong

Teks & Foto : A.B. Rodhial Falah

Karst Karangcombong tersembunyi dalam kabut di antara gugusan perbukitan vulkanik

Kereta jurusan Rangkasbitung yang saya tunggu akhirnya datang juga. Pagi itu tepat pukul 07.30 saya berangkat memenuhi undangan teman-teman penelusur goa Banten untuk berbagi pengetahuan tentang fotografi goa. KRL jurusan Rangkasbitung yang baru dioperasikan bulan Maret lalu melaju kencang, sesekali berhenti di stasiun-stasiun, menaikkan dan menurunkan penumpang. Sepanjang jalan saya terkagum-kagum melihat banyaknya pembangunan perumahan baru di areal-areal dekat stasiun kereta. Jakarta rupanya masih menjadi magnet bagi kaum urban, selama ada transportasi penghubung menuju Jakarta, perumahan-perumahan baru laris manis seperti kacang rebus. Continue reading

Advertisements

Mengenal Karst Goa Gudawang

Nama Karst Goa Gudawang memang belum banyak dikenal di Indonesia, berbeda dengan kawasan karst lain semisal Karst Gunungsewu, Karst Maros, Karst Sangkulirang Mangkalihat ataupun Karst Gombong. Menemukan kawasan ini di peta pun lumayan sulit, di peta geologi terbitan Pusat Pengkajian Pengetahuan Geologi misalnya, batugamping yang ada di Kecamatan Cigudeg ini hanya bisa dirunut dari informasi litologi pada formasi-formasi yang mengandung batugamping di kawasan tersebut. Selain luasnya yang tidak cukup signifikan sehingga tidak tergambar di peta geologi regional, tidak banyak publikasi yang bisa ditemukan terkait Karst Goa Gudawang.

Salah satu bagian lorong Goa Sipahang

Continue reading

Ujung Lorong Cikarae

Penelusur goa mencoba melewati lorong beratap rendah dalam penelusuran Goa Cikarae

Kami melangkah cepat mengikuti Muslich (60), lelaki separuh baya yang menjadi pemilik sekaligus juru kunci Goa Cikarae, melintasi batuan kapur yang sudah hampir empat bulan dikeringkan oleh musim. Dari rumah Muslich Goa Cikarae hanya berjarak 500 meter saja. “Sewaktu saya kecil, sekitar tahun 1968 sungai di dalam Goa Cikarae sepinggang dalamnya, ikannya banyak, saya sering mencari ikan di dalamnya bersama ayah”, kenang Muslich di perjalanan. Saat ini, Goa Cikarae hanya dialiri air sewaktu musim hujan saja, sungai di dalamnya mengering seiring hilangnya daerah resapan yang tergerus aktivitas tambang milik sebuah korporasi besar. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk sampai pada sebuah lubang gelap di lereng bukit yang tidak begitu terjal, lubang masuk Goa Cikarae.

Continue reading

Mencintai Lingkungan Goa Melalui Media Fotografi

Goa Senen di Gunungkidul telah dibuka warga setempat untuk wisata minat khusus. Untuk memasuki goa ini diperlukan ketrampilan teknik meniti tali dan piranti keselamatan

Lingkungan goa yang berkembang di kawasan karst (bentang alam yang tersusun oleh proses pelarutan batugamping) telah sejak lama menarik perhatian manusia modern. Catatan paling awal yang dapat dilacak ulang mengenai penelitian goa adalah ketika John Beaumont (1650-1731) melakukan serangkaian penelitian goa-goa di Somerset-Inggris dalam kurun waktu 1676-1683. Beaumont melakukan pengukuran-pengukuran dan mendeskripsikan segala hal yang ia temui di dalam goa, kemudian membuat laporan dan menyerahkannya ke Royal Society, sebuah lembaga penelitian di negeri Inggris. ​Aktivitas Beaumont ini kemudian menginspirasi banyak orang seperti Johann Weikard von Valsavor (1641-1693) peneliti hidrologi goa pertama dari Slovenia, Joseph Anton Nagel (1717-1794) seorang ahli matematika dari Universitas Vienna yang pertama kali melakukan penghitungan umur goa, serta Alfred Eduard Martel (1859-1938) yang kemudian menjadi sosok fenonemal atas ketekunannya menjelajah dan membuat laporan-laporan tentang goa di Perancis dan Inggris. Martel sedikitnya telah menulis 19 buah buku dan puluhan artikel tentang goa yang diterbitkan berbagai majalah dan jurnal di masanya. Continue reading

JMPPK : Panen Raya di Lereng Pegunungan Karst Pati, Bukti Kesuburan Lahan Pertanian

Dok. Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng

Pati, 26 Januari 2017 – Perjuangan warga Pati dari Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo tak seperti anggapan beberapa pihak, bahwa penolakan pabrik semen yang dilakukan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) hanya terhadap PT. Semen Indonesia. Kamis, 26 Januari 2016, pukul 08.00 pagi, ratusan petani akan turun ke sawah di Desa Brati,Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.  Continue reading

Menerangi Lorong Goa Kraton

Goa Kraton memiliki beberapa sumuran vertikal (pitch) yang harus dilalui penelusur goa untuk mencapai dasarnya. Kamera : iphone 5s, 1/30s, f/2.2, ISO 50

Jalanan masih cukup lengang ketika sabtu pagi (14/01/2017) kami memacu mobil di jalan tol Jagorawi menuju karst Kalapanunggal, sebuah kawasan perbukitan batugamping di kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hari itu kami akan melakukan dokumentasi fotografi di Goa Kraton. Konon goa ini sudah sering ditelusuri oleh kawan-kawan penelusur goa Jabodetabeka. Berbekal peta goa yang ada, kami melakukan berbagai persiapan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menjelajahi goa tersebut.

Saya sendiri kali ini tidak mau merepotkan diri dengan seabrek perangkat fotografi goa. Berbekal dua buah ponsel berkamera, tiga unit lampu kilat dan dua unit pemicu lampu kilat nirkabel, saya bertekad menghasilkan karya foto yang layak, setidaknya cukup baik untuk merepresentasikan kondisi Goa Kraton. “Minimum weight in maximum utility” entah kata-kata siapa saya tidak begitu ingat, namun begitulah yang ingin saya lakukan kali ini. Pukul 07.30 wib, kami sudah berkumpul di basecamp Linggih Alam, kelompok pecinta alam lokal yang cukup aktif berkegiatan di kawasan karst Kalapanunggal, setelah sarapan dan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan kami berjalan kaki menuju mulut Goa Kraton, anggota Linggih Alam, Boyo memandu kami.

Continue reading

JMPPK : KASIHI SESAMA, JAGAI IBU BUMI

Semarang, 25 Desember 2016 – Pagi ini minggu 25 Desember 2016 dalam Car Free Day (CFD) kota semarang, di jalan pahlawan dan simpang lima Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) dan Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Semarang mengadakan aksi jalan bersama dan membawa spanduk bertuliskan “Selamat Natal 2016 dan Tahun Baru 2017, KASIHI SESAMA, JAGAI IBU BUMI”

Dalam perayaan Natal 2016 ini JMPPK dan PELITA mengajak semua orang untuk untuk mengasihi sesama tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan serta untuk menjaga ibu bumi karena bumi telah memberikan semua kebutuhan manusia, dan semua orang wajib menjaganya.

Hari ini petani pegunungan kendeng sengaja tidak melakukan aksi pendirian tenda perjuangan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah. Ini dimaksudkan untuk menghormati perayaan Hari Natal.

Sebelumnya, sejak Senin 19 Desember 2016 petani Pegunungan Kendeng telah mendirikan tenda perjuangan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah. Aksi tersebut akan terus berlanjut sampai Gubernur Jawa Tengah menutup pabrik semen yang ada di Rembang sebagaimana Putusan Mahkamah Agung Nomor 99 PK/TUN/2016 yang membatalkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660. 1/17 tahun 2012 dan memerintahkan Gubernur Jawa Tengah untuk mencabut keputusan a quo. Berdasarkan Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup “(1) Izin Lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan (2) Dalam hal izin lingkungan dicabut, izin usaha dan/atau kegiatan dibatalkan”. Maka, seluruh kegiatan usaha dan/atau kegiatan PT Semen Indonesia di Kecamatan Gunem, Rembang harus dihentikan. Namun demikian, hingga saat ini Gubernur Jawa Tengah belum kunjung mematuhi Putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap

Tidak hanya itu, paska dibacakannya Putusan MA tersebut, Gubernur Jawa Tengah telah mengeluarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660.1/30 tahun 2016 yang merupakan perubahan izin lingkungan yang telah dibatalkan oleh MA serta Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660.1/32 tahun 2016 adalah Upaya melawan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap ini telah menunjukkan bahwa disamping Gubernur Jawa Tengah tidak mematuhi hukum, tampak pula bahwa Gubernur Jawa Tengah tidak ber itikad baik menjaga Ibu Bumi.

Agaknya perlu bagi kita semua untuk mengingat apa yang dipesankan Mahatma Gandhi:

Bumi cukup menyediakan segala sesuatu untuk memuaskan kebutuhan semua orang, bukan semua ketamakan.