Vandalis Itu Berkedok Penelusur Goa

Sebelumnya saya tidak menyadari bahwa foto karya Akhmad Zona Adiardi yang saya upload ke akun facebook beberapa waktu lalu merekam suatu hal yang penting untuk diperhatikan oleh penggiat speleologi. Saya baru sadar ada keganjilan dalam foto tersebut ketika ada seorang rekan memberikan komentar, bahwa tidak hanya aksi “narsis berjamaah” yang terekam, namun sebentuk gambar pola yang jelas adalah buatan manusia.

Gambar hasil karya vandalis di lokasi wisata minat khusus Goa Cokro terekam di sisi sebelah kanan (foto : Akhmad Zona Adiardi)

Dalam situasi biasa, gambar pola bukanlah suatu hal yang penting…namun coba kita perhatikan, di mana gambar pola tersebut berada. Gambar itu terlukis pada sebuah dinding goa yang sulit dijamah orang awam tanpa bantuan pemandu terlatih dan perlengkapan yang memadai. Gambar pola itu menutupi sejenis ornamen goa yang berasal dari keluarga flowstone, yang tentu saja terbentuk tidak dalam waktu yang singkat.

Dari sisi estetika, jelas gambar itu bukan karya yang layak untuk diapresiasi. Bagi mereka yang menjunjung tinggi kaidah penelusuran goa….jelas itu adalah karya vandalisme. Ironis jika justru pelaku vandalis itu adalah mereka yang mengaku penggiat penelusuran goa. Namun kemungkinan ini jadi berkurang karena aksi vandalis yang terekam dalam foto tersebut terjadi di goa yang telah dibuka menjadi lokasi wisata minat khusus sejak 2007 lalu. Jadi pelakunya bisa siapa saja yang mengunjungi goa tersebut.

Wisatawan membutuhkan seperangkat alat untuk menuruni goa vertikal

Sebut saja Goa Cokro, salah satu goa di Kawasan Karst Gunungsewu yang memiliki pintu masuk berjenis vertikal. Memasuki goa ini membutuhkan seperangkat alat penelusuran goa vertikal, berupa tali kernmantel, seperangkat alat penambat dan pengaman tubuh. Teknik ini dikenal sebagai Single Rope Technique (SRT). Sebelum marak, aktivitas SRT hanya bisa dilakukan oleh mereka yang terlatih khusus di komunitas pecinta alam, klub susur goa/panjat tebing dan kalangan militer. Beberapa tahun terakhir, teknik ini dapat dengan mudah dilakukan (bukan dikuasai) orang awam dibawah instruksi pemandu terlatih.

Dibukanya Cokro sebagai lokasi minat khusus tentu saja dengan niat awal mengenalkan potensi kawasan, alternatif potensi selain batugamping sebagai bahan tambang. Niatan yang sungguh mulia, namun sejatinya perlu pengelolaan dan sistem kontrol yang lebih intensif. Terlebih sejak dijadikan lokasi pendidikan dasar penelusuran goa tahun 1995 silam, Goa Cokro merupakan goa vertikal yang memiliki jumlah kunjungan paling tinggi di Gunungkidul (barangkali juga di Pulau Jawa).

Pola-pola alami yang terbentuk di dinding goa sebagai sisa hasil aktivitas mikroorganisme purba.

Kunjungan yang demikian deras hampir tiap minggu di Goa Cokro, tentu saja membuka peluang terjadinya tindak vandalisme oleh pengunjung. Terlebih pemandu wisata yang seluruhnya adalah penduduk lokal masih memiliki rasa ewuh pakewuh alias segan dan nyaris “tidak berani” mengontrol pengunjung terutama yang berasal dari kelompok yang mengaku pecinta alam. Sistem pendampingan hanya berlaku bagi mereka yang berstatus “wisatawan”, bukan penggiat. Lebih memprihatinkan jika mereka yang mengaku penggiat penelusur goa ternyata menyimpan jiwa merusak dan sama sekali tidak memiliki rasa “cinta” pada alam.

Barangkali perlu ditelaah lagi apa sebenarnya yang dimaksud wisata minat khusus. Apakah cukup pengelolaan secara teknis saja? Apakah cukup melakukan sistem pengawasan dan pendampingan hanya pada mereka yang berlabel “wisatawan” atau “turis”? Apakah perlu melakukan pembatasan kunjungan? Bagaimana nasib goa yang “dikorbankan” jika suatu hari keindahan yang ditawarkan tak ubahnya tembok-tembok kota yang penuh dengan mural seniman-seniman jalanan? Lalu apa sebenarnya yang khusus dari wisata tersebut?

Mari kita cari jawabnya bersama-sama….(A.B. Rodhial Falah)