Menyelamatkan Karst Gombong

Karst Karangbolong_panorama

Karst Karangbolong atau Karst Gombong Selatan memiliki fungsi sebagai penangkap, penyimpan dan penyuplai air bersih bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya (Foto. A.B. Rodhial falah)

 

Menyelamatkan Karst Gombong
Oleh Emil Salim

PRAJURIT tua tak pernah mati, mereka hanya memudar hilang”. Kalimat Jenderal Mac Arthur melintas di ingatan saat membaca laporan Otto Soemarwoto, Kajian Pro-Kontra Rencana Pembangunan Pabrik PT Semen Gombong (April 2003).

Sebuah perusahaan berencana membangun pabrik semen di Desa Nagaraji, Gombong Selatan, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Bahan baku semen berupa batu gamping terletak di kawasan gua karst Gombong Selatan. Kebanyakan penduduk daerah rendah pendapatannya. Pengusaha beranggapan pembangunan pabrik bermanfaat bagi daerah karena mengurangi kemiskinan dan menaikkan pendapatan asli daerah. Tetapi, pembangunan pabrik semen juga merusak gua karst Gombong, merusak habitat tempat bersarang burung walet dan kelelawar serta menghancurkan fungsinya sebagai “waduk alam” penyimpan air.

Muncul persoalan yang mempertentangkan “pembangunan semen” melawan “pelestarian gua karst Gombong”. Pengusaha telah mengantongi izin pemerintah (1996) tentang “Analisis mengenai Dampak Lingkungan” (amdal) sehingga syarat legal dipenuhi. Namun, banyak pihak menentang pembangunan pabrik semen yang dianggap bakal merusak lingkungan kawasan karst Gombong.

DALAM laporannya Bung Otto berpendirian soal pro-kontra pembangunan pabrik semen harus dilihat dari kaca mata “Pembangunan Berkelanjutan”. Sejak Presiden Soeharto menyepakati keputusan “Konferensi Tingkat Tinggi Bumi” di
Rio, Brasil, 1992, Indonesia menganut kebijakan pembangunan berkelanjutan yang intrinsik masuk dalam pembangunan nasional rumusan Bappenas.

Bila “pembangunan konvensional” menempuh hanya satu jalur pembangunan ekonomi, “pembangunan berkelanjutan” merajut tiga unsur yang menyatu, yakni sustainabilitas ekonomi, sustainabilitas sosial, dan sustainabilitas ekologi-lingkungan. Agar usaha ekonomi berlanjut, perlu diperhitungkan dampaknya pada keberlanjutan kehidupan masyarakat sosial yang ditopang keberlanjutan fungsi ekologi-lingkungan sebagai sistem penunjang kehidupan makhluk alam.

Ekonomi tidak bisa berlanjut di tengah masyarakat yang menderita dampak negatif pembangunan berupa penggusuran penduduk, marginalisasi penduduk setempat karena tidak berpendidikan dan karena miskin tidak punya jaminan meminjam kredit perbankan. Pembangunan ekonomi serta sosial tidak bisa berlanjut bila sistem ekologi-lingkungan yang mendukung kehidupan alami amburadul, rusak, dan cemar.

Dalam mengkaji pro dan kontra pembangunan pabrik semen Gombong ini, Bung Otto memakai tolok ukur pembangunan berkelanjutan yang mencakup ketiga unsur ekonomi, sosial, dan ekologi-lingkungan. Unsur ekonomi mencakup ikhtiar memberantas kemiskinan, membuka lapangan kerja, mengembangkan eko-wisata. Unsur sosial memuat penanganan masalah gender dan masalah sosial akibat penutupan penambangan semen setelah bahan bakunya habis. Unsur ekologi-lingkungan meliputi konservasi karst Gombong Selatan, melestarikan volume dan kualitas air, menggunakan proses dan teknik produksi yang memperkecil pencemaran udara yang berdampak pada pemanasan global, dan mengembangkan produksi semen dengan cara-cara yang ramah lingkungan.

Unsur ekonomi, sosial, dan ekologi-lingkungan seyogianya terungkap melalui kajian amdal yang program penanggulangannya termaktub dalam “Rencana Kelola Lingkungan” (RKL) maupun “Rencana Pemantauan Lingkungan” (RPL). Kajian kritis terhadap hasil amdal yang disetujui Pemerintah tahun 1996 dan diuji di lapangan menunjukkan berbagai kelemahan prinsipiil. Yang paling serius adalah tak digunakannya pendekatan ekosistem yang mencakup ruang lingkup kawasan karst ini.

Dari sudut sustainabilitas ekonomi, kehadiran pabrik semen tidak otomatis mengurangi kemiskinan dan membuka lapangan kerja penduduk setempat karena rendahnya tingkat pendidikan rata-rata penduduk lokal sehingga mudah termarginalisasi oleh pendatang. Hal-hal ini tidak digubris RKL yang disusun.

Dari sudut sustainabilitas sosial, rendahnya indeks kesempatan perempuan masuk angkatan kerja dan menduduki jabatan kunci menunjukkan adanya diskriminasi perempuan di kabupaten Kebumen, sehingga dibutuhkan upaya khusus guna menanggapinya. Namun, hal ini tidak disinggung dalam RKL.

Dari sudut sustainabilitas ekologi-lingkungan tampak kelemahan pokok hasil amdal yang mengabaikan fungsi karst Gombong Selatan sebagai “waduk alam” yang amat penting karena mampu menyimpan air di Jawa Tengah selatan yang dikenal kering. Kawasan karst bagai busa yang menampung dan menyimpan air hujan untuk dialirkan dalam danau, air di bawah kawasan karst, dan sungai sepanjang tahun.

Akibat tekanan pertambahan penduduk pada dekade mendatang, Jawa akan menjadi “pulau kota” (tahun 2020). Dan air tawar menjadi bahan paling langka sehingga kemampuan alam melestarikan sumber air menjadi amat penting. “Sumbangan” Indonesia pada pencemaran udara global sudah amat besar. Jika di masa depan Indonesia masih tidak aktif mengendalikan emisi karbon dari kebakaran hutan dan pembakaran minyak bumi untuk energi, transportasi, dan industri, maka “sumbangan” Indonesia kian berarti bagi pencemaran udara. Hal ini meninggikan suhu global sehingga menaikkan permukaan laut yang bakal menenggelamkan pulau-pulau kecil di Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Ia juga mengubah iklim kawasan Asia. Kenaikan suhu bumi juga memperbesar pengeringan air permukaan dan berpengaruh buruk pada pola pertanian kita yang masih banyak mengandalkan aliran air permukaan daratan. Semua ini menaikkan nilai air bawah tanah yang dihasilkan kawasan karst Gombong Selatan.

TEKNOLOGI produksi semen di Indonesia boros energi dan menimbulkan emisi CO2 yang menyumbang pada kenaikkan suhu global. Kini, para produsen semen berbagai negara, antara lain Jepang, sudah menerapkan pola produksi blended cement yang bisa menurunkan separuh emisi CO2. Tidak tampak dalam RKL rencana mengurangi emisi CO2. Khusus dalam menanggapi dampak “penutupan penambangan bahan baku semen” ketika bahan baku habis, tidak ada dalam RKL usaha memelihara keberlanjutan pembangunan kawasan ini.

Sehingga Bung Otto menyimpulkan, suatu pola pembangunan berkelanjutan yang secara sadar memuat unsur keberlanjutan ekonomi, sosial, dan ekologi-lingkungan tidak bisa menerima kehadiran pembangunan pabrik semen di
Gombong Selatan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Pola pembangunan berkelanjutan yang didambakan perlu tertuang dalam rencana induk pengembangan kawasan karst Gombong. Rencana ini perlu disusun sebagai hasil musyawarah yang melibatkan semua pemuka masyarakat Kebumen di tempat dan di perantauan dan kita semua yang sadar akan kekhasan fungsi karst serta ancaman kelangkaan air kelak. Rencana ini perlu difokuskan pada penyelamatan kawasan karst Gombong yang sekaligus menjadi sentra penggerak pembangunan kawasan dan mencakup lima bidang kegiatan.

Pertama, pengembangan pariwisata seperti wisata gua, wisata bahari, dan eko-wisata yang didasarkan prinsip “pembangunan oleh masyarakat”. Bentuk wisata berupa menelusuri gua, berjalan-kaki, berkuda, dan bersepeda. Penginapan berupa “inap dan sarapan”, home-stay mengutamakan rumah-rumah rakyat bertoilet bersih serta dihindarinya pengembangan hotel berbintang.

Kedua, agro-perhutanan, mengembangkan agro-ekosistem terpadu dengan struktur tajuk bertingkat yang mencakup tumbuhan, hewan ternak, dan ikan. Sistem dibangun atas dasar pencagaran terintegrasi bermuatan kearifan ekologi penduduk.

Ketiga, pengembangan laboratorium geologi mencakup ilmu speleologi, hidrologi, bio-speleologi, dan sebagainya untuk kawasan alam tropis dan bekerja sama dalam jaringan lembaga ilmu pengetahuan Karangsambung, Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan.

Keempat, pelestarian dan pembudidayaan burung walet yang melibatkan masyarakat serta pakar burung walet sebagai stakeholders.

Kelima, pengembangan energi-terbarukan berupa mikroair, solar-matahari, angin, biomassa yang terdesentralisasi sehingga menunjang pembangunan di atas.

Dengan lima pokok Rencana Induk ini, dari kawasan karst Gombong dapat ditembakkan “peluru” contoh pola pembangunan berkelanjutan yang tidak lagi mempertentangkan pembangunan ekonomi dengan lingkungan tetapi menyatu dan terpusat meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil. Prajurit tua memang tak pernah mati. Mereka hanya melepaskan tembakan jika perlu.

(reposting atas seijin admin https://www.facebook.com/groups/138821779543097)

Mengenal (lebih dalam) Y-Anchor

Istilah Y-Achor sering kita dengar ketika seorang pembuat lintasan dalam sebuah penelusuran goa (riggingman) bermaksud membagi beban yang akan diterima oleh titik tambatan tali. Alasan lain seorang riggingman menentukan penggunaan Y-anchor adalah untuk menentukan titik jatuh tali agar timnya lebih mudah mengakses jalur ascending/descending, juga demi alasan keamanan seperti menjauhkan tali dari titik jatuhnya air jika sewaktu-waktu terjadi banjir. Pada alasan terakhir penulis pernah mengalami sendiri kontribusi Y-Anchor ketika terjebak banjir dalam sebuah penelusuran goa tahun 2000 silam di Sukabumi, Jawa Barat.

Y-Anchor-6

Y-Anchor digunakan untuk mempermudah akses menuju dasar goa (foto dok. ASC)

Pada perkembangan akhir-akhir ini, banyak kalangan mengira bahwa penggunaan Y-Anchor serta merta membagi beban yang akan diterima titik tambatan menjadi sama besar. Hal ini bisa saja benar namun bisa juga salah, karena ketika riggingman salah menempatkan sudut pembagian bisa jadi tujuan pembagian beban tersebut tidak akan tercapai. Atau justru malah berpotensi mencelakakan karena beban yang diterima masing-masing titik tambatan menjadi jauh lebih besar dari beban aslinya.

Untuk membagi beban, seorang riggingman biasanya akan menggunakan simpul yang memungkinkan tali memiliki tiga arah tarikan, dua arah tarikan pembagi dan satu arah tarikan beban utama. Jenis simpulnya beragam, namun secara umum ada fixed knot yaitu simpul yang tidak berubah ketika mendapat beban atau adjustable knot yaitu simpul yang bisa menyesuaikan diri ketika mendapat beban. Pada simpul terakhir biasa dikenal dengan istilah Self Equalizing Anchor (SEA).

Baiklah mari kita lakukan analisa terhadap beberapa sudut tertentu untuk mengetahui prinsip kerja Y-Anchor sebenarnya.

Analisa gaya yang bekerja pada Y-Anchor

Gaya yang bekerja pada Y-Anchor adalah saling meniadakan sehingga terjadi kesetimbangan. Pada posisi setimbang maka resultan gaya adalah nol.

Y-Anchor-1

Setelah kita memahami prinsip dasar kerja Y-anchor mari kita coba hitung beberapa sudutnya :

Y-Anchor-2

Y-Anchor-3

Y-Anchor-4

Y-Anchor-5

Dari beberapa perhitungan di atas dapat kita simpulkan bahwa :

  • Beban pada Y-Anchor akan terbagi rata pada masing-masing titik tambatan jika besar sudut α1 = sudut α2

  • Besar sudut maksimum yang direkomendasikan untuk pembuatan Y-Anchor adalah 120°, karena pada sudut sebesar ini masing-masing titik tambatan akan menerima beban yang sama dengan beban sebenarnya.

  • Y-Anchor dengan sudut lebih besar dari 120° tidak direkomendasikan, karena beban akan yang diterima oleh masing-masing titik tambat akan lebih besar dari beban sebenarnya.

 Referensi :

  • Warild, A, 1990 “Vertical Second Edition”, The Speleology Research, Sydney

  • Falah, 2005 “Rigging”, Materi Diklat Speleologi, Acintyacunyata Speleologycal Club, Yogyakarta

Versi PDF dapat didownload di sini Y-Anchor

Dapatkah PP No 26 Tahun 2008 Melindungi Kawasan Karst?

Terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Tata Wilayah Nasional beberapa waktu lalu memberikan secercah harapan bagi para penggiat penyelamatan kawasan karst di tanah air. Meskipun banyak cerita di balik keluarnya PP tersebut yang berbalut ketidakpuasan dan seolah-olah peraturan ini hadir akibat salah ketuk palu. Ironisnya, cerita-cerita ini bergulir dari mereka yang sebenarnya berada di lingkup pengambil kebijakan pengelolaan kawasan karst.

Aktivitas penambangan batugamping marak di daerah hulu Sungai Bribin, sistem sungai bawah tanah terbesar di Kawasan Karst Gunungsewu

Ditimbang-timbang, PP No 26 tahun 2008 ini sejatinya telah menempatkan karst pada tempat yang semestinya. Kawasan karst sebagai daerah yang memiliki potensi daya dukung terhadap kehidupan manusia dan berperan penting bagi keseimbangan ekologi sudah seharusnya dimasukkan dalam kawasan lindung. Ini adalah hal penting yang tidak dimiliki peraturan sebelumnya, yaitu KEPMEN ESDM NO 1456 tahun 2000.

Pada peraturan terbitan Menteri ESDM tahun 2000 tersebut kawasan karst dibagi menjadi tiga kelas : kelas I sebagai kawasan lindung, kelas II dan III sebagai kawasan budidaya. Implementasi di lapangan, karena motivasi kepentingan pemilik modal yang bermain mata dengan pejabat dan permainan uang yang membeli idealisme oknum peneliti dan pengambil kebijakan, semua kawasan karst diarahkan menjadi kawasan kelas II dan III. Hasilnya bisa kita lihat, dari tahun 2000 banyak tambang baik skala menengah – besar berdiri dengan leluasa di kawasan karst yang sebenarnya termasuk kawasan karst kelas I.

Bagaimana dengan PP No. 26 tahun 2008? mampukah regulasi yang baru seumur jagung ini melindungi kawasan karst di Indonesia?

Ujian pertama PP No. 26 tahun 2008 ketika terjadi polemik pendirian pabrik semen oleh PT. Semen Gresik di Kabupaten Pati – Jawa Tengah tahun 2008 silam. Silang sengketa ini berlangsung di Kawasan Karst yang membentang di tiga kabupaten : Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora. Masyarakat mengenal kawasan ini sebagai Pegunungan Kendeng, namun berdasarkan zonasi Van Bemmelen, kawasan karst ini termasuk dalam Zona Rembang.

Pada draft kajian Amdal pendirian pabrik semen tersebut, PP No. 26 tahun 2008 tidak dimasukkan sebagai salah satu dasar hukum penelitian. Tim penyusun AMDAL bahkan sama sekali tidak mengetahui adanya PP ini, Tim penyusun AMDAL baru mendengar tentang PP ini dalam sesi tanya jawab dengan peserta sidang AMDAL yang dihadiri warga yang menolak pendirian pabrik semen, LSM, akademisi dan kelompok peneliti independen. Saat itu, bahkan KEPMEN ESDM No. 1456 baru dimunculkan setelah selesai sidang AMDAL dan polemik memanas di media massa nasional.

Pergulatan opini, hasil kajian akademis, kepentingan pejabat publik saling tarik ulur, keberadaan PP 26 tahun 2008 sama sekali tidak diperhitungan dalam polemik yang berujung pada sidang peradilan tersebut. Lembaga pengambil kebijakan yang bertugas mengklasifikasi kawasan karst bahkan masih bersikukuh menggunakan payung hukum yang lama. Metode klasifikasinya pun tergolong sangat ketinggalan jaman dengan tidak menggunakan metode-metode penelitian karst yang lebih spesifik dan termutakhir. Hasilnya, sangat bisa ditebak…kawasan karst yang rencananya akan ditambang masuk pada kategori kelas II dan III.

Beruntung, hakim di pengadilan negeri dan Mahkamah Agung saat itu masih tidak bisa diintervensi dengan uang. Mereka membatalkan seluruh proses yang telah dilakukan oleh PT. Semen Gresik, bukan karena kehadiran PP No.26 Tahun 2008, melainkan karena cacat hukum perihal perijinan.

Jalan panjang PP No.26 tahun 2008 rupanya masih menikung-nikung di negeri ini. Pasal-pasalnya yang berlapis dan mengharuskan kawasan karst masuk dalam kawasan lindung masih diliputi kabut tebal. Untuk menjadi kawasan lindung, sebuah kawasan yang sudah jelas memiliki kriteria sebagai kawasan karst harus ditetapkan terlebih dahulu sebagai kawasan karst oleh kepala daerah setempat dan ditetapkan oleh lembaga setingkat kementerian jika lintas administratif.

Sebelum ditetapkan, kawasan tersebut harus diidentifikasi terlebih dahulu, dan celakanya identifikasi yang diakui selama ini masih identifikasi dari lembaga pemerintahan yang justru mengasumsikan PP No 26 tahun sebagai produk salah ketuk. Hasil identifikasi dari pihak ketiga atau kelompok profesi meskipun menggunakan metodologi ilmiah berbasis pengetahuan karst yang komperehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis masih saja dipandang sebelah mata.

Saat ini, di luar sana…PP No.26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional masih terus bertarung, menjadi salah satu baju pelindung kawasan karst yang belum teruji kekebalannya. Sementara, taring-taring kaum korporate, didukung pejabat-pejabat korup terus mengincar kawasan karst satu demi satu. (A.B. Rodhial Falah)

Vandalis Itu Berkedok Penelusur Goa

Sebelumnya saya tidak menyadari bahwa foto karya Akhmad Zona Adiardi yang saya upload ke akun facebook beberapa waktu lalu merekam suatu hal yang penting untuk diperhatikan oleh penggiat speleologi. Saya baru sadar ada keganjilan dalam foto tersebut ketika ada seorang rekan memberikan komentar, bahwa tidak hanya aksi “narsis berjamaah” yang terekam, namun sebentuk gambar pola yang jelas adalah buatan manusia.

Gambar hasil karya vandalis di lokasi wisata minat khusus Goa Cokro terekam di sisi sebelah kanan (foto : Akhmad Zona Adiardi)

Dalam situasi biasa, gambar pola bukanlah suatu hal yang penting…namun coba kita perhatikan, di mana gambar pola tersebut berada. Gambar itu terlukis pada sebuah dinding goa yang sulit dijamah orang awam tanpa bantuan pemandu terlatih dan perlengkapan yang memadai. Gambar pola itu menutupi sejenis ornamen goa yang berasal dari keluarga flowstone, yang tentu saja terbentuk tidak dalam waktu yang singkat.

Dari sisi estetika, jelas gambar itu bukan karya yang layak untuk diapresiasi. Bagi mereka yang menjunjung tinggi kaidah penelusuran goa….jelas itu adalah karya vandalisme. Ironis jika justru pelaku vandalis itu adalah mereka yang mengaku penggiat penelusuran goa. Namun kemungkinan ini jadi berkurang karena aksi vandalis yang terekam dalam foto tersebut terjadi di goa yang telah dibuka menjadi lokasi wisata minat khusus sejak 2007 lalu. Jadi pelakunya bisa siapa saja yang mengunjungi goa tersebut.

Wisatawan membutuhkan seperangkat alat untuk menuruni goa vertikal

Sebut saja Goa Cokro, salah satu goa di Kawasan Karst Gunungsewu yang memiliki pintu masuk berjenis vertikal. Memasuki goa ini membutuhkan seperangkat alat penelusuran goa vertikal, berupa tali kernmantel, seperangkat alat penambat dan pengaman tubuh. Teknik ini dikenal sebagai Single Rope Technique (SRT). Sebelum marak, aktivitas SRT hanya bisa dilakukan oleh mereka yang terlatih khusus di komunitas pecinta alam, klub susur goa/panjat tebing dan kalangan militer. Beberapa tahun terakhir, teknik ini dapat dengan mudah dilakukan (bukan dikuasai) orang awam dibawah instruksi pemandu terlatih.

Dibukanya Cokro sebagai lokasi minat khusus tentu saja dengan niat awal mengenalkan potensi kawasan, alternatif potensi selain batugamping sebagai bahan tambang. Niatan yang sungguh mulia, namun sejatinya perlu pengelolaan dan sistem kontrol yang lebih intensif. Terlebih sejak dijadikan lokasi pendidikan dasar penelusuran goa tahun 1995 silam, Goa Cokro merupakan goa vertikal yang memiliki jumlah kunjungan paling tinggi di Gunungkidul (barangkali juga di Pulau Jawa).

Pola-pola alami yang terbentuk di dinding goa sebagai sisa hasil aktivitas mikroorganisme purba.

Kunjungan yang demikian deras hampir tiap minggu di Goa Cokro, tentu saja membuka peluang terjadinya tindak vandalisme oleh pengunjung. Terlebih pemandu wisata yang seluruhnya adalah penduduk lokal masih memiliki rasa ewuh pakewuh alias segan dan nyaris “tidak berani” mengontrol pengunjung terutama yang berasal dari kelompok yang mengaku pecinta alam. Sistem pendampingan hanya berlaku bagi mereka yang berstatus “wisatawan”, bukan penggiat. Lebih memprihatinkan jika mereka yang mengaku penggiat penelusur goa ternyata menyimpan jiwa merusak dan sama sekali tidak memiliki rasa “cinta” pada alam.

Barangkali perlu ditelaah lagi apa sebenarnya yang dimaksud wisata minat khusus. Apakah cukup pengelolaan secara teknis saja? Apakah cukup melakukan sistem pengawasan dan pendampingan hanya pada mereka yang berlabel “wisatawan” atau “turis”? Apakah perlu melakukan pembatasan kunjungan? Bagaimana nasib goa yang “dikorbankan” jika suatu hari keindahan yang ditawarkan tak ubahnya tembok-tembok kota yang penuh dengan mural seniman-seniman jalanan? Lalu apa sebenarnya yang khusus dari wisata tersebut?

Mari kita cari jawabnya bersama-sama….(A.B. Rodhial Falah)

Melukis(lah) Dengan Cahaya

Fotografi telah berkembang sedemikian rupa, hanya satu yang tidak berubah dari dahulu, yakni konsep dasar bahwa fotografi adalah sebuah aktivitas melukis dengan cahaya. Perkembangan teknologi digital semakin mempermudah pekerjaan fotografi, meski demikian manusia sebagai pengambil keputusan di belakang kamera, masih menjadi bagian terpenting dalam setiap rangkaian proses penciptaan karya fotografi.

Di ruang gelap tanpa cahaya, seni melukis dengan cahaya menjadi semakin hidup denyutnya. Setiap fotografer yang sedang terlibat dengan proses pemotretan di kondisi yang demikian, merasakan detak-detak tersebut. Denyut tantangan menjadi semakin berlipat ketika ruang gelap bukan saja memiliki zona hitam yang kelam, namun menyuguhkan kesulitan lain bagi fotografer dan segenap peralatannya, kelembaban ekstrem…ancaman air dan lumpur, kandungan mineral kalsit yang menyelimuti ornamen goa, serta beberapa faktor yang selalu membuat perhitungan-perhitungan anda meleset. Fotografi yang demikian menantang ini ada di dunia penelusuran goa.

Di permukaan, segala sumber cahaya melimpah disediakan oleh matahari. Lampu-lampu penerang ruangan dan jalanan nyaris selalu ada di setiap tempat. Di dekat entrance goa, kita masih bisa memanfaatkan available light dari pendaran atau terobosan cahaya matahari. Di kedalaman goa, sumber cahaya harus disediakan sendiri oleh fotografer. Entah itu flash elektronik, cahaya karbit, nyala lilin, cahaya senter atau flashbulb. Semua sumber cahaya tersebut bisa kita manfaatkan secara terpisah atau kita manfaatkan semua.

Tentu saja setiap sumber cahaya memiliki karakter yang berbeda-beda. Flash elektronik seperti yang biasa digunakan fotografer pada umumnya, memiliki karakter yang keras dan durasi penyinaran yang sangat pendek. Hasilnya bisa kita bayangkan, obyek akan menjadi freeze dan kontras gambar akan menjadi tinggi. Flash elektronik memiliki temperatur warna lebih kurang 6000 derajat Kelvin. Pada setting White Balance (WB) daylight, kita akan mendapatkan efek kebiruan.

Mengkombinasikan cahaya dari lampu karbit sebagai mainlight dan elektronik flash untuk mendapatkan efek backlight

Penerangan berbahan bakar karbit dewasa ini semakin jarang digunakan. Selain tidak efisien dan relatif lebih mahal, penerangan jenis ini dituding oleh sebagian kalangan tidak konservatif. Beberapa kalangan meyakini, penerangan jenis ini berpotensi menaikkan temperatur ruang, menimbulkan polutan sisa pembakaran dan membuat hidung anda tak ubahnya seperti knalpot kendaraan bermotor. Untuk keperluan fotografi, saya pribadi menyukai jenis pencahayaan ini. Warna yang dihasilkan memberi kesan hangat dan mampu menyinari lorong goa lebih merata dibandingkan flash elekronik. Penerangan karbit memiliki temperatur warna berkisar 2400 derajat Kelvin, sehingga jika tidak hati-hati gambar anda akan didominasi warna kuning – merah.

Menggunakan flash elektronik tunggal sebagai cahaya utama

Cahaya lilin nyaris memberikan efek yang sama dengan efek penerangan karbit. Temperatur warna lebih rendah yang dimiliki lilin – sekitar 1400 derajat kelvin – akan memberikan efek merah hingga keemasan. Dalam kondisi tertentu, lilin tidak mampu menyala dengan baik di dalam goa, terutama ketika kita hendak memotret di lorong dengan kondisi oksigen yang minim. Nyala api yang cenderung tidak stabil juga akan menyulitkan anda memperoleh exposure yang tepat. Cahaya lilin jarang digunakan dalam pemotretan goa.

Available lighting dari mulut goa dipadukan dengan flash elektronik

Merekam lorong goa yang cukup lebar dengan menggunakan cahaya senter

Flashbulb merupakan sumber cahaya terbaik untuk fotografi goa. Selain memiliki kekuatan pancar yang tinggi (10.000 – 140.000 lumens), flashbulb memiliki durasi pancar yang lama dengan karakter cahaya mendekati cahaya matahari (temperatur warna 3500 – 5400 derajat Kelvin). Kelebihan ini memudahkan fotografer untuk menerapkan teknik-teknik fotografi seperti membuat efek motion pada aliran air. Fotografer juga lebih leluasa merekam lorong-lorong yang lebar. Kendalanya adalah selain mahal, flashbulb tidak lagi bisa didapatkan di Indonesia. Sumber cahaya yang bisa mendekati flashbulb adalah cahaya senter dengan kekuatan pancar/lumens yang tinggi. (Teks & Foto : A.B. Rodhial Falah)

Lubang Itu Bernama Luweng Ombo

Kami berjalan berputar-putar menembus gelapnya malam. GPS handheld yang menjadi pemandu kami satu-satunya seolah tak berdaya membimbing kami menemukan titik tujuan, sebuah lubang yang menjadi pintu masuk ke lorong bawah tanah. Jalan setapak yang kami ikuti selalu tiba-tiba lenyap ditelan rimbunnya semak dan terjalnya lembah. Waktu menunjukkan pukul 18.45 WIB ketika akhirnya kami putuskan untuk beristirahat sejenak, sekedar menyeka keringat dan membasahi kerongkongan yang sudah mulai mengering.

Malam hari selalu merupakan waktu  yang buruk untuk memulai perjalanan dan melakukan orientasi medan di daerah perbukitan kapur, terutama ketika hendak menjelajahi goa baru yang belum pernah didatangi sebelumnya. Keterbatasan jarak pandang menjadi kendala yang cukup membuat tim mengerutkan kening meski telah membekali diri dengan peralatan navigasi lengkap. Namun, malam hari merupakan waktu yang cukup kompromis bagi penelusur goa dengan para penghuni goa semisal kelelawar, setidaknya kelelawar penghuni goa sedang pergi keluar mencari makan hingga menjelang pagi.

Penelusur menggunakan seperangkat alat Single Rope Technique untuk menuruni sumuran vertikal

Hari itu kami terlambat memulai perjalanan, mulai dari menunggu lengkapnya personil tim hingga kesulitan mencari basecamp karena kesalahan informasi yang kami terima sejak awal. Setelah berkali-kali bertanya pada penduduk setempat, akhirnya rumah Pak Saguh yang menjadi tujuan basecamp kami temukan. Setelah berbicang sejenak dengan pemilik rumah, kami segera berbenah menyiapkan diri  untuk perjalanan sebenarnya. Hari menjelang magrib ketika kaki kami melangkah keluar basecamp.

“Sebaiknya tim kita bagi dua, dua orang menjaga perbekalan dan dua lagi bertugas mencari lokasi mulut goa”, kata saya pada ketiga rekan yang terlihat lelah karena masing-masing dari kami harus memanggul beban nyaris 20 kilogram dan berjalan naik turun bukit menembus lebatnya semak. Usul saya disetujui, Irfan dan Galang segera berangkat melanjutkan pencarian mulut goa tanpa beban, sementara saya dan Amar bertugas menjaga perbekalan. Selang 40 menit kemudian tim Irfan memberikan kabar melalui Walkie Talkie mulut Luweng Ombo telah ketemu, saya dan Amar bergegas mengangkut semua perbekalan menuju lokasi dengan dipandu tanda senter dari Irfan.

Mulut Luweng Ombo terletak di lereng sebuah bukit kapur. Jika tidak berputar-putar sebenarnya hanya membutuhkan 30 menit berjalan kaki dari kampung terdekat. Berupa lubang tegak dengan diameter 10 meteran yang terbentuk karena proses runtuhan. Untuk mengetahui berapa kedalaman luweng ini, kami melemparkan batu kedalamnya dan menghitung berapa detik batu yang kami lempar tadi membentur dasar goa. Dengan perhitungan sederhana kami memperkirakan Luweng Ombo memiliki kedalaman sekitar 20 meteran untuk pitch pertama. Kami berharap di bawahnya masih ada pitch-pitch berikutnya. Sungguh beruntung jika kami bisa menemukan sebuah sistem sungai bawah tanah. semoga….

Amar dibantu Galang sebagai asisten rigging segera memasang tambatan tali. Karakter batuan yang lepas-lepas membuat proses rigging memakan waktu yang cukup lama. “Rope Free…!!!” teriak Amar ketika ia sudah terbebas dari tali dan berlindung di sebuah ceruk di dasar sebuah teras. Batuan di goa ini mudah sekali rontok. terbukti ketika Galang turun berikutnya, serangkaian batu berjatuhan, suaranya berdentum menimbulkan gema yang cukup menciutkan nyali. Sementara saya dan Irfan sudah mulai sibuk mengambil data pengukuran untuk membuat peta goa. Waktu menunjukkan pukul 22.15 WIB ketika giliran saya tiba untuk descending menuruni goa.

Teras yang tempat berpijak kami ternyata merupakan bagian landai dari lantai goa yang miring lebih dari 45 derajat. Pengalaman saya mengatakan bahwa goa ini tidak akan memiliki lorong panjang. Tidak ada lagi gema atau fluktuasi udara yang saya rasakan setelah beberapa saat berada di teras. Namun kami perlu sekali lagi memasang tali untuk membuktikan apakah dugaan saya benar tentang goa ini. Maka satu persatu kami pun menuruni lereng terjal di depan kami, sambil masih terus berharap menemukan lorong berikutnya. Sesampai di ujung lantai pertama goa, ternyata kami masih harus menuruni sumuran vertikal lagi, namun hanya sedalam 5 meter. Dan benar, ternyata dasar sumuran ini adalah akhir dari perjalanan kami hari ini.

Waktu menunjukkan pukul 24.05 WIB, artinya kemungkinan besar kami akan menginap di dalam goa. Selain rasa mengantuk yang sudah menyerang, tubuh kami sudah terlalu lelah untuk kembali ke permukaan. Sambil menunggu kopi tersaji, saya menyempatkan diri memotret sepasang tulang yang tergolek diujung lorong. Seluruhnya telah terbalut mineral kalsit, namun masih bisa kami pastikan itu adalah sepasang tulang kaki manusia. Entah punya siapa, bisa jadi pencari walet yang terperosok atau orang lain. Di dasar goa, kami menjumpai batang bambu panjang yang dipasangi bilah-bilah sebagai pijakan kaki. Hmm…rupanya kami bukan orang pertama yang mengunjungi goa ini. Tentu saja hanya pencari walet yang memiliki nyali sebesar itu, menuruni lubang vertikal sedalam 30 meteran dengan tangga bambu tunggal yang disambung-sambung.

Di dasar goa, vegetasi cukup lebat. mengingatkan kami pada Goa Jomblang atau Luweng Ombo di Pacitan, namun Luweng Ombo yang kami turuni kali ini berukuran jauh lebih kecil dan tidak terhubung dengan lorong lain sebagaimana Goa Jomblang dan Luweng Ombo Pacitan. Menjelang dinihari kami merebahkan badan dan tertidur pulas, menunggu esok pagi untuk kembali ke permukaan.

(Teks dan Foto : A.B. Rodhial Falah, Tim Penelusur Goa : Irfanianto, Galang Hanindito, Amar – Investigasi Speleologi – Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta, Desember 2011)

MENGENAL FUNGSI KAWASAN KARST DAN UPAYA PERLINDUNGANNYA

(Makalah ini disampaikan oleh A.B. Rodhial Falah & Akhmad Zona Adiardi – Acintyacunyata Speleological Club dalam Kemah Konservasi BKSDA Propinsi Yogyakarta 26 – 27 November 2011)

Abstract :

Kawasan Karst merupakan ekosistem yang terbentuk dalam kurun waktu ribuan tahun, tersusun atas batuan karbonat (batukapur/batugamping) yang mengalami proses pelarutan sedemikian rupa hingga membentuk kenampakan morfologi dan tatanan hidrologi yang unik dan khas. Indonesia memiliki wilayah karst seluas 154.000 km persegi yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Salah satunya terletak di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah dikenal secara internasional sebagai Kawasan Karst Gunungsewu. Kawasan Karst Gunungsewu membentang dari sebelah timur Tinggian Imogiri hingga Kabupaten Pacitan bagian barat dengan luas mencapai 13.000 kilometer persegi. Karst Gunungsewu memiliki potensi yang luar biasa bagi penunjang kehidupan manusia. Berdasarkan sifat fisiknya, kawasan karst memiliki fungsi utama sebagai akuifer air yang memenuhi air baku bagi ratusan ribu masyarakat yang hidup di dalamnya, kawasan ini juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem regional. Namun demikian, kawasan karst merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap perubahan. Aktivitas manusia menjadi ancaman terbesar terhadap kelestarian fungsi ekologi karst. Hilangnya fungsi ekologi karst merupakan bencana bagi kehidupan manusia yang mustahil untuk dihindarkan.

Keywords : Karst, Karst Gunungsewu, Fungsi Ekologi Karst, Konservasi Karst

Asal istilah “karst” dapat dilacak ulang pada masa Pre Indo-European, di mana karst merupakan akar kata dari karra/garrayang berarti batu (Gams 1973a, 1991a, 2003; Kranj 2001a dalam Ford & William, 2007). Istilah ini merupakan kata jadian yang banyak ditemukan di wilayah Eropa dan Timur Tengah untuk menunjuk suatu daerah di perbatasan Slovenia – Italia, yaitu Dinaric Karst.

Di Slovenia, istilah Karramengalami evolusi linguistik menjadi kars/kras yang bermakna daerah berbatu dan tandus. Pada akhir abad-18 hingga pertengahan abad 19, The Geographical & Geological Schooldi Vienna selalu menggunakan istilah kars/kras untuk menamakan daerah dengan “fenomena karst” dan berhasil meyakinkan dunia internasional untuk menggunakan istilah karst sebagai istilah ilmiah untuk menamakan daerah yang memiliki fenemina khas hingga sekarang.

Karst saat ini didefinisikan sebagai daerah yang memiliki bentang alam dan pola hidrologi khusus yang terbentuk dari kombinasi sifat batuan yang memiliki tingkat kelarutan tinggi serta porositas sekunder yang berkembang dengan baik (Ford & William, 2007). Bentang alam dan pola hidrologi khusus tersebut antara lain dicirikan dengan keterdapatan goa-goa, cekungan-cekungan tertutup, pola aliran celah, kenampakan jejak aliran purba (flute rock outcrops) dan kelimpahan mata air.

Salah satu faktor yang paling banyak menarik perhatian para ahli adalah keberadaan goa pada daerah karst. Goa karst merupakan laboratorium yang menyimpan berbagai informasi berharga untuk kegiatan maupun pekerjaan ilmiah di bawah permukaan daerah karst.

Kawasan Karst yang dimiliki oleh Kabupaten Gunungkidul (Karst Gunungsewu) merupakan satu-satunya kawasan karst di Indonesia yang paling lengkap diteliti oleh para ahli baik dari dalam maupun luar negeri. Penyelidikan Karst Gunungsewu diawali oleh Lehman pada awal abad 20, yaitu dengan memperkenalkan tipe karst yang didominasi bentuk kerucut (conical hill). Penyelidikan ini kemudian dilanjutkan oleh Bothe (1929) dan Bemmelen (1949).

Secara umum karst memiliki dua aspek kajian, yaitu exokarst(karst permukaan) dan endokarst(karst bawah permukaan). Penyelidikan ilmiah yang dilakukan oleh Lehman, Bothe dan Bemmelen di kawasan Karst Wonosari baru menyentuh aspek-aspek exokarst, mengenai tatanan geologi yang merupakan bagian kecil dari kajian tentang Pegunungan Selatan. Kajian tentang endokarstsendiri baru dilakukan pada tahun 1983 oleh tim peneliti yang dipimpin Sir MacDonald, tergabung dalam British Cave And Research Assosiation(BCRA) dalam rangka kerjasama Departemen Pekerjaan Umum RI dengan Biro Kerjasama Luar Negeri Kerajaan Inggris.

Continue reading