Dapatkah PP No 26 Tahun 2008 Melindungi Kawasan Karst?

Terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Tata Wilayah Nasional beberapa waktu lalu memberikan secercah harapan bagi para penggiat penyelamatan kawasan karst di tanah air. Meskipun banyak cerita di balik keluarnya PP tersebut yang berbalut ketidakpuasan dan seolah-olah peraturan ini hadir akibat salah ketuk palu. Ironisnya, cerita-cerita ini bergulir dari mereka yang sebenarnya berada di lingkup pengambil kebijakan pengelolaan kawasan karst.

Aktivitas penambangan batugamping marak di daerah hulu Sungai Bribin, sistem sungai bawah tanah terbesar di Kawasan Karst Gunungsewu

Ditimbang-timbang, PP No 26 tahun 2008 ini sejatinya telah menempatkan karst pada tempat yang semestinya. Kawasan karst sebagai daerah yang memiliki potensi daya dukung terhadap kehidupan manusia dan berperan penting bagi keseimbangan ekologi sudah seharusnya dimasukkan dalam kawasan lindung. Ini adalah hal penting yang tidak dimiliki peraturan sebelumnya, yaitu KEPMEN ESDM NO 1456 tahun 2000.

Pada peraturan terbitan Menteri ESDM tahun 2000 tersebut kawasan karst dibagi menjadi tiga kelas : kelas I sebagai kawasan lindung, kelas II dan III sebagai kawasan budidaya. Implementasi di lapangan, karena motivasi kepentingan pemilik modal yang bermain mata dengan pejabat dan permainan uang yang membeli idealisme oknum peneliti dan pengambil kebijakan, semua kawasan karst diarahkan menjadi kawasan kelas II dan III. Hasilnya bisa kita lihat, dari tahun 2000 banyak tambang baik skala menengah – besar berdiri dengan leluasa di kawasan karst yang sebenarnya termasuk kawasan karst kelas I.

Bagaimana dengan PP No. 26 tahun 2008? mampukah regulasi yang baru seumur jagung ini melindungi kawasan karst di Indonesia?

Ujian pertama PP No. 26 tahun 2008 ketika terjadi polemik pendirian pabrik semen oleh PT. Semen Gresik di Kabupaten Pati – Jawa Tengah tahun 2008 silam. Silang sengketa ini berlangsung di Kawasan Karst yang membentang di tiga kabupaten : Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora. Masyarakat mengenal kawasan ini sebagai Pegunungan Kendeng, namun berdasarkan zonasi Van Bemmelen, kawasan karst ini termasuk dalam Zona Rembang.

Pada draft kajian Amdal pendirian pabrik semen tersebut, PP No. 26 tahun 2008 tidak dimasukkan sebagai salah satu dasar hukum penelitian. Tim penyusun AMDAL bahkan sama sekali tidak mengetahui adanya PP ini, Tim penyusun AMDAL baru mendengar tentang PP ini dalam sesi tanya jawab dengan peserta sidang AMDAL yang dihadiri warga yang menolak pendirian pabrik semen, LSM, akademisi dan kelompok peneliti independen. Saat itu, bahkan KEPMEN ESDM No. 1456 baru dimunculkan setelah selesai sidang AMDAL dan polemik memanas di media massa nasional.

Pergulatan opini, hasil kajian akademis, kepentingan pejabat publik saling tarik ulur, keberadaan PP 26 tahun 2008 sama sekali tidak diperhitungan dalam polemik yang berujung pada sidang peradilan tersebut. Lembaga pengambil kebijakan yang bertugas mengklasifikasi kawasan karst bahkan masih bersikukuh menggunakan payung hukum yang lama. Metode klasifikasinya pun tergolong sangat ketinggalan jaman dengan tidak menggunakan metode-metode penelitian karst yang lebih spesifik dan termutakhir. Hasilnya, sangat bisa ditebak…kawasan karst yang rencananya akan ditambang masuk pada kategori kelas II dan III.

Beruntung, hakim di pengadilan negeri dan Mahkamah Agung saat itu masih tidak bisa diintervensi dengan uang. Mereka membatalkan seluruh proses yang telah dilakukan oleh PT. Semen Gresik, bukan karena kehadiran PP No.26 Tahun 2008, melainkan karena cacat hukum perihal perijinan.

Jalan panjang PP No.26 tahun 2008 rupanya masih menikung-nikung di negeri ini. Pasal-pasalnya yang berlapis dan mengharuskan kawasan karst masuk dalam kawasan lindung masih diliputi kabut tebal. Untuk menjadi kawasan lindung, sebuah kawasan yang sudah jelas memiliki kriteria sebagai kawasan karst harus ditetapkan terlebih dahulu sebagai kawasan karst oleh kepala daerah setempat dan ditetapkan oleh lembaga setingkat kementerian jika lintas administratif.

Sebelum ditetapkan, kawasan tersebut harus diidentifikasi terlebih dahulu, dan celakanya identifikasi yang diakui selama ini masih identifikasi dari lembaga pemerintahan yang justru mengasumsikan PP No 26 tahun sebagai produk salah ketuk. Hasil identifikasi dari pihak ketiga atau kelompok profesi meskipun menggunakan metodologi ilmiah berbasis pengetahuan karst yang komperehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis masih saja dipandang sebelah mata.

Saat ini, di luar sana…PP No.26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional masih terus bertarung, menjadi salah satu baju pelindung kawasan karst yang belum teruji kekebalannya. Sementara, taring-taring kaum korporate, didukung pejabat-pejabat korup terus mengincar kawasan karst satu demi satu. (A.B. Rodhial Falah)

Vandalis Itu Berkedok Penelusur Goa

Sebelumnya saya tidak menyadari bahwa foto karya Akhmad Zona Adiardi yang saya upload ke akun facebook beberapa waktu lalu merekam suatu hal yang penting untuk diperhatikan oleh penggiat speleologi. Saya baru sadar ada keganjilan dalam foto tersebut ketika ada seorang rekan memberikan komentar, bahwa tidak hanya aksi “narsis berjamaah” yang terekam, namun sebentuk gambar pola yang jelas adalah buatan manusia.

Gambar hasil karya vandalis di lokasi wisata minat khusus Goa Cokro terekam di sisi sebelah kanan (foto : Akhmad Zona Adiardi)

Dalam situasi biasa, gambar pola bukanlah suatu hal yang penting…namun coba kita perhatikan, di mana gambar pola tersebut berada. Gambar itu terlukis pada sebuah dinding goa yang sulit dijamah orang awam tanpa bantuan pemandu terlatih dan perlengkapan yang memadai. Gambar pola itu menutupi sejenis ornamen goa yang berasal dari keluarga flowstone, yang tentu saja terbentuk tidak dalam waktu yang singkat.

Dari sisi estetika, jelas gambar itu bukan karya yang layak untuk diapresiasi. Bagi mereka yang menjunjung tinggi kaidah penelusuran goa….jelas itu adalah karya vandalisme. Ironis jika justru pelaku vandalis itu adalah mereka yang mengaku penggiat penelusuran goa. Namun kemungkinan ini jadi berkurang karena aksi vandalis yang terekam dalam foto tersebut terjadi di goa yang telah dibuka menjadi lokasi wisata minat khusus sejak 2007 lalu. Jadi pelakunya bisa siapa saja yang mengunjungi goa tersebut.

Wisatawan membutuhkan seperangkat alat untuk menuruni goa vertikal

Sebut saja Goa Cokro, salah satu goa di Kawasan Karst Gunungsewu yang memiliki pintu masuk berjenis vertikal. Memasuki goa ini membutuhkan seperangkat alat penelusuran goa vertikal, berupa tali kernmantel, seperangkat alat penambat dan pengaman tubuh. Teknik ini dikenal sebagai Single Rope Technique (SRT). Sebelum marak, aktivitas SRT hanya bisa dilakukan oleh mereka yang terlatih khusus di komunitas pecinta alam, klub susur goa/panjat tebing dan kalangan militer. Beberapa tahun terakhir, teknik ini dapat dengan mudah dilakukan (bukan dikuasai) orang awam dibawah instruksi pemandu terlatih.

Dibukanya Cokro sebagai lokasi minat khusus tentu saja dengan niat awal mengenalkan potensi kawasan, alternatif potensi selain batugamping sebagai bahan tambang. Niatan yang sungguh mulia, namun sejatinya perlu pengelolaan dan sistem kontrol yang lebih intensif. Terlebih sejak dijadikan lokasi pendidikan dasar penelusuran goa tahun 1995 silam, Goa Cokro merupakan goa vertikal yang memiliki jumlah kunjungan paling tinggi di Gunungkidul (barangkali juga di Pulau Jawa).

Pola-pola alami yang terbentuk di dinding goa sebagai sisa hasil aktivitas mikroorganisme purba.

Kunjungan yang demikian deras hampir tiap minggu di Goa Cokro, tentu saja membuka peluang terjadinya tindak vandalisme oleh pengunjung. Terlebih pemandu wisata yang seluruhnya adalah penduduk lokal masih memiliki rasa ewuh pakewuh alias segan dan nyaris “tidak berani” mengontrol pengunjung terutama yang berasal dari kelompok yang mengaku pecinta alam. Sistem pendampingan hanya berlaku bagi mereka yang berstatus “wisatawan”, bukan penggiat. Lebih memprihatinkan jika mereka yang mengaku penggiat penelusur goa ternyata menyimpan jiwa merusak dan sama sekali tidak memiliki rasa “cinta” pada alam.

Barangkali perlu ditelaah lagi apa sebenarnya yang dimaksud wisata minat khusus. Apakah cukup pengelolaan secara teknis saja? Apakah cukup melakukan sistem pengawasan dan pendampingan hanya pada mereka yang berlabel “wisatawan” atau “turis”? Apakah perlu melakukan pembatasan kunjungan? Bagaimana nasib goa yang “dikorbankan” jika suatu hari keindahan yang ditawarkan tak ubahnya tembok-tembok kota yang penuh dengan mural seniman-seniman jalanan? Lalu apa sebenarnya yang khusus dari wisata tersebut?

Mari kita cari jawabnya bersama-sama….(A.B. Rodhial Falah)

Melukis(lah) Dengan Cahaya

Fotografi telah berkembang sedemikian rupa, hanya satu yang tidak berubah dari dahulu, yakni konsep dasar bahwa fotografi adalah sebuah aktivitas melukis dengan cahaya. Perkembangan teknologi digital semakin mempermudah pekerjaan fotografi, meski demikian manusia sebagai pengambil keputusan di belakang kamera, masih menjadi bagian terpenting dalam setiap rangkaian proses penciptaan karya fotografi.

Di ruang gelap tanpa cahaya, seni melukis dengan cahaya menjadi semakin hidup denyutnya. Setiap fotografer yang sedang terlibat dengan proses pemotretan di kondisi yang demikian, merasakan detak-detak tersebut. Denyut tantangan menjadi semakin berlipat ketika ruang gelap bukan saja memiliki zona hitam yang kelam, namun menyuguhkan kesulitan lain bagi fotografer dan segenap peralatannya, kelembaban ekstrem…ancaman air dan lumpur, kandungan mineral kalsit yang menyelimuti ornamen goa, serta beberapa faktor yang selalu membuat perhitungan-perhitungan anda meleset. Fotografi yang demikian menantang ini ada di dunia penelusuran goa.

Di permukaan, segala sumber cahaya melimpah disediakan oleh matahari. Lampu-lampu penerang ruangan dan jalanan nyaris selalu ada di setiap tempat. Di dekat entrance goa, kita masih bisa memanfaatkan available light dari pendaran atau terobosan cahaya matahari. Di kedalaman goa, sumber cahaya harus disediakan sendiri oleh fotografer. Entah itu flash elektronik, cahaya karbit, nyala lilin, cahaya senter atau flashbulb. Semua sumber cahaya tersebut bisa kita manfaatkan secara terpisah atau kita manfaatkan semua.

Tentu saja setiap sumber cahaya memiliki karakter yang berbeda-beda. Flash elektronik seperti yang biasa digunakan fotografer pada umumnya, memiliki karakter yang keras dan durasi penyinaran yang sangat pendek. Hasilnya bisa kita bayangkan, obyek akan menjadi freeze dan kontras gambar akan menjadi tinggi. Flash elektronik memiliki temperatur warna lebih kurang 6000 derajat Kelvin. Pada setting White Balance (WB) daylight, kita akan mendapatkan efek kebiruan.

Mengkombinasikan cahaya dari lampu karbit sebagai mainlight dan elektronik flash untuk mendapatkan efek backlight

Penerangan berbahan bakar karbit dewasa ini semakin jarang digunakan. Selain tidak efisien dan relatif lebih mahal, penerangan jenis ini dituding oleh sebagian kalangan tidak konservatif. Beberapa kalangan meyakini, penerangan jenis ini berpotensi menaikkan temperatur ruang, menimbulkan polutan sisa pembakaran dan membuat hidung anda tak ubahnya seperti knalpot kendaraan bermotor. Untuk keperluan fotografi, saya pribadi menyukai jenis pencahayaan ini. Warna yang dihasilkan memberi kesan hangat dan mampu menyinari lorong goa lebih merata dibandingkan flash elekronik. Penerangan karbit memiliki temperatur warna berkisar 2400 derajat Kelvin, sehingga jika tidak hati-hati gambar anda akan didominasi warna kuning – merah.

Menggunakan flash elektronik tunggal sebagai cahaya utama

Cahaya lilin nyaris memberikan efek yang sama dengan efek penerangan karbit. Temperatur warna lebih rendah yang dimiliki lilin – sekitar 1400 derajat kelvin – akan memberikan efek merah hingga keemasan. Dalam kondisi tertentu, lilin tidak mampu menyala dengan baik di dalam goa, terutama ketika kita hendak memotret di lorong dengan kondisi oksigen yang minim. Nyala api yang cenderung tidak stabil juga akan menyulitkan anda memperoleh exposure yang tepat. Cahaya lilin jarang digunakan dalam pemotretan goa.

Available lighting dari mulut goa dipadukan dengan flash elektronik

Merekam lorong goa yang cukup lebar dengan menggunakan cahaya senter

Flashbulb merupakan sumber cahaya terbaik untuk fotografi goa. Selain memiliki kekuatan pancar yang tinggi (10.000 – 140.000 lumens), flashbulb memiliki durasi pancar yang lama dengan karakter cahaya mendekati cahaya matahari (temperatur warna 3500 – 5400 derajat Kelvin). Kelebihan ini memudahkan fotografer untuk menerapkan teknik-teknik fotografi seperti membuat efek motion pada aliran air. Fotografer juga lebih leluasa merekam lorong-lorong yang lebar. Kendalanya adalah selain mahal, flashbulb tidak lagi bisa didapatkan di Indonesia. Sumber cahaya yang bisa mendekati flashbulb adalah cahaya senter dengan kekuatan pancar/lumens yang tinggi. (Teks & Foto : A.B. Rodhial Falah)

Lubang Itu Bernama Luweng Ombo

Kami berjalan berputar-putar menembus gelapnya malam. GPS handheld yang menjadi pemandu kami satu-satunya seolah tak berdaya membimbing kami menemukan titik tujuan, sebuah lubang yang menjadi pintu masuk ke lorong bawah tanah. Jalan setapak yang kami ikuti selalu tiba-tiba lenyap ditelan rimbunnya semak dan terjalnya lembah. Waktu menunjukkan pukul 18.45 WIB ketika akhirnya kami putuskan untuk beristirahat sejenak, sekedar menyeka keringat dan membasahi kerongkongan yang sudah mulai mengering.

Malam hari selalu merupakan waktu  yang buruk untuk memulai perjalanan dan melakukan orientasi medan di daerah perbukitan kapur, terutama ketika hendak menjelajahi goa baru yang belum pernah didatangi sebelumnya. Keterbatasan jarak pandang menjadi kendala yang cukup membuat tim mengerutkan kening meski telah membekali diri dengan peralatan navigasi lengkap. Namun, malam hari merupakan waktu yang cukup kompromis bagi penelusur goa dengan para penghuni goa semisal kelelawar, setidaknya kelelawar penghuni goa sedang pergi keluar mencari makan hingga menjelang pagi.

Penelusur menggunakan seperangkat alat Single Rope Technique untuk menuruni sumuran vertikal

Hari itu kami terlambat memulai perjalanan, mulai dari menunggu lengkapnya personil tim hingga kesulitan mencari basecamp karena kesalahan informasi yang kami terima sejak awal. Setelah berkali-kali bertanya pada penduduk setempat, akhirnya rumah Pak Saguh yang menjadi tujuan basecamp kami temukan. Setelah berbicang sejenak dengan pemilik rumah, kami segera berbenah menyiapkan diri  untuk perjalanan sebenarnya. Hari menjelang magrib ketika kaki kami melangkah keluar basecamp.

“Sebaiknya tim kita bagi dua, dua orang menjaga perbekalan dan dua lagi bertugas mencari lokasi mulut goa”, kata saya pada ketiga rekan yang terlihat lelah karena masing-masing dari kami harus memanggul beban nyaris 20 kilogram dan berjalan naik turun bukit menembus lebatnya semak. Usul saya disetujui, Irfan dan Galang segera berangkat melanjutkan pencarian mulut goa tanpa beban, sementara saya dan Amar bertugas menjaga perbekalan. Selang 40 menit kemudian tim Irfan memberikan kabar melalui Walkie Talkie mulut Luweng Ombo telah ketemu, saya dan Amar bergegas mengangkut semua perbekalan menuju lokasi dengan dipandu tanda senter dari Irfan.

Mulut Luweng Ombo terletak di lereng sebuah bukit kapur. Jika tidak berputar-putar sebenarnya hanya membutuhkan 30 menit berjalan kaki dari kampung terdekat. Berupa lubang tegak dengan diameter 10 meteran yang terbentuk karena proses runtuhan. Untuk mengetahui berapa kedalaman luweng ini, kami melemparkan batu kedalamnya dan menghitung berapa detik batu yang kami lempar tadi membentur dasar goa. Dengan perhitungan sederhana kami memperkirakan Luweng Ombo memiliki kedalaman sekitar 20 meteran untuk pitch pertama. Kami berharap di bawahnya masih ada pitch-pitch berikutnya. Sungguh beruntung jika kami bisa menemukan sebuah sistem sungai bawah tanah. semoga….

Amar dibantu Galang sebagai asisten rigging segera memasang tambatan tali. Karakter batuan yang lepas-lepas membuat proses rigging memakan waktu yang cukup lama. “Rope Free…!!!” teriak Amar ketika ia sudah terbebas dari tali dan berlindung di sebuah ceruk di dasar sebuah teras. Batuan di goa ini mudah sekali rontok. terbukti ketika Galang turun berikutnya, serangkaian batu berjatuhan, suaranya berdentum menimbulkan gema yang cukup menciutkan nyali. Sementara saya dan Irfan sudah mulai sibuk mengambil data pengukuran untuk membuat peta goa. Waktu menunjukkan pukul 22.15 WIB ketika giliran saya tiba untuk descending menuruni goa.

Teras yang tempat berpijak kami ternyata merupakan bagian landai dari lantai goa yang miring lebih dari 45 derajat. Pengalaman saya mengatakan bahwa goa ini tidak akan memiliki lorong panjang. Tidak ada lagi gema atau fluktuasi udara yang saya rasakan setelah beberapa saat berada di teras. Namun kami perlu sekali lagi memasang tali untuk membuktikan apakah dugaan saya benar tentang goa ini. Maka satu persatu kami pun menuruni lereng terjal di depan kami, sambil masih terus berharap menemukan lorong berikutnya. Sesampai di ujung lantai pertama goa, ternyata kami masih harus menuruni sumuran vertikal lagi, namun hanya sedalam 5 meter. Dan benar, ternyata dasar sumuran ini adalah akhir dari perjalanan kami hari ini.

Waktu menunjukkan pukul 24.05 WIB, artinya kemungkinan besar kami akan menginap di dalam goa. Selain rasa mengantuk yang sudah menyerang, tubuh kami sudah terlalu lelah untuk kembali ke permukaan. Sambil menunggu kopi tersaji, saya menyempatkan diri memotret sepasang tulang yang tergolek diujung lorong. Seluruhnya telah terbalut mineral kalsit, namun masih bisa kami pastikan itu adalah sepasang tulang kaki manusia. Entah punya siapa, bisa jadi pencari walet yang terperosok atau orang lain. Di dasar goa, kami menjumpai batang bambu panjang yang dipasangi bilah-bilah sebagai pijakan kaki. Hmm…rupanya kami bukan orang pertama yang mengunjungi goa ini. Tentu saja hanya pencari walet yang memiliki nyali sebesar itu, menuruni lubang vertikal sedalam 30 meteran dengan tangga bambu tunggal yang disambung-sambung.

Di dasar goa, vegetasi cukup lebat. mengingatkan kami pada Goa Jomblang atau Luweng Ombo di Pacitan, namun Luweng Ombo yang kami turuni kali ini berukuran jauh lebih kecil dan tidak terhubung dengan lorong lain sebagaimana Goa Jomblang dan Luweng Ombo Pacitan. Menjelang dinihari kami merebahkan badan dan tertidur pulas, menunggu esok pagi untuk kembali ke permukaan.

(Teks dan Foto : A.B. Rodhial Falah, Tim Penelusur Goa : Irfanianto, Galang Hanindito, Amar – Investigasi Speleologi – Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta, Desember 2011)

MENGENAL FUNGSI KAWASAN KARST DAN UPAYA PERLINDUNGANNYA

(Makalah ini disampaikan oleh A.B. Rodhial Falah & Akhmad Zona Adiardi – Acintyacunyata Speleological Club dalam Kemah Konservasi BKSDA Propinsi Yogyakarta 26 – 27 November 2011)

Abstract :

Kawasan Karst merupakan ekosistem yang terbentuk dalam kurun waktu ribuan tahun, tersusun atas batuan karbonat (batukapur/batugamping) yang mengalami proses pelarutan sedemikian rupa hingga membentuk kenampakan morfologi dan tatanan hidrologi yang unik dan khas. Indonesia memiliki wilayah karst seluas 154.000 km persegi yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Salah satunya terletak di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah dikenal secara internasional sebagai Kawasan Karst Gunungsewu. Kawasan Karst Gunungsewu membentang dari sebelah timur Tinggian Imogiri hingga Kabupaten Pacitan bagian barat dengan luas mencapai 13.000 kilometer persegi. Karst Gunungsewu memiliki potensi yang luar biasa bagi penunjang kehidupan manusia. Berdasarkan sifat fisiknya, kawasan karst memiliki fungsi utama sebagai akuifer air yang memenuhi air baku bagi ratusan ribu masyarakat yang hidup di dalamnya, kawasan ini juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem regional. Namun demikian, kawasan karst merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap perubahan. Aktivitas manusia menjadi ancaman terbesar terhadap kelestarian fungsi ekologi karst. Hilangnya fungsi ekologi karst merupakan bencana bagi kehidupan manusia yang mustahil untuk dihindarkan.

Keywords : Karst, Karst Gunungsewu, Fungsi Ekologi Karst, Konservasi Karst

Asal istilah “karst” dapat dilacak ulang pada masa Pre Indo-European, di mana karst merupakan akar kata dari karra/garrayang berarti batu (Gams 1973a, 1991a, 2003; Kranj 2001a dalam Ford & William, 2007). Istilah ini merupakan kata jadian yang banyak ditemukan di wilayah Eropa dan Timur Tengah untuk menunjuk suatu daerah di perbatasan Slovenia – Italia, yaitu Dinaric Karst.

Di Slovenia, istilah Karramengalami evolusi linguistik menjadi kars/kras yang bermakna daerah berbatu dan tandus. Pada akhir abad-18 hingga pertengahan abad 19, The Geographical & Geological Schooldi Vienna selalu menggunakan istilah kars/kras untuk menamakan daerah dengan “fenomena karst” dan berhasil meyakinkan dunia internasional untuk menggunakan istilah karst sebagai istilah ilmiah untuk menamakan daerah yang memiliki fenemina khas hingga sekarang.

Karst saat ini didefinisikan sebagai daerah yang memiliki bentang alam dan pola hidrologi khusus yang terbentuk dari kombinasi sifat batuan yang memiliki tingkat kelarutan tinggi serta porositas sekunder yang berkembang dengan baik (Ford & William, 2007). Bentang alam dan pola hidrologi khusus tersebut antara lain dicirikan dengan keterdapatan goa-goa, cekungan-cekungan tertutup, pola aliran celah, kenampakan jejak aliran purba (flute rock outcrops) dan kelimpahan mata air.

Salah satu faktor yang paling banyak menarik perhatian para ahli adalah keberadaan goa pada daerah karst. Goa karst merupakan laboratorium yang menyimpan berbagai informasi berharga untuk kegiatan maupun pekerjaan ilmiah di bawah permukaan daerah karst.

Kawasan Karst yang dimiliki oleh Kabupaten Gunungkidul (Karst Gunungsewu) merupakan satu-satunya kawasan karst di Indonesia yang paling lengkap diteliti oleh para ahli baik dari dalam maupun luar negeri. Penyelidikan Karst Gunungsewu diawali oleh Lehman pada awal abad 20, yaitu dengan memperkenalkan tipe karst yang didominasi bentuk kerucut (conical hill). Penyelidikan ini kemudian dilanjutkan oleh Bothe (1929) dan Bemmelen (1949).

Secara umum karst memiliki dua aspek kajian, yaitu exokarst(karst permukaan) dan endokarst(karst bawah permukaan). Penyelidikan ilmiah yang dilakukan oleh Lehman, Bothe dan Bemmelen di kawasan Karst Wonosari baru menyentuh aspek-aspek exokarst, mengenai tatanan geologi yang merupakan bagian kecil dari kajian tentang Pegunungan Selatan. Kajian tentang endokarstsendiri baru dilakukan pada tahun 1983 oleh tim peneliti yang dipimpin Sir MacDonald, tergabung dalam British Cave And Research Assosiation(BCRA) dalam rangka kerjasama Departemen Pekerjaan Umum RI dengan Biro Kerjasama Luar Negeri Kerajaan Inggris.

Continue reading

Mengintip Wisata Goa di Cerme

Salah satu lokasi wisata goa yang terbuka untuk kalangan umum dan paling mudah dicapai adalah Goa Cerme yang terletak di Imogiri, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Saya tertarik pada goa ini karena bagi saya Goa Cerme merupakan salah satu goa wisata yang tidak “salah urus” seperti saudara-saudaranya yang lain. Meski tentu saja masih ada kekurangan yang perlu dibenahi untuk mencapai nilai delapan dari skala sepuluh.

Rangkaian ornamen dari jenis flowstone menjadi hiasan yang menyejukkan sepanjang menelusuri lorong Goa Cerme

Aneka ragam ornamen Goa Cerme

Dari beberapa goa wisata yang pernah saya kunjungi, Goa Cerme paling sedikit mengalami perombakan fisik. Sebagaimana kita tahu, sudah hal jamak di negara ini jika pengelola wisata goa suka memoles sedemikian rupa perwajahan goa yang bersangkutan. Ibarat perempuan bersolek, pengelola goa rata-rata suka memakaikan bedak setebal satu inchi di wajah, gincu yang menyapu hampir menyentuh dagu, maskara yang melebihi kelopak mata dan seterusnya. Anda pasti bisa membayangkan seperti apa wajah perempuan yang didandani sedemikian rupa bukan? cantik pun pasti tidak.

Di dalam Goa Cerme kita tidak akan menjumpai pagar stainless, tidak ada lampu-lampu yang memicu tumbuhnya lumut di ornamen goa, tidak ada jalan yang terbuat dari beton. Kita juga tidak akan menjumpai beraneka patung-patung atau meja kursi yang terbuat dari semen. Goa Cerme menyuguhkan keindahan alami beraneka ragam ornamen goa dari jenis flowstone dan dripstone. Di dalam goa, anda bisa bernafas dengan lega…karena sirkulasi udara goa ini terjaga secara alami (kecuali lorong yang terdapat tanda dilarang masuk). Hal ini tentu tidak akan terjadi jika mulut Goa Cerme di-rolling door seperti salah satu saudaranya di Jawa Timur.

Ornamen Goa Cerme sebagian besar mengalami pengotoran oleh jelaga dari obor yang beberapa waktu lalu sering digunakan oleh pemandu maupun pengunjung.

Menelusuri goa ini lumayan menyenangkan, karena pengunjung akan diperkenalkan tahapan dasar menelusuri goa dalam arti sebenarnya. Berjalan biasa, merangkak, setengah merayap, sedikit climbing untuk melintasi air terjun dan semua dilakukan dalam kondisi basah kuyup oleh air sungai bawah tanah yang kedalamannya bisa mencapai dada orang dewasa. Jika beruntung pengunjung bisa berjumpai dengan Moa (semacam belut bertelinga) di dalamnya. Decit kelelawar berbadan kecil dari jenis microchiroptera masih terdengar nyaring di beberapa bagian lorong.

Sayangnya segala kealamian tersebut belum diimbangi dengan pembekalan pengetahuan tentang goa yang memadai bagi pemandu-pemandunya. Selama tugas memandu tamu, sebagian besar yang diinformasikan oleh pemandu adalah hal-hal yang berbau mistis, belum dilengkapi dengan informasi-informasi ilmiah tentang goa. Perlengkapan penelusuran juga masih tergolong jauh dari memenuhi standart keselamatan.

Rute penelusuran goa yang cukup bervariasi menyuguhkan keasyikan tersendiri bagi pengunjung

Jika Pemerintah setempat serius mengelola Goa Cerme, saya pikir tidak terlalu sulit. Di Yogyakarta terdapat segudang kelompok penelusur goa yang akan dengan senang hati membagikan pengetahuannya tentang goa dari sisi ilmiah, baik yang tergabung di Mahasiswa Pecinta Alam di kampus-kampus maupun kelompok independen lain. Peralatan penunjang keselamatan bagi pemandu dan pengunjung tentunya bukan suatu hal yang sulit untuk dipenuhi oleh Pemerintah setempat. Sangat bertolak belakang dengan beban yang ditanggung oleh para pemandu wisata Goa Cerme dalam memenuhi target setoran setiap bulan. (Teks & Foto : A.B. Rodhial Falah)

(Asisten pemotretan dalam artikel ini : Akhmad Zona Adiardi, Mufti Subarkah, Moch. Asril, Niko Oktatisa – Acintyacunyata Speleological Club Yogyakarta)

Wisata Mandiri Goa Pindul

Jika anda penelusur goa tulen, mungkin agak memicingkan mata ketika mendengar istilah “cave tubing“. Ya istilah ini memang populer baru-baru ini, mengacu pada sebuah kegiatan wisata menelusuri sungai bawah tanah dengan menggunakan ban dalam bekas. Barangkali istilah cave tubing dipopulerkan oleh sebuah biro perjalanan wisata dari Kota Belize, sebuah negara kecil di pesisir timur Amerika Tengah yang berbatasan dengan Meksiko (dulu bernama Honduras Britania), yang menawarkan paket wisata menjelajahi sungai bawah tanah (goa) dengan menggunakan rangkaian ban dalam bekas.

Ban bekas menjadi alat utama dalam kegiatan cave tubing seperti yang digunakan di Goa Pindul, Karangmojo, Gunungkidul.

Entah siapa yang membawanya, cave tubing kemudian mulai terdengar bergeliat di Gunungkidul yang memiliki banyak sungai bawah tanah awal 2007 lalu. Saya baru mencoba aktivitas ini awal 2011, ketika suatu hari mengunjungi Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul. Namanya Goa Pindul, satu bagian dari sebuah sistem sungai bawah tanah yang menembus beberapa bukit kapur di kawasan Karst Gunungkidul. Hebatnya, wisata ini murni dihidupkan oleh warga setempat, dikemas dalam sebuah paket perjalanan yang menyenangkan lengkap dengan suguhan-suguhan khas pedesaan.

Mengawali penelusuran dengan posisi duduk di atas ban bekas awalnya cukup merepotkan, karena saya harus membawa sendiri perlengkapan fotografi. Arus sungai yang relatif tenang mengharuskan saya mengayuh dengan kedua kaki, sementara tangan kanan memegang kamera dan tangan kiri memegang lampu kilat. Penyangga kaki tiga saya letakkan begitu saja dipangkuan. Saya iri melihat anggota rombongan lain yang dengan tenang bisa melaju dengan baik, sementara saya harus berjuang keras agar laju “bahtera nuh” saya tetap berada di jalur. Namun akhirnya saya bisa tersenyum, setelah menemukan teknik terbaik mengendarai bahtera bulat tersebut.

Dari sisi keindahan, Goa Pindul sebenarnya biasa saja, bahkan jika boleh menilai goa ini miskin ornamen. Tidak banyak yang bisa dilihat, selain beberapa stalaktit yang menggantung di atap goa, sebuah Pilar besar di tengah-tengah perjalanan dan bekas-bekas batas banjir ketika musim hujan datang. Namun atmosfir yang terbangun ketika menjelajah goa dengan cara seperti ini sungguh berbeda, saya diam-diam merasakan nikmatnya wisata unik ini. Teringat masa kecil dulu ketika menghanyutkan diri dengan menggunakan ban bekas di  Bengawan Solo , sungai yang membelah tempat kelahiran saya bersama kawan-kawan.

Ornamen stalaktit menggantung di atap goa, menjadi salah satu obyek menarik selama menelusuri sungai bawah tanah di Goa Pindul.

Lokasi di bawah cave window merupakan salah satu tempat favorit untuk beristrahat dan mengambil beberapa foto, namun potensi runtuhan batu menjadi ancaman yang bisa setiap saat terjadi.

Jarak tempuh cave tubing di Goa Pindul kurang lebih 300 meter, namun percayalah…mengayuh ban seperti teknik yang saya gunakan, rasa pegal di kaki dijamin baru hilang dua hari kemudian. Perjalanan menelusur sungai bawah tanah Goa Pindul berakhir di sebuah pintu keluar yang langsung berhadapan dengan Dam. Beberapa meter sebelum mulut keluar anda bisa melihat atap goa yang bolong (Cave Window) yang terbentuk karena runtuhnya atap goa. Hmm…tak terasa hampir satu jam saya habiskan di Goa Pindul. Sebelum pulang, semangkok bakso panas, teh rosella hangat dan beberapa makanan tradisional disuguhkan oleh warga setempat, mengembalikan kesegaran tubuh sebelum kembali ke Yogyakarta.

Jika anda berminat mencoba cave tubing di Goa Pindul, sebaiknya anda membawa perlengkapan tambahan seperti baju ganti, helm untuk mengamankan kepala anda,  lampu penerangan pribadi dan yang paling penting adalah hindari musim penghujan. Warga setempat telah terorganisasi dengan baik untuk memandu anda berwisata menelusuri sungai bawah tanah Goa Pindul. (Teks & Foto : A.B. Rodhial Falah)

Telaga Ngingrong, Nasibmu Kini

Tiga dekade silam, sekelompok penjelajah goa dari British Cave Researh Assosiation (BCRA) menjadi manusia pertama yang menerangi lorong Goa Ngingrong. Tim yang dipimpin oleh Sir McDonald ini dipandu oleh Sudiyono (alm), seorang staff Proyek Penyediaan Air Baku (PPAB) Daerah Istimewa Yogyakarta. Kala itu, Departemen Pekerjaan Umum RI bekerjasama dengan Kerajaan Inggris untuk memetakan sistem hidrologi di wilayah cekungan Yogyakarta, khususnya wilayah Gunungkidul yang selalu dilanda krisis air setiap musim kemarau. Penjelahan goa tersebut melahirkan dua buah buku tebal berisi laporan tentang kondisi hidrologi Gunungkidul yang seluruhnya berupa sistem sungai bawah tanah.

Salah satu telaga di Goa Ngingrong mengalami penyusutan air secara drastis pada saat musim kemarau menjelang

Perjalanan Sudiyono bersama tim BCRA selama empat tahun ini yang menginspirasi kami untuk menjelajahi kembali Goa Ngingrong, sebuah goa yang terletak perbukitan batugamping Kecamatan Semanu, Gunungkidul. Berbekal informasi yang tertulis dalam laporan, kami pun berkemas, mempersiapkan segala sesuatu dalam perjalanan nanti. Meskipun bertahun-tahun kami telah berlatih teknik tali temali dan teknik penjelahan goa vertikal, kami masih menyempatkan diri untuk berlatih selama enam jam sehari sebelum penjelahan sebenarnya dimulai. Genangan dua telaga di dalam goa telah tergambar dalam benak kami yang tak sabar ingin segera menjumpainya.

Continue reading

Awas Oksigen Tipis!

Penelusur menggunakan bantuan tabung oksigen ketika atmosfir goa tidak lagi menyediakan oksigen yang cukup untuk pernafasan

Tubuh manusia merupakan ciptaan Tuhan yang memiliki daya adaptasi tinggi. Sejak puluhan ribu tahun manusia hadir di bumi, berbagai kondisi ekstrem telah menguji daya adaptasi ini. Tentu saja melalui proses yang cukup panjang hingga beberapa generasi. Tanpa melalui proses panjang, daya adaptasi itu tidak akan bekerja secara maksimal. Salah satunya adalah daya adapatasi manusia di lingkungan dengan kondisi oksigen tipis. Manusia yang biasa hidup di pantai dengan tekanan oksigen rendah, akan mengalami gangguan sistem pernafasan ketika tiba-tiba ditempatkan di daerah ketinggian yang bertekanan tinggi. Itulah salah satu alasan pendaki gunung membangun pos-pos pendakian untuk aklimatisasi terhadap kondisi sekitar, terutama ketersediaan oksigen dan tekanan udara.

Kondisi ekstrem kekurangan oksigen sering terjadi dalam aktivitas penjelajahan goa. Beberapa teori tentang bahaya penelusuran goa menyebut kondisi ini sebagai hiperventilasi (meskipun menurut saya lebih tepat disebut sebagai hipoksia). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh asosiasi speleologi di luar negeri menunjuk kadar CO2 berlebihan di atmosfir goa lah penyebab kondisi hiperventilasi ini. Dalam udara normal, kadar CO2 berkisar 0,03 % dan berfingsi sebagai regulator sistem pernafasan tubuh. Konsentrasi CO2 lebih dari 10 % akan menyebabkan gangguan sistem pernafasan yang berujung pada kematian, HANYA DALAM BEBERAPA MENIT saja (Smith, 1997). Dalam dunia industri, kadar CO2 yang diperkenankan untuk bekerja maksimal adalah 0,5 % selama 8 jam (berdasarkan standart Australia).

Atmosfir goa batugamping memiliki kadar CO2 yang berbeda-beda. Ini adalah salah satu ancaman yang harus selalu diwaspadai oleh para penjelajah goa. Selama bertahun-tahun penjelajah goa menggunakan metode sederhana untuk mendeteksi kadar oksigen di dalam goa. Yaitu dengan menggunakan pemantik api, korek gas dan nyala lilin. Metode ini cukup membantu meskipun belum teruji secara ilmiah. Yang perlu dicermati adalah ada perbedaan kemampuan nyala api antara lilin, pemantik api dan korek gas.

Sebuah referensi menyebutkan pemantik api akan menyala normal jika atmosfir goa mengandung 21 – 18 % oksigen, lilin hanya akan menyala normal jika kandungan oksigen diatas 19% sedangkan korek gas dapat menyala normal pada kadar oksigen 15% di atmosfir. Pada kondisi kandungan oksigen 15%, lilin tidak dapat lagi menyala sama sekali, pemantik api akan menyala sebentar lalu mati. korek gas akan benar-benar tidak bisa menyala jika kandungan oksigen 10 % di atmosfir.

Pada kondisi atmosfir hanya mengandung 10% oksigen, manusia normal akan merasa mual dan muntah. Kita akan mengalami koordinasi gerak tubuh yang tidak beraturan, gerakan menjadi kasar dan serampangan. Seringkali kita tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan tubuh kita hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Selanjutnya kita tidak akan mampu berjalan dan kemungkinan hanya mampu merangkak. Terlalu lama dalam kondisi ini akan menyebabkan kerusakan sel otak permanen.

Dampak tingginya kadar CO2 terhadap tubuh manusia bermacam-macam. Kondisi normal adalah ketika atmosfir mengandung 0,03 % CO2. Paru-paru akan mengembang 5% ketika level CO2 di atmosfir naik menjadi 0,5% (nilai ini adalah batas toleransi manusia boleh bekerja selama 8 jam berdasarkan standart industri di Australia). Kehilangan konsentrasi, merasa kepanasan, berkeringat berlebihan, cepat lelah dan lemas akan terjadi ketika kadar CO2 berada pada level 1% di atmosfir goa. Paru-paru mengembang 100 %, mata berkunang-kunang, nafas terengah-engah, sakit kepala terjadi ketika kadar CO2 pada level 3%.

Kadar CO2 mencapai 5% kita akan merasakan nafas terengah-engah semakin parah, sakit kepala parah, merasa lelah yang amat sangat. Terlalu lama dalam kondisi ini akan mengakibatkan kerusakan permanen pada sel-sel otak. Manusia akan mengalami ketidaksadaran dan tewas dalam beberapa menit ketika kadar CO2 di atmosfir naik ke level 6%.

Langkah terbaik ketika kita menghadapi kondisi kekurangan oksigen atau kadar CO2 yang tinggi di dalam goa adalah segera menghentikan aktivitas penelusuran dan keluar secepat mungkin. Jangan percayai korek gas anda, lebih mempercayai nyala lilin atau pemantik api bisa membuat kita lebih bijaksana. Setinggi apapun jam terbang anda di dunia penjelajahan goa, tubuh anda tetap akan mengikuti aturan normal sebagai manusia, yang bergantung pada kebutuhan oksigen. Safety first…then go wild! (teks dan foto oleh Rodhial Falah, berdasarkan referensi  Garry K. Smith, Federasi Speleologi Australia, 1997)

Melepas Hatusaka, Menyakitkan Namun Bijaksana

Menyaksikan tayangan “Mencari Goa Terdalam Di Pulau Seram” yang disiarkan Metro Tv (Sabtu, 10/09/2011) menjadi hiburan tersendiri bagi saya yang sekarang tinggal jauh dari goa. Ada kebanggaan melihat rekan-rekan acintyacunyata speleological club masih bergairah mencari lubang-lubang yang belum/jarang dijamah kelompok lain. Maklumlah, saat ini (jika boleh sedikit berbangga) klub ASC merupakan salah satu dari sedikit kelompok yang masih konsisten mengejar goa-goa perawan, merambah pulau demi pulau di Nusantara, menambah perbendaharaan data base goa di Indonesia.

Dalam tayangan berdurasi 30 menit (plus iklan komersial) itu, kita disuguhi bagaimana sulitnya mengakses goa di Pulau Seram. Gambaran ini sebenarnya bisa terjadi di mana saja, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT atau di belahan bumi mana pun goa selalu tersembunyi jauh dari peradaban manusia. Sayangnya, penelusuran goa Hatusaka (yang diperkirakan menjadi goa vertikal terdalam di Indonesia saat ini) berakhir ketika air bah tiba-tiba datang karena hujan yang mengguyur di permukaan. Sayangnya lagi, kita terlalu banyak disuguhi gambar-gambar dengan lensa standart, sehingga kita tidak bisa dengan utuh mengatahui bagaimana proses explorasi tersebut terhenti.

Saya yakin, menghentikan penelusuran Goa Hatusaka itu sangat menyakitkan bagi tim. Perjuangan menempuh ratusan kilometer dari Yogyakarta untuk menjadi tim Indonesia pertama yang menjejakkan kaki di dasar Goa Hatusaka pasti merupakan impian semua penjelajah goa sejati. Kenyataannya alam memang tidak dapat dilawan. Menghentikan segala aktivitas di goa dan menarik seluruh tim keluar ketika banjir datang adalah suatu hal yang bijaksana. Sekali lagi salut untuk rekan-rekan Ekspedisi Seram.

11 tahun silam, saya pernah merasakan dahsyatnya banjir di dalam goa. Seperti berada dalam hanggar pesawat saat mesin jet dihidupkan. Segalanya berjalan serba cepat dan penuh kepanikan. Air bah datang berwarna kecoklatan membawa batu dan kayu-kayu. Saya masih ingat bagaimana aceto, rangkaian pemantik nyala api yang tertanam kuat di helm petzl seorang teman jebol dihajar batu sebesar kepala orang dewasa. Ya…saat itu saya dan tiga orang rekan terpaksa bergantung bersamaan pada sebuah tali 11 milimeter, berusaha menyelamatkan diri agar tidak terseret arus air.

Kejadian ini berlangsung di goa vertikal yang “hanya” berkedalaman 18 meteran. Saya tidak mampu membayangkan jika hal itu terjadi di Hatusaka, konon goa dengan kedalaman 400 meter di bawah tanah.  Penelusuran goa membutuhkan keberanian, bukan cuma untuk menjelajahi lorong gelap yang mengerikan, namun juga harus berani untuk menarik diri beserta seluruh tim untuk menghindari malapetaka yang lebih buruk.  Sekali lagi selamat dan sukses untuk seluruh ekspedisi Speleologi Seram. Kapan-kapan katong kesana lae…!!!

Salam Speleo!